Keber Ari Gayo Sosial Budaya Sosok Terbaru

Perjuangan Perempuan Desa Delung Tue “Marlina” Meraih Mimpi

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq

Marlina saat mempertahankan disertasinya
Marlina saat mempertahankan disertasinya

LAHIR dan dibesarkan di lingkungan keluarga petani yang tinggal di perdesaan, bukanlah halangan bagi seseorang untuk meraih “mimpi” menggapai pendidikan sampai jenjang tertinggi. Meski tidak mudah dan butuh perjuangan berat unuk mencapainya, tapi semangat pantang menyerah yang tetap menggelora, bisa menjadi sumber kekuatan baginya untuk mewujudkan mimpinya itu, dan inilah yang telah ditunjukkan oleh seorang perempuan desa dari Dataran Tinggi Gayo.

Ketika dilahirkan pada 4 Oktober 1969 di desa Delung Tue, sebuah desa kecil yang terletak di kabupaten Bener Meriah, kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani itu memberinya nama Marlina, sebuah nama yang cukup “manis” untuk seorang anak perempuan. Marlina kecil kemudian tumbuh dilingkungan petani desa yang sehari-hari bercengkerama dengan para petani yang membudidayakan kopi, cabe, tomat, kentang dan komoditi pertanian lainnya. Bukan tidak tertarik dengan dunia pertanian yang telah membesarkannya, tapi Marlina punya “mimpi” lain, yaitu menjadi orang berpendidikan, tidak seperti kebanyakan perempuan di desanya, itulah sebabnya dia begitu bersemangat untuk belajar darli tingkat paling bawah, padahal untuk bisa bersekolah, dia harus keluar ke desa tetangga, karena di desanya waktu itu belum ada sekolah.

Marlina menyelesaikan pendidikan dasarnya pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kenawat Redelong pada tahun 1983, kemudian dia melanjutkan pendidikan SLTPnya pada Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Simpang Tiga dan lulus pada tahun 1986. Tamat dari MTsN, mau tidak mau, Marlina harus melanjutkan sekolahnya ke kota Takengon, sekitar 30 kilometer dari desanya, karena sejak kecil memang sudah dididik dalam lingkungan keluarga yang agamis, diapun memilih pendidikan menegah atasnya pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Takengon dan dia berhasil menyelesaikannya pada tahun 1989.

Bagi perempuan desa lainnya, mungkin tamat SLTA sudah cukup sebagai bekal untuk mengarungi hidup selanjutnya, karena toh seorang perempuan sesuai kodratnya akan menjadi seorang isteri dan ibu rumah tangga. Tapi itu tidak berlaku bagi Marlina, dia ingin menunjukkan bahwa dia mampu berdiri sejajar dengan kaum laki-laki di bidang pendidikan. Diapun kemudian melanjutkan kuliah pada Fakultas Syariah IAIN Arraniry Banda Aceh, dan gelar Sarjana berhasil dia raih pada tahun 1995. Kebetulan waktu itu di Takengon sudah berdiri Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Gajah Putih dan masih membutuhkan tenaga dosen, Marlina pun kemudian bergabung menjadi civitas akademika pada perguruan tinggi tersebut, dan sambil mengajar diapun mengambil Akta-IV sebagai syarat agar dia bisa menjadi dosen penuh.

Marlina bersama Guru Besar UNM usai meraih gelar doktornya
Marlina bersama Guru Besar UNM usai meraih gelar doktornya

Melihat potensi yang begitu besar pada diri Marlina, pihak STAI Gajah Putihpun kemudian memberi kesempatan baginya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pasca sarjana. Sebenarnya dia ingin mengambil pendidikan S-2nya di Pulau Jawa, tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya dia memilih Universitas Negeri Padang sebagai tempat untuk menggapai mimpinya, dan hanya butuh waktu sekitar dua tahun untuk meraih gelar S-2nya pada tahun 2006. Usai meraih gelar pasca sarjananya, dia pun kembali ke “habitat”nya di STAI Gajah Putih. Sambil terus menjalani pengabdiannya sebagai dosen di perguruan tinggi itu, Marlina sebenarnya masih punya “mimpi” untuk bisa melanjutkan pendidiakn ke jenjang doktoral, meski dia sadar, tidak mudah untuk mewujudkan keinginannya itu.

Adalah Dr. Almisry, MA, yang waktu itu menjabat sebagai Ketua STAI  Gajah Putih yang selalu memberikan motovasi kepada Marlina. Dia ingin semua dosen di almamaternya memperoleh kesempatan untuk meraih gelar tertinggi, agar keinginan me”negeri:kan STAI Gajah Putih segera terwujud. Almisry sendiri kemudian juga memberi contoh dengan melanjutkan pendidikan S-3nya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan meraih gelar doktornya pada tahun 2013 yang lalu. Misry tidak berangkat sendiri, dia juga mengajak beberapa orang dosen untuk melanjutkan studi S-3, salah seorang diantara para dosen yang “diberangkatkan” itu adalah Marlina.

Karena memang sudah menjadi obsesinya sejak lama, maka Marlina pun menyambut antusias kesempatan itu, dia memilih Universitas Negeri Malang sebagai tempat mewujutkan cita-citanya. Bukan tanpa alasan dia memilih kota Malang sebagai tempat menjalani studi S-3nya, suaminya, Panca Media juga sedang menjalani pendidikan S-3 disana. Suaminya itu pulalah yang selalu memberi spirit dan motivasi agar Marlina mampu menyelesaikan pendidikan doktoralnya,

Tidak mudah memang bagi Marlina untuk mewujudkan mimpinya, selain keterbatasan finansial, dia juga harus berjuang keras agar bisa mengikuti perkuliahan di universitas ternama itu. Memulai kuliahnya pada tahun 2011, seharusnya dia sudah bisa meraih gelar doktornya pada akhir 2013, tapi akibat berbagai kendala, terpaksa dia harus menunda keberhasilannya. Apalagi Almisry yang selama ini menjadi motivatornya, tidak lagi menjabat sebagai Ketua setelah STAI berubah status menjadi STAIN pada tahun 2012 yang lalu. “Keterlambatan” Marlina meneylesaikan studi S-3 itu kemudian menjadi bahan cemoohan dari beberapa temannya di STAIN Gajah Putih, mereka beranggapan bahwa Marlina tidak akan mampu meraih gelar doktornya.

Merasa diremehkan oleh teman-temannya, tidak membuat Marlina patah semangat, bahkan dia seperti mendapat kekuatan baru untuk segera menyelesaikan studinya, apalagi sang suami dan putra utrinya selalu memberi dorongan semangat. Termotivasi oleh orang-orang terdekatnya, Marlina terus berjuang untuk memupus keraguan teman-temannya yang begitu meremehkan kemampuannya. Perjuangan Marlina tidak sia-sia, hari Rabu (4/11/2015) yang lalu, dia berhasil mempertahankan disertasi yang berjudul “Hubungan antara persepsi siswa tentang pelaksanaan metode pembelajaran aktif, motivasi belajar, efiksi diri, kecerdasan emosional dan hasil belajar siswa pad SMK Negeri Kota Malang” dihadapan para guru besar Universitas Negeri Malang  yang menjadi dosen pengujinya. Keberhasilannya mempertahankan disertasi, membuatnya berhak menyandang gelar doktor di bidang Teknologi Pembelajaran  pada perguruan tinggi yang selama ini seakan sudah menjadi “kiblat” bagi kalangan pendidikan di Tanoh Gayo.

Ada kebanggaan bagi Marlina ketika dia mampu menunjukkan kemampuannya untuk menjawab “taruhan” taman-teman yang selama ini meremehkannya. Tapi dibalik kebanggaannya, dia juga masih menyimpan sedikit kesedihan dan kekecewaan, cita-citanya untuk segera kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdikan diri dan berbagi ilmu yang sudah diraihnya dengan susah payah itu harus dia pendam untuk sementara. Dia masih harus menyelesaikan tugas-tugasnya di Malang, selain harus mendampingi suaminya yang saat ini juga sudah bekerja disana.

Sekelumit kisah tentang sosok Marlina, perempuan dari desa Delung Tue, Bener Meriah ini, mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita, bahwa setiap perjuangan akan membuahkan kemenangan, meski untuk mencapai kemenangan itu harus dilalui dengan perjalanan berliku, dicemooh bahkan diremehkan oleh orang lain. Marlina sudah menunjukkan ketegarannya, semua kendala yang yang dia hadapai, justru menjadi tantangan baginya untuk menunjukkan eksistensi sebagai perempuan yang tidak mudah menyerah oleh keadaan, sebuah contoh bagi perempuan-perempuan lainnya bahwa kemauan yang kuat disertai kesungguhan adlah kunci untuk menggapai “mimpi”.[]

(Catatan : Tulisan ini merupakan hasil wawancara penulis via telepon dengan Dr. Marlina)

Comments

comments