Opini Terbaru

Filosofi Merantau “Mahasiswa”

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

“Tatapan masa depan seorang pelajajar/mahasiswa/pemuda ialah menjadi seorang yang sukses, aku meninggakan kampung halaman dan pergi merantau sehingga suatu saat nanti akan ku tatap lagi kampung halamanku dengan indahnya danau laut tawar dengan membawa kesuksesan.”* (Husaini Algayoni, *Catatan di pinggir danau laut tawar yang penuh dengan pesona keindahan).

Disela-sela silaturahim mahasiswa Persatuan Mahasiswa Bener Meriah-Aceh Tengah (PERMATA) UIN Ar-Raniry pada tanggal 25 Oktober 2015 di Pantai Penyu, Lhoknga, pembina Permata memberikan motivasi dahsyat dengan kata-kata yang membuat aliran darah naik untuk terus semangat dalam belajar, yaitu sebuah filosofi dalam marantau; “Beloh ara si rayi, Mewen ara si eweyi”.

Pemahaman penulis dari kata-kata tersebut bahwa kita telah meninggalkan kampung tercinta masing-masing dan keluarga untuk merantau ke daerah orang lain untuk menuntut ilmu, jadi kita pergi maka dalam berpergian itu harus ada tujuan dan mendapat hasil dari tujuan tersebut.

Tujuan pertama kita sebagai mahasiswa dalam merantau ini ialah belajar, belajar dan belajar dikampus sehingga meraih cita-cita yang telah di impikan ketika meninggalkan kampung halaman. Cita-cita merupakan sesuatu yang ingin kita raih dan cita-cita itu harus kita tanamkan dalam hati dengan ikatan yang kuat karena cita-cita apa yang dikatakan dalam buku “Insan Muda Emas” yang berisikan motivasi-motivasi dahsyat menjadi pelajar atau mahasiswa sukses dan bahagia, cita-cita besar ibarat seekor macan yang siap menerkam anda, siap mengejar kemanapun anda pergi. Cita-cita besar ibarat bahan bakar, yang memacu kendaraan untuk terus maju dan melesat lebih cepat dan cita-cita juga ibarat obat: obat penghilang kemalasan, obat penghilang kelemahan, obat penghilang sikap menunda-nunda, obat penghilang rasa takut, obat penghilang segala macam sikap yang melemahkan diri kita. Dan penulis juga menambahkan bahwa dengan cita-cita besar itu kita melangkah menuju kebahagiaan untuk masa depan baik kebahagiaan bersama keluarga besar maupun kebaahagiaan dalam rumah tangga.

Namun untuk meraih cita-cita tersebut bukanlah hal yang mudah, perlu ada niat belajar yang tulus dari hati bukan hanya cinta yang tulus terhadap seorang wanita tapi bagaimana juga tulus terhadap dunia pendidikan. Salah satu untuk meraih cita-cita tersebut ialah dengan memperbanyak membaca buku dari berbagai macam referensi, meringankan langkah ke perpustakaan dan tentunya juga meringankan tangan untuk menulis segala tugas yang diberikan oleh dosen, agar nantinya tujuan awal mahasiswa dalam merantau ini menjadi sarjana yang berintelektual tinggi, mempunyai wawasan yang luas bukan sarjana abal-abalan yang tidak bisa memahami apapun. Karena semua mahasiswa pada akhirnya akan menjadi sarjana, dosen penulis pernah mengatakan bahwa semua mahasiswa akan menjadi sarjana baik dia pekerjaannya hanya tidur di kostnya saja juga bisa menjadi sarjana; yang tidak pernah membuat tugas atau tugasnya hanya di copy paste saja juga bisa menjadi sarjana apalagi yang benar-benar dia tahu tugasnya sebagai mahasiswa juga bisa menjadi sarjana. Namun yang terpenting ialah sarjana yang bagaimana, apakah sarjana yang hanya sekedar sarjana atau sarjana abal-abalan atau sarjana yang benar-benar sarjana. Rektor UIN A-Raniry, Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA selalu bilang kepada mahasiswanya bahwa jangan sampai mahasiswa menajadi generasi yang hilang.

Salah satu tujuan mahasiswa merantau itu ialah menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh sehingga nantinya ketika keluar dari perguruan tinggi dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas mempunyai intelektual yang tinggi dan tentunya akhlak yang mulia serta ilmu yang telah dipelajari dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan buat orang lain.

Di sisi lain kalau tujuan merantu ini tidak tahu apa yang ingin dicapai, maka ia sama saja pulang tanpa membawa bekal ke kampung halamannya atau sia-sia dalam perantauannya, “Gere beteh sana si rayi, Ulak pe gere beteh sana si mayi.”

Penulis menyadari bahwa penulis juga masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam dunia pendidikan oleh karena itu dengan adanya tulisan ini menjadi pemacu untuk terus meraih cita-cita dengan dengan semangat, tetesan keringat terus mengalir dan ayunan langkah kaki tak akan pernah berhenti sampai menemukan titik kesuksesan dan juga bagi kawan-kawan yang masih berada dalam bangku pendidikan semoga tak akan pernah berhenti untuk semangat dalam belajar dalam perantauan ini.

Akhir dari tulisan ini, penulis mencatatat apa yang dikatan oleh Pembina Permata yang sudah menjadi pejabat di Pemerintah Aceh Tengah maupun di Bener Meriah dalam acara Halal Bi Halal Alumni Permata pada tanggal 31 Juli 2014 di Kandepag Aceh Tengah, Pembina Permata tersebut mengatakan “Jika merantau harus siap makan satu kali dalam sehari, kalau makan tiga kali sehari itu bukan merantau namanya”, makna dari pesan ini ialah bahwa kita dalam perantauan ini kita harus siap menghadapi berbagai macam cobaan.

*Penulis: Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *