Sara Sagi Terbaru

Joe Samalanga: “Jempol Aceh” untuk Kodam Iskandar Muda

saman_kodamPENAMPILAN tarian kolaborasi Aceh yang dilakoni prajurit TNI AD Kodam Iskandar Muda bersama beberapa sekolah di Banda Aceh pada upacara peringatan HUT ke-70 RI di Blang Padang, Banda Aceh, Senin, 17 Agustus 2015, patut diapresiasi. Bukan pada tariannya saja, namun lebih dari itu, Kodam telah menjadi “motor” kebangkitan kesenian di Aceh.

Tarian yang melibatkan sekitar 1300 penari itu -selain tari Saman, juga diikutkan tarian rakyat Top Pade, tarian semangat perang dari perempuan Aceh, dan juga tari dari ‘kepulauan’- telah menancapkan rasa haru di dada. Sungguh heroik tari-tari tersebut yang kemudian dikemas dalam semangat perjuangan Republik Indonesia.

Tari massal itu ditonton oleh seluruh pejabat tinggi di Aceh, mulai dari Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar, Gubernur Aceh Zaini Abdullah juga unsur Muspida. Tidak terkecuali seniman yang hadir di lapangan tersebut.

Saya melihat pertunjukan ini lebih sebagai kesungguhan tentara menjadikan budaya lokal  sebagai kekuatan dukungan mereka pada pembangunan. Satu hal inti yang patut menjadi catatan kita semua bahwa pertahanan keamanan yang ditempuh prajurit Kodam Iskandar Muda adalah pertahanan moral dan ke-Aceh-an yang tinggi, malah mengalahkan kesungguhan pemimpin Aceh dalam merawat dan mendukung budaya Aceh yang besar.

Sebelumnya, memperlakukan budaya Aceh secara santun itu juga sudah dilakukan prajurit pada tahun 2010 yang menjadikan tari Saman sebagai seni utamanya. Kala itu, Kodam Iskandar Muda memasukkan Saman dengan melibatkan 3000 personel untuk meraih rekor dunia MURI, dan tentu, berhasil mencapai rekor tertinggi tersebut hingga pada tahun 2014 rekor untuk Saman diraih Pemkab Gayo Lues dengan melibatkan 5057 pesaman dari daerah itu, di dalamnya juga terdapat personel Kodim Gayo Lues.

Tahun 2014 lalu, prajurit Kodam Iskandar Muda kembali menghentak Blang Padang lewat tarian Pulo Aceh, Likok Pulo. Tarian ini menjadi menarik lantaran dianggap seni yang nyaris hilang gara-gara semakin sedikitnya pelaku tarian tersebut.

Dan kegiatan budaya tersebut bukan semata tarian di Blang Padang, Kodam Iskandar Muda juga kerap terlibat di event budaya seperti Festival Krueng Aceh. Dan kemarin dulu mereka lagi-lagi membuat kejutan dengan penampilan tari kolaborasi yang mengambil Saman sebagai view utama dari tarian tersebut. Tarian yang berkisah tentang perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda.

Kita sebagai rakyat Aceh -Rakyat yang memiliki kepedulian seni Aceh- tidak lantas harus merasa malu, tetapi harus tetap disyukuri apabila prajurit sedang menguatkan budaya Aceh di mata dunia. Dan yang pantas membuat kita malu adalah bagaimana sikap dari pemimpin kita memperlakukan budaya Aceh sebenarnya yang notabene harusnya gerakan kesenian bermula dari sana, sebab Aceh dipimpin orang Aceh tulen yang punya wawasan international.

Kerap kali pemimpin kita memperlakukan event budaya sebatas seremonial saja, bukan untuk membangun komunikasi. Inilah kemudian yang menjadikan seni-seni di Aceh identik dengan pemerintah. Seharusnya, perlu dibangun kesadaran pentingnya berkesenian, sebab kesenian di Aceh bagian dari perjuangan, termasuk “Hikayat Prang Sabi” Chik Pante Kulu yang membangun semangat rakyat Aceh berperang melawan Belanda.

Sungguh kita tidak terlalu memahami cara berfikir pemerintah pada kesenian, atau barangkali akibat seni yang menjadi bagian saja dari pariwisata Aceh, sehingga itu tidak penting lagi. Padahal, bila ditelaah lebih jauh, pribahasa lage zat ngon sifeut adalah ungkapan apabila keberadaan ulama dan seniman berimbang, bahkan dalam sejarah Aceh salah satu cikal bakal menjadi ulama besar bermula dengan karya seni dari seniman. Semisal Chik Pante Kulu dan Hamzah Fansuri, yang lahir dari seniman dan menjadi ulama besar.

Zat itu berarti ilmu keagamaan dan sifeut intinya tentang karya yang membentuk perwatakan, di dalamnya mengikuti ajaran agama atau yang dikenal dengan adat. Itulah sekarang yang hilang dari Aceh, cuma tersisa zat semata. Tentu, keadaan ini membutuhkan sikap pemimpin melihat Aceh secara global dan berjiwa besar.

Sekali lagi -tanpa terasa keadaan itu telah mengubah Aceh sebenarnya- dan tentu berpuluh tahun ke depan Aceh berada dengan peradaban baru akibat mental yang dibangun tidak menyertakan budaya sebagai karakter basis yang semestinya berjalan beriringan dengan agama. Untuk ini, saya sangat salut dan “Jempol Aceh” untuk prajurit Kodam Iskandar Muda yang sejak lima tahun ke belakang sangat komit membangunan budaya Aceh. Dan untuk hal tersebut, patut kita pertanyakan pada komitmen Pemerintah Aceh juga, sebesar dan seserius apakah mereka membangun budaya Aceh? Ini penting untuk menjaga Aceh yang berjiwa dan bermoral di masa akan datang.[portalsatu.com]

Penulis adalah praktisi budaya Aceh tinggal di Banda Aceh

Comments

comments