Opini Sara Sagi Terbaru

Merubah Pola Untuk Meraih Kemajuan

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA[*]

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul Lamban : Bukti Rendahnya Peradabankami telah membahas bahwa lamban itu adalah masalah budaya yang bukan merupakan takdir dari Tuhan, karena itu kita semua bisa merubahnya dengan syarat semua kita harus mengetahui bahwa kepatuhan terhadap waktu itu penting dan mereka yang tidak patuh kepada waktu biarkan masa depan mereka menjadi takdir mereka.

Kasus yang paling kecil telah kami gambarkan kalau selama ini semua orang memikirkan orang-orang yang lambat dan tidak tepat waktu, mereka ditunggu seolah pekerjaan atau kegiatan tidak bisa mulai tanpa kehadirannya. Padahal banyak orang yang hadir lebih cepat dari waktu yang telah disepakati, sehingga pola pikir yang selalu memikirkan mereka yang terlambat membuat mereka yang tepat waktu menjadi korban dari pola pikir ini. Demikian juga dengan pendidikan, dimana pendidikan kita di Indonesia selalu memperhatikan dan meikirkan mereka yang malas belajar dan mereka yang tidak mampu mengikuti pelajaran. Pihak sekulah atau pengambil kebijakan selalu berupayan berpikir dan meluangkan waktu sangat banyak biar mereka yang malas dan tidak mampu mau dan mampu mengikuti pelajaran, dan mereka yang mampu dan mempunyai prestasi terbiarkan.

Kalaulah pola ini dibalik dengan melebihkan perhatian kepada mereka yang tepat waktu, rajin dan mempunyai kemampuan yang lebih maka kita yakin kemajuan akan lebih cepat dapat diraih. Jika semua pengelola acara memulai kegiatan dengan berlandaskan pada waktu yang telah disepakati tentu tidak ada waktu yang rugi dan juga tidak ada orang yang merasa tidak dihargai karena keterlambatan orang yang tidak bisa menghargai waktu. Demikian juga dengan pelaksanaan sistem pembelajaran yang selama ini terlalu memperhatikan mereka yang lambat, tidak mau dan tidak mempunyai kemampuan akhirnya laju pendidikan sangat lamban, karena itu sulit sekali mencari orang yang sesuai dengan standar dan cita-cita pendidikan. Sebenarnya bukan tidak ada orang yang mampu mencapai tujuan pendidkan dan bukan tidak ada juga yang sanggup memenuhi standar yang dibuat asal kita mulai menerapkan dengan cara memperhatikan lebih kepada mereka yang mempunyai kelebihan dan bukan melebihkan perhatian kepada mereka yang kurang.

Ini adalah pemikiran yang berorientasi ke depan dengan tidak mengabaikan apa yang berada di belakang, hanya saja perhatian kebelakang tida lebih besar dari pada kebelangan atau bahkan tidak boleh sama kerena masa depan lebih penting daripada masa lalu. Kalau kita mau menganalisa kenapa perkembangan sangat lamban terjadi bahkan seolah pergerakan menuju ke arah yang lebih maju tidak pernah beranjak tidak lain adalah disebabkan perhatian kebelakang melebihi porsi perhatian kedepan. Berilah penghargaan kepada mereka yang mampu berlari kencang untuk mencapai garis finis dengan tidak harus menunggu mereka yang tidak sanggup berlari sampai ke tujuan. Karena kita percaya mereka yang lambat dan tidak sanggup berlari kencang juga akan sampai ke tujuan kendati dalam waktu yang lebih lama.

Akibat dari pola yang diambil tentu banyak orang yang marah karena mereka yang marah itu adalah orang-orang yang sebenarnya tidak sanggup atau malah tidak mau ikut berubah ke arah yang lebih baik, mereka yang marah tersebut juga sebenarnya mereka yang menikmati keadaan dan telah merasa puas dengan kondisi yang ada, mereka ingin hidup santai tanpa beban padahal persoalan datang silih berganti melebihi kecepatan jarum jam yang ada di tangan mereka.

Kita semua harus tau terlebih lagi mereka yang mempunyai kekuasaan bahwa zaman sekarang adalah era modern atau era globalisasi, di mana kehidupan manusia tidak lagi  memiliki batas dan semua orang tidak mampu memberi batas.  Kalau kita ingin bersaing dengan mereka yang labih maju maka kita harus mendorong mereka yang mempunyai kemampuan berdiri di barisan terdepan, karena kita percaya kalau di negara yang maju juga mempunyai prinsip bahwa mereka yang bisa membawa kemajuan adalah mereka yang mampu berdiri di depan dan menempatkan mereka yang tidak mampu di barisan belakang. Artinya bukanlah kalau kita katakan suatu negara itu maju berarti semua orangnya berpikiran maju dan tidak ada orang yang berpikirnya lamban, tetapi kemajuan itu lebih ditunjukkan oleh terdepannya orang yang berpikiran maju.

Untuk menyahuti pola pikir yang kami kemukan di atas, maka para pemimpin harus menjadikan dirinya sebagai orang yang memfasilitasi mereka yang mempunyai kemampuan untuk menjadikan suatu daerah menuju kemajuan ke arah modern, dengan tidak mengaharuskan atau memaksakan diri sebagai orang yang mampu memikirkan terjadinya kemajuan, terlebih lagi tidak boleh  menganggap mereka yang mampu sebagai saingan sehingga kreatifitas mereka yang memiliki kemampuan selalu terhambat dan akan dijadikan oleh orang lain sebagai alasan dan penyebab lambannya terjadi perubahan.



[*] Dosen Fakultas Syari’ah Dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments