Opini Terbaru

Santri dan Masa Depan Umat

Oleh: Nurhabibah Batubara, SE*

NurhabibahTANGGAL 22 Oktober 2015 untuk pertama kalinya diperingati hari Santri Nasional. Tanggal  22 Oktober  dipilih sebagai Hari Santri karena tanggal tersebut adalah saat lahirnya Resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Pendiri PBNU, KH. Hasyim Asy’ari.  Tanggal itu merupakan tonggak sejarah lahirnya peristiwa perang pertama pasukan Indonesia, dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang juga pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi nasional Indonesia.

Resolusi jihad ini melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya yang menewaskan Jenderal Mallaby yang saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan.  Hari Santri ini  diharapkan menjadi momentum kebangkitan kaum santri serta bentuk apresiasi yang kongkrit atas peran santri terhadap perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan NKRI.

Kata “Santri” secara spesifik merujuk kepada para pemuda dan pemudi muslim  yang menuntut ilmu di Pesantren.  Merekalah para generasi muda Islam, calon ulama yang menjadi tumpuan dan harapan akan meneruskan estafet membina kaum muslimin, yang juga akan memegang kepemimpinan pada masa yang akan datang.  Oleh karena itu, posisi para santri sangatlah penting dalam menentukan masa depan umat, bangsa dan peradaban yang akan dibangun.

Tantangan Global

Tak bisa dipungkiri, Indonesia telah menjadi sasaran masif kampanye nilai-nilai  global yang berasal dari ide kufur kapitalisme dan dimpor dari Barat. yang disebut sebagai tantangan global adalah persoalan terorisme, perubahan iklim, penanganan bencana dan wabah penyakit menular (Majalah ASEAN edisi 6/ Desember 2014).  Secara khusus isu ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) menjadi komoditas yang dimainkan AS untuk mencegah gerakan kebangkitan Islam yang disebutnya radikal dan anarkis.  AS cukup cerdik untuk menjadikan muslim sekular, muslim liberal dan muslim tradisionalis sebagai mitra AS  dan Barat untuk memerangi “ekstremisme” islam.

Karena itulah, kekhasan seorang Santri yang dididik dalam lingkungan Islam, dan ditanamkan ke dalam dadanya nilai-nilai khas Islam, akan mendapat warna baru, yang bersumber nilai-nilai universal ala AS.  Maka tidak mustahil jika para santri akan mengusung kepribadian yang lahir dari pemahaman global.  Nilai-nilai global ini akan membentuk kepribadian ala Barat, yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang hakiki.  Mereka akan menjadi “muslim moderat” yang dicita-citakan Barat. Muslim moderat yang dimaksud adalah seseorang yang menyebarkan dimensi  budaya demokrasi, menyetujui hak asasi manusia yang diakui secara internasional (termasuk kesetaraan gender dan kebebasan beribadah), menghargai keberagaman,  menerima sumber hukum non-sektarian (selain nash syari’at),  menentang terorisme dan bentuk kekerasan lainnya.

Masa Depan Umat Ada Ditangan Para Santri

Para santri yang belajar di pesantren adalah calon ulama muda pada masa depan.  Mereka akan menjadi rujukan di tengah masyarakat yang akan mengajarkan dan menyebarkan nilai-nilai Islam, yaitu nilai-nilai yang diturunkan Allah SWT sebagai sang pencipta manusia. Mereka menyadari benar bahwa aturan yang layak untuk diterapkan di dalam kehidupan umat manusia adalah aturan yang datang dari sang pencipta manusia itu sendiri. Mereka juga senantiasa mengajak masyarakat agar tunduk dan patuh kepada Allah SWT semata yang dilandasi dengan penuh kesadaran bahwa dirinya adalah hamba Allah, yang wajib berpegang teguh pada aturan Allah dan menegakkannya dalam kehidupan.  Di sisi lain ia yakin bahwa kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupannya di dunia.  Mereka juga akan mendorong setiap insan untuk berjuang menegakkan aturan Allah secara kaffah di muka bumi ini, dengan menegakkan syariah dan Khilafah.

*Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Tinggal di Blang Tampu, Kecamatan Bukit, Bener Meriah

Comments

comments