Keber Ari Gayo Lingkungan Sara Sagi Terbaru

Pungut Sampah di Dasar dan Seputaran Danau, Antara Cibiran, Ejekan dan Pujian

Catatan Perjalanan : Darmawan Masri

Mude_007Resah melihat Danau Lut Tawar yang merupakan ikon Kabupaten Aceh Tengah dan daerah Gayo secara umum, berpenghuni Ikan Depik (Rasbora tawarensis) dan mitos Putri Ijo dan Lembide dari tumpukan sampah dan tingginya laju sedimentasi terhadap danau, membuat salah satu club pecinta olahraga Selam di Takengon bernama Gayo Diving Club (GDC) bekerjasama dengan LintasGayo.co melakukan aksi gerakan penyelamatan ekosisten Danau Lut Tawar (DLT).

Gerakan yang dilakukan dengan cara pemungutan sampah di dasar dan seputaran DLT. Minggu 2 Agustus 2015 silam, gerakan ini mulai dilaksanakan. Meski bukan hal pertama dilakukan, setelah sebelumnya pemungutan sampah di dasar DLT juga pernah dilakukan GDC tahun 2013 silam. Hal itu dilakukan sebagai kampanye agar DLT tetap lestari.

Sampah Mengapung di Danau Lut Tawar
Sampah Mengapung di Danau Lut Tawar

Pada hari Minggu awal bulan Agustus itu, anggota GDC bersama LintasGayo.co berangkat menuju Pante Menye, Bintang. Lokasi ini dipilih sebagai lokasi pemungutan sampah. Sejumlah kalangan dan kelompok bersedia menyatakan diri dalam aksi tersebut, Gayo Datsun Club (GDC), tenaga kesehatan dari Puskesmas Bintang, Win Ipak Duta Wisata Aceh Tengah 2015 petugas kebersihan dari Badan LH Kebersihan dan Pertamanan Aceh Tengah serta sejumlah masyarakat lainnya.

Pagi itu, sekira oukul 08.00 wib, saya bersama Pemimpin Redaksi LintasGayo.co, Khalisuddin, ketua Gayo Diving Club, Munawardi dan peselam GDC lainnya Winara serta seorang anak kecil yang merupakan putri dari Pimred LGco, Hafni Safira, berangkat dari basecamp GDC dan POSSI Aceh Tengah, di kawasan dermaga wisata Al-Fitrah menaiki speed boat. Sedangkat anggota lainnya menaiki mobil dan sepeda motor menuju ke lokasi.

Sampah Danau Lut TawarSepanjang perjalanan di tengah danau, pemandangam tak indah terlihat. Sampah jenis plastik terlihat mengapung di atas danau. Kami pun mengabadikan sampah-sampah itu dengan kamera.

Pemandangan itu terlihat mulai dari tengah danau hingga mendekati bibir pantai Pante Menye. Perasaan sedih, diselimuti hati kami melihat pemandangan tersebut. Namun, apa daya kurangnya perhatian terhadap danau menjadi penyebab tumpukan sampah di buang seenaknya langsung ke danai atau ke sungai-sungai kecil yang mengalir ke DLT.

Tidak tersedianya tempat sampah di sepanjang jalan dan kampung di seputaran DLT juga menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi dengan kurangnya kesadaran masyarakat yang berwisata ke DLT lalu meninggalkan sampah sesuka hati.

sampah-dlt-1Tentunya hal ini harus menjadi fokus perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui dinas dan badan terkait. Boleh saya katakan bahwa Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Aceh Tengah yang salah satu tugasnya adalah mengusuri sampah di seluruh wilayah Aceh Tengah harus diganti namanya menjadi Dinas Kebersihan Kota Takengon saja, karena hanya diseputaran kota saja tersedia tempat sampah, sedangkan di kecamatan-kematan lain yang jauh dari pusat kota Takengon seakan terabaikan.

Kembali ke perjalanan kami tadi, setiba di Pante Menye tim pun bergegas bersiap sembari menunggu rekan-rekan lainnya. Ratusan kantong plastik dan karung kami siapkan sebagai tempat bagi sampah yang dipungut. Kegiatan ini sebenarnya dibiayai oleh donasi yang ditayangkan LintasGayo.co kepada pembaca, tidak ada dana khusus baik dari pemerintah dan dinas terkait dalam aksi ini, murni dari donasi pembaca.

Duta Wisata Pungut Sampah Lut TawarWalaupun setelah membaca berita di LintasGayo.co akan adanya aksi tersebut, Bupati Nasaruddin secara pribadi juga ikut penjadi pendonasi pada kegiatan ini, ditambah dengan donasi lainnya dari rekan-rekan GDC dan LintasGayo.co serta pembaca setia media ini.

Uniknya lagi, bagi relawan lainnya yang ingin ikut dalam aksi tersebut juga tidak disediakan apa-apa. Kami hanya menyediakan kantong plasting dan karung tempat sampah, sedangkan untuk konsumsi anggota inti di ambil dari donasi tadi, tapi bagi relawan lainnya yang ikut kami beritahukan untuk membawa perbekalan sendiri dalam bahasa Gayo dikenal dengan istilah mah kero kendiri dan eteng-eteng iyak. Relawan tadinya yang sudah menyatakan ikut, tak mempermasalahkannya. Mereka tau betul bagaiman kegiatan ini digagas.

Hari menjelang siang, tim penyelam pun beraksi memungut sampah di lantai (dasar) danau. Sedangkan relawan lainnya terlihat membersihkan di pinggiran Pante Menye. Terlihat juga truk pengangkut sampah milik Badan LH Kebersihan dan Pertamanan Aceh Tengah dibawah komando Zulfan Diara Gayo yang menjadi salah satu Kepala Bidang di badan tersebut. Tampak juga penulis handal di Gayo, Muhammad Syukri, dia datang mewakili Bupati Aceh Tengah.

Kondisi Perairan Dasar Danau Lut Tawaf. (Foto : Muna)
Kondisi Perairan Dasar Danau Lut Tawaf. (Foto : Muna)

Penyelaman pertama selesai dilakukan dalam waktu 32 menit. Dan dilanjutkan dengan penyelaman kedua. Tumpukan sampah yang dikumpul oleh relawan di pinggiran danau terlihat lebih rapi, selangkah lagi dimasukkan ke dalam truk untuk di buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Masyarakat sekitar hanya menyaksikan aksi tersebut, mereka heran dan merasa aneh dengan relawan-relawan tersebut, kenapa mau mengambil sampah dari danau dan untuk apa. Sampai-sampai saat tim penyelam usai melakukan penyelaman kedua dan mengangkat pelalatan SCUBA yang dipakai untuk istrahat makan siang, saat berjalan mereka ditanyain oleh warga yang berada di seputaran Pante Menye, saya tidak tau apakah warga setempat atau wisatawan yang berkunjung ke salah satu objek wisata di DLT itu.

Sambil berjalan, orang tadi bertanya kepada tim penyelam. “Mune bang (ngapain bang)?”, nuet sampah (ambil sampah) kata salah seorang penyelam tadi, orang itu melanjutkan pertanyaannya “kin hana sampah bang (untuk apa sampah bang)? ” disertai dengan tertawa yang menandakan ejeken kepada penyelam. Peselam GDC tadi membalas dengan senyuman tak merespon pertanyaan terakhir tadi.

Hal itu menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan peduli lingkungan masih sangat kurang. Ejekan dan cibiran yang diterima relawan tidak hanya datang dari masyarakat awam itu, juga diterima dari sejumlah pembaca LintasGayo.co.

Selain ejekan dan cibiran itu, pujian pun terus bermunculan. Ada yang menganggap kampanye seperti ini harus terus di suarakan, agar suatu saat nanti masyarakat kita sadar arti pentingnya menjaga lingkungan.

Aksi sore itu berkahir, kami pun kembali ke base camp. Saya memilih menaiki speed boat, bersama Winara sebagai pengemudi, Munawardi, Zulfan Diara Gayo dan dua anak kecil Hafni Safira dan Nisa.

Perjalanan menuju pulang, hujan lebat disertai angin kencang menerpa. Kelihaian Winara memandu kemudi pantas diacungi jempol, tak ada kejadian dalam perjalanan pulang itu, kedinginan dan kelaparan sudah pasti kami rasakan. Perjalanan pulang kami tempuh sekira 2 jam lebih, yang seharusnya jika cuaca normal hanya 1 jam saja.

Aksi pembersihan dasar danau (underwater clean up) jilid-2 itu pun dipadai. Kemudian tim kembali menggas aksi jilid-3 yang digelar 17 Agustus 2015 lalu. Lokasi yang dipilih masih di Pante Menye, Bintang. Namun, kali ini ada dua agenda yang digelar, satunya pembersihan sampah dan satunya lagi pengibaran bendera merah putih, di dasar danau oleh peselam GDC.

Pengibaran Merah Putih di dasar DLT. (Muna)
Pengibaran Merah Putih di dasar DLT. (Muna)

Kegiatan pada jilid-3 itu tidak diikuti banyak relawan seperti aksi jilid-2. Relawan yang ikut hanya anggota GDC saja ditambah dengan kru LintasGayo.co. Pada hari itu, bangsa Indonesia tengah memperingati hari kemerdekaan yang ke-70 tahun.

Tak mengapa sedikit yang iku, namun kampanye yang terus digaungkan oleh relawan ini akan terus dilakukan, hingga timbulnya kesadaran kita semua. Dikalangan peselam GDC yang sudah telanjur jatuh cinta kepada olaharaga selam merasa khawatir suatu saat tak bisa lagi melihat indahnya dasar DLT. Sampah menyebabkan kekeruhan perairan, sehingga dipastikan jarak pandang di dalam air akan terbatas.

Jika ingin, DLT lestari, mari kita jaga kelangsungan ekosistemnya. Banyak hal lain yang menyebabkan laju pencemaran DLT semakin cepat, salah satunya adalah sampah, sedimentasi, limbah rumah tangga dan pertanian, yang dapat mengancam kelangsungan ekosistemnya.

Salam Lestari… Save Danau Lut Tawar!!!

*Sekretaris Redaksi LintasGayo.co

Penyelam GDC Bersiap Kibarkan Bendera Merah Putih. (Foto : Irwan)
Penyelam GDC Bersiap Kibarkan Bendera Merah Putih. (Foto : Irwan)

Comments

comments