Free songs
Home / Lensa / Pilkada; Gayo menginginkan Bupati yang seperti apa?

Pilkada; Gayo menginginkan Bupati yang seperti apa?


Oleh : Win Wan Nur*

TAHUN 2017, Pilkada serentak tahap II akan segera dilaksanakan. Di Gayo, meski saat ini sedang didera bencana, banjir dan tanah longsor dimana-mana, hangatnya iklim politik menjelang hajatan besar itu tetap terasa.

Khusus untuk Aceh Tengah, nama-nama calon bupati dan wakilnya sudah mulai beredar. Berpulangnya Iklil Ilyas Leubee, yang digadang-gadang sebagai calon terkuat untuk menduduki posisi bupati Aceh Tengah periode mendatang, membangkitkan kembali semangat para peminat jabatan Bupati yang sebelumnya seolah sudah kehilangan harapan. Beberapa kandidat sudah secara terang-terangan menyatakan kesiapan (beberapa sudah memajang spanduk), beberapa masih bersikap malu-malu tapi mau.

Kalau kita lihat dari nama-nama yang beredar, bakal calon bupati Aceh Tengah tahun ini cukup berwarna, karena berisi figur-figur dari berbagai kalangan. Mulai dari Wakil Bupati, abang Bupati, Sekda, politisi, pengusaha, sampai seniman.

Perdebatan hangat pun hadir menyertai beredarnya nama-nama ini. Berbagai pendapat tentang kemungkinan para figur memenangkan pertarungan dalam pilkada dua tahun mendatang. Dari berbagai pendapat yang beredar ada yang sangat optimis, yang yakin kalau jagonya terpilih, Aceh Tengah akan menjadi lebih baik, sebagian lagi bersikap skeptis yang mempertanyakan keyakinan itu dan paling parah tidak sedikit pula yang bersikap pesimis “sah pe ken Bupati, kami ike gere mujelbang gere mangan”, tapi nanti begitu bupati yang terpilih tak sesuai harapan, dia yang paling kencang protes dan bersuara.

Tapi dari semua perdebatan ini kita belum menyaksikan pertanyaan yang sebenarnya merupakan esensi dari Pilkada, “kenapa kita harus memilih?”. Padahal pertanyaan ini adalah esensi dari hajatan politik lima tahunan ini.

Sebab dalam iklim demokrasi yang sehat, Pilkada merupakan ekspresi dari harapan masyarakat yang menginginkan sebuah perubahan yang nyata bukan hanya sekedar janji belaka, dimana para pemimpin sebelumnya atau yang masih menjabat tidak mampu mengatasinya.

Gayo secara umum dan Aceh Tengah secara khusus, memiliki masalah yang cukup kompleks. seperti masalah pengangguran, sistem pendidikan, Universitas Gajah Putih, ketidakadilan, penyediaan infrastruktur yang tidak merata, tidak stabilnya harga komoditas andalan, bencana alam yang mulai sangat akrab dengan kita, sampai masalah korupsi dan nepotisme yang terus merajarela.

Sudah begitu, dengan semakin berkembangnya kota Takengen, pengelolaan kabupaten Aceh Tengah sendiri seperti terbagi dua dengan fokus yang berbeda.

Di satu sisi ada Takengen dengan berbagai permasalahan khas daerah urban, mulai dari pelayanan air bersih yang buruk, pengelolaan sanitasi yang buruk, listrik yang masih sering mati, pengelolaan sampah sampai pengaturan pasar yang masih belum memuaskan. Di sisi lain, untuk wilayah di luar Takengen, permasalahannya berbeda lagi. Jangankan bicara soal layanan air bersih dan listrik yang byar pet. Kita bicara tentang buruknya infrastruktur, harga kopi yang tidak stabil, sekolah yang tak ada guru, gedung sekolah yang bobrok dan sebagainya. Bahkan untuk wilayah Aceh Tengah yang berhawa panas yang tidak cocok untuk tanaman Kopi, pemerintah bahkan seperti tidak tahu, daerah itu mau diapakan.

Karena itulah sebelum kita bicara lebih jauh siapa yang pantas menjadi bupati Aceh Tengah pada tahun 2017 mendatang. Ada baiknya, kita memahami dan menginventarisir dulu permasalahan yang kita hadapi, kita godok, kita bahas dan perbincangkan.

Baru setelah ada titik terang, nanti kita bisa menilai kesiapan para bakal calon ini untuk mengatasi masalah-masalah itu dan mewujudkan kesejahteraan.

Dari situ nanti kita akan bisa melihat, mana bakal calon bupati dan wakilnya yang memiliki keterampilan untuk menganalisis masalah yang kompleks dan membuat keputusan yang tepat dan didasari pada proses yang logis. Bakal calon bupati dan wakilnya yang juga mengerti visi organisasi dan berperan untuk melihat dan merespon kebutuhan masyarakatnya. Dan yang mana yang cuma bisa mengarang, merangkai kata-kata indah nan normatif, kosong melompong semacam “mengundang kemakmuran dan menghalau kemiskinan”. Kalimat indah yang tak satu manusia pun paham bagaimana cara mengimplementasikannya di dunia nyata.[]

*Pengamat sosial politik

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top