Jurnalis Warga Terbaru

Perbaiki Mutu Kemasan Produk di Aceh

PicsArt_10-03-04.17.40Banda Aceh-LintasGayo.co : Dalam kegiatan pelatihan peningkatan dan pengembangan kapasitas wirausahaan muda, yang dilaksana PD Tidar Aceh kerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM serta Komisi VI DPR RI, beberapa narasumber yang hadir di acara tersebut banyak menyorot tentang lemahnya pengusaha Aceh dalam menambah nilai lebih terhadap produk yang dihasilkan disamping masih lemahnya industri UKM di Aceh punya pemahaman yang baik dan kesadaran untuk meng “packaging” produknya untuk tampil lebih baik dan berdaya saing tinggi dan masih lemahnya keinginan anak muda Aceh terjun menjadi entrepreneur.

Salah seorang peserta Muhammad Fajri yang dihubungi media ini, mengatakan momentum acara ini juga ikut dikemas untuk mensosialisasikan Empat (4) pilar kebangsaan, bagi buku Empat Pilar, dengar pendapat dan penyerapan aspirasi masyarakat oleh tim DPR RI Komisi VI Fadhlullah (Deak Fad) bersama TIDAR Aceh, acara ini di laksanakan di Hotel hijrah Banda Aceh 02/10/2015.

Dedy T. Tabrany, menyatakan, Aceh masih membutuhkan pengusaha sektor usaha riil baru dan terus tumbuh, kita percaya dan yakin usaha usaha baru ini mampu digerakkan oleh kaum muda. Pemuda-pemuda yg berkeinginan kuat menjadi pembisnis pemula, yang dapat disesuaikan dengan hobby-hobby positif mereka dan melihat peluang peluang bisnis disekitar mereka.

“Anak muda itu harus tahan banting, gagal di usaha adalah pintu menuju kejayaan, jadi jangan menyerah adalah kunci menuju pengusaha yang tangguh,” ujar Dedy.

Ditambahkannya juga, anak muda sekarang harus berani “stop” untuk terlalu berpikir untuk mencari kerjaan di sektor formal semisal jadi PNS dan pekerja kantoran lainnya, yang memang sektor itu sulit ditembus, karena porsinya memang kecil, makanya jadi pengusaha adalah jalan terbaik sekalingus membatu pemerintah mengatasi penganguran.

Sementara itu, Mahfudz Y Loethan yang menjadi pembicara lainnya, banyak membahas akan pentingnya produk produk UKM di Aceh mendapat sentuhan “branding” atau kemasan yang bagus dan mempelajari cara pemasaran produknya hingga ke pasar yang lebih besar, misal via internet dengan memanfaatkan cara jual onlineshop yang sekarang lagi booming di Indonesia.

Membranding produk produk UKM di Aceh adalah sebuah keharusan yang harus segera menjadi prioritas kita, begitu banyaknya produk di Aceh masih cukup lemah dari sisi kemasannya, sehingga punya nilai saing rendah menghadapi serbuan produk luar.

“Makanya menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 ini, “branding” pengemasan produk agar berdaya saing tinggi harus disegerakan dan kalau itu bisa diperbaiki dampaknya besar bagi untuk menambah “velue” terhadap produk Aceh,” tutur Mahfudz.

“Kita juga terus mendorong pemerintah Aceh untuk terus peduli yang besar terhadap masalah ini, jangan ada lagi kemasan produk UKM di Aceh packaging dalam plastik buram dan lebel kemasan hasil cetak stensilan dan sablonan, pemerintah harus membantu persoalan ini, biar pendapatan pengusaha UKM naik,” tambahnya.

(JW : Tarmizi A Gani)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *