Free songs
Home / Keber Ari Gayo / Ekonomi / Berempus Enti Lelang; Kiat Sukses Petani Kopi Gayo “Aman Lahat”

Berempus Enti Lelang; Kiat Sukses Petani Kopi Gayo “Aman Lahat”


Laporan Khalisuddin

Ali Amran Aman Lahat

Ali Amran Aman Lahat

KOPI Arabika varietas Gayo 1 (G1), salah satu dari dua varietas yang telah dilepas sebagai salah satu varietas kopi unggulan Nasional yang disahkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Dirjen Perkebunan yang disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3998 dan 3999/Kpts/ SR.120/12/2010 pada tanggal 29 Desember 2010.

Walau dengan predikat kopi unggul, tidak semua petani berhasil membudidayakannya kopi yang nama umumnya dikenal petani sebagai kopi Tim Tim ini dengan maksimal, diperlukan perlakukan teknis yang tetap untuk produksi buah maksimal.

Salah satu kebun kopi di kampung Arul Latong Kecamatan Bies Kabupaten Aceh Tengah menarik perhatian LintasGayo.co beberapa waktu lalu, Pohon-pohon kopi yang diketahui milik Ali Amran Aman Lahat itu berjejer rapi dibawah naungan pohon Lamtoro, terlihat baru disalon alias di pangkas dahannya sebagai bagian dari proses perawatan.

“Kebun saya luasnya tidak lebih dari 1.5 hektar saja dan saya setiap hari masuk kerja seperti PNS, berempus enti lelang,” kata Ali Amran didampingi istrinya, Mutiara mengawali perbincangan kami. Berempus enti lelang maksudnya berkebun jangan tanggung. lelang dalam bahasa Gayo punya dua makna, selain tanggung, juga berarti menyiangi rumput dengan cangkul.

Pengakuan Ali Amran, seumur-umur sebagai petani kopi, dirinya samasekali tidak mengenal nama Sarana Produksi (Saprodi) pertanian buatan pabrik yang banyak dijual di pasar.

“Saya tidak pernah memakai pupuk dan obat semprot apapun selama berkebun kopi,” kata Ali Amran sambil meminta LintasGayo.co menanyakannnya kepada warga sekitar jika tidak percaya.

Selain itu, uniknya dia mengaku tidak pernah mendapat bimbingan teknis bertani kopi dari pihak terkait di Pemerintahan seperti Penyuluh, juga tidak pernah belajar dari buku.

Lalu bagaimana Ali Amran berkebun kopi hingga terpilih oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sebagai salah satu dari tiga kebun bibit kopi di Aceh Tengah beberapa tahun silam.

Kebun Kopi Arabika Gayo

Kebun Kopi Arabika Gayo

Untuk perawatan batang kopi dewasa, Ali Amran biasa melakukan 3 jenis pemangkasan yaitu nyeding (mengambil tunas baru yang tumbuh), nyerlak (mengambil cabang yang tidak diperlukan), ngompres (membuang cabang atas) dan mumangkas (pangkas berat yang biasanya untuk kopi yang sudah tua).

“Saya melakukan itu semua biasanya pada bulan Mulud pertama,” katanya tanpa menjelaskan kenapa dilakukan pada waktu tersebut.

Ali Amran menyiangi rumput (gulma) kebun kopinya (Gayo : ilelang) setiap 3 bulan sekali yang waktunya bisanya saat awal musim hujan. Dia tidak pernah membasmi rumput dengan menyemprot obat buatan pabrik atau dengan membabatnya (Gayo : i tebes).

Ayah 6 orang anak ini juga memberi tip saat panen. “Jangan mengambil buah hijau atau masih mengkal (belum merah penuh), ambil saja yang merah-merah, karena akan berpengaruh kepada berat buah kopi saat ditimbang. Kopi merah pasti lebih berat,” imbuh pria yang pendiam namun suka tertawa ini.

Hama penggerek buah dan batang kopi juga sangat jarang dijumpai Ali Amran di kebunnya. “Mungkin karena saya rajin membuang cabang kering sehingga hama tersebut sangat jarang saya jumpai,” katanya

Dia juga menyarankan kepada petani kopi Gayo agar tidak perlu mengelola lahan kopi dengan luas lebih dari 1 hektar jika tidak didukung oleh tenaga kerja mencukupi.

Kopi arabika Gayo. (LGco-Khalis)

Kopi arabika Gayo. (LGco-Khalis)

“Jika satu keluarga seperti saya ini saya rasa cukup 1 hektar saja yang dikelola dengan sebaik mungkin,” katanya sambil menceritakan ada rekannya yang pernah menjual lahan di Arul Latong kurang dari 1 hektar dan membeli gantinya di tempat lain yang lebih luas dan ternyata kini malah terbengkalai tidak terurus.

Kenapa dia memilih varietas Timtim ?, Ali Amran mengungkapkan karena berbuahnya berangsur-angsur dan panennya sepanjang tahun. “Masa tidak berbuahnya paling lama 2 bulan,” ungkapnya sambil mengatakan dirinya panen 15 hari sekali.

Selanjutnya bagi berminat mengambil bibit dari kebunnya, dia mempersilahkan untuk datang dan mengambil atau memilih sendiri buah kopi merah dari kebunnya dengan harga Rp.350 ribu perkalengnya. “Datang dan petik sendiri buah kopi dari kebun saya. Tapi jangan lupa bayar,” kata Ali Amran sambil tertawa.

Selaku umat Islam, Ali Amran mengaku selalu membayar zakat mal untuk hasil panen kopinya langsung setiap habis panen jika sampai nisabnya. “Saya selalu membayar zakatnya setelah dapat uang dari hasil panen. Saya tidak menunggu atau emngumpulkannya dulu selama setahun untuk membayar zakat,” katanya.

Dalam menjalani kehidupan, Ali Amran paling alergi jika harus bermasalah dengan imam. “Saya tidak peduli siapa sosok imam yang menjadi petugas penerima zakat. Yang penting saya sudah setorkan kewajiban saya,” pungkasnya tersenyum.

Informasi yang dihimpun LintasGayo.co, ada tiga petani kopi di Aceh Tengah yang kebunnya ditetapkan sebagai kebun bibit kopi varietas G1 (Timtim). Selain Ali Amran ada Abdullah Aman Senan di Kampung Arul Latong kecamatan Bies dan Taharuddin Aman Ona di Kampung Uning Kecamatan Pegasing dengan luas lahan keseluruhan sekitar 2.5 hektar.

Tahapan varietas G1 dari bibit hingga berbuah, di persemaian selama 2 bulan dan di pembibitan antara 5-8 bulan. Setelah dipindahkan ke kebun, maka diumur 2.5 tahun adalah masa belajar berbuah dan dan setelah itu adalah masa produksi dengan hitungan produksi makasimal 1.3-1.6 kilogram perbatang pertahunnya dalam bentuk Green Bean.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top