Opini Sara Sagi Terbaru

Lingga, Dinasti Yang Terlupakan

Oleh : Muhammad Hamzah Hasballah*

Rumah Blangayo (Foto : Muhammad Hamzah Hasballah)
Rumah Blangayo (Foto : Muhammad Hamzah Hasballah)

RUMAH TUA di Desa Budaya Lingga itu berdiri kokoh. Halamannya ditumbuhi rumput tipis. Anjing lalu-lalang di seputarannya. Masyarakat Lingga menyebut rumah itu Gerga. Sebagian menyebutnya Siwaluh Jabu, artinya sepuluh keluarga. Di depannya juga ada rumah serupa. Tapi hanya bisa dihuni delapan keluarga. Nama rumah itu, Blangayo. Ada juga yang bilang Waluh Jabu, yang berarti delapan keluarga.

Keduanya berbentuk panggung, tapi agak lancip, dan dipenuhi ukiran, yang semua ukirannya tentu punya makna. Besarnya, hampir dua kali lapangan volly. Atap dilapisi daun ijuk, yang mulai ditumbuhi lumut hijau. Di bubung yang menghadap ke Barat, tanduk kerbau jantan menjulang angkuh. Sedang yang menghadap ke Timur, adalah tanduk kerbau betina. Mitosnya, kedua tanduk itu sebagai alat tolak bala, yang menyerang dari Timur dan Barat.

Memasuki rumah tersebut, kesan angker langsung menyergap. Gelap. Tak ada lampu yang menerangi. Beberapa tiang penyangga berukuran sebesar pelukan orang dewasa. Bau pengap menusuk hidung. Ditambah bau kotoran kelelawar yang berserak di lantai. Pada tiang penyangga, tali jemuran menjulang, menggantung beberapa pasang pakaian kering.

Di kiri-kanan di dalam rumah, berjejer masing-masing lima rumah lagi. Jadi, ada rumah di dalam rumah. Ukurannya tidaklah besar, sekitar enam meter saja. Dalam tiap-tiap rumah berbentuk lancip, mirip bak truk terbuka, yang dibentuk dari turunan atap. Di tempat itulah setiap keluarga tinggal.

Para (tungku memasak), berada di antara dua rumah. Bentuknya petak. Di ataspara, terdapat tempat menyimpan kayu bakar, yang digantung di atas plafon. Dua keluarga harus berbagi jatah memasak. Hanya ada lima para.

Dinding rumah berusia sekitar 400 tahun ini tergolong unik. Ukiran lima warna, dengan motif saling kait menambah daya tarik. Sayang, tak banyak yang tahu makna lima warna itu. Hanya sebagian orang tua yang paham makna.

Manik Ginting, 42 tahun, seorang pemandu wisatu Desa Budaya Lingga menuturkan, setiap ukiran bunga berkait melambangkan keakraban antara lima Suku Batak yang saling bersaudara. Warna merah adalah simbol Marga Ginting. Hitam milik Marga Sembiring; putih menyimbolkan Suku Siangin-Angin, Tarigan dengan warna biru, dan kuning keemasan miliknya Suku Karo-Karo.

Foto : Muhammad Hamzah Hasballah
Foto : Muhammad Hamzah Hasballah

Konsep rumah ini tergolong bagus. Arsiteknya memikirkan hingga ke keutuhan rumah, bila terjadi gempa. Palas (antara batu pondasi dan tiang kayu penyangga rumah), dilapisi batang ijuk. Gunanya, bila digoyang gempa, maka rumah akan mengikuti arah goyangan.

“Kata orang dulu itu, rumah ini selalu dijaga, karena diberi doa sama dukun. Kalau rumah sekarang coba, kalau digoyang gempa langsung roboh. Itu karenanggak dimantrai,” jelas Hamita Ginting, sang pewaris rumah tersebut. Sayang, ia tak lagi tinggal di rumah adat tersebut.

Hamita keturunan ketujuh Raja Ureung, pimpinan Suku Karo. Wajah lelaki ini tirus. Jenggot tipis memutih di dagunya. Beda dengan mayoritas masyarakat Karo yang menganut kristen, Hamita beragama Islam. Ia lama tinggal di Aceh.

Hamita Ginting tersenyum sumringah. Dia menghirup dalam kretek di mulutnya, sambil perlahan menyeruput tuak. Di sisinya, Dana Ginting menenggak hampir seceret tuak. Ia terus minum, matanya mulai memerah.

“Bapak ini lah yang banyak tau tentang rumah adat,” kata Dana, menunjuk Hamita.

“Itu rumah kakek. Baru lima bulan lalu saya pindah dari sana,” ucap Hamita, ramah.

Alkisah, sekitar 400 tahun silam, masyarakat Karo tidaklah beragama. Mereka hidup bermasyarakat, dengan menyandingkan delapan, hingga 12 keluarga ke dalam satu rumah.

¬Membangun rumah pun, dilakukan dengan ritual panjang. Hamita Ginting menceritakan, kayu yang dipilih harus atas seizin dukun. “Menurut cerita jaman dulu gitu. Kan dulu orang sini nggakberagama.”

Ia mengisahkan, beberapa pemuda beranjak ke hutan untuk melihat kayu-kayu besar. Tapi, tidak semua kayu bisa dipotong. Mereka hanya mengiris kayu-kayu itu, untuk kemudian irisan kecil tersebut dibawa ke dukun. Oleh dukun, semua kayu-kayu kecil tersebut didoakan, dimimpikan, untuk kemudian ditunjuk, kayu mana yang boleh dipotong.

“Ritualnya begitu. Jadi nggak sembarangan kayu bisa dipotong. Karena bisa membawa sial.”

Saat memotong kayu, semua kaum adam menuju hutan, untuk bersama-sama menggotong batang kayu. “Itu di atas kayu diduduin anak dara. Gunanya biar yang angkat kayu semangat,” ucapnya terkekeh.

Kayu yang dipilih pun, sebut Hamita, hanya tiga macam saja. Batang Ndrasi, diyakini menjauhkan keluarga yang tinggal di rumah tersebut tidaklah didera sakit. Kayu Ambartuah dipakai supaya mereka diberi tuah, ataupun kesejahteraan hidup. Sedang kayu Sibernaik dipakai untuk mendoakan kemudahan rezeki.

“Memang nggak masuk akal sih. Tapi ya itu kepercayaan dulu. Mereka animism,” tambah Hamita.

Kenapa Hamita tak lagi tinggal di situ? Ia menjelaskan, banyak pantangan yang dilarang di dalam rumah adat tersebut. “Orang sekarang nggak sama seperti orang dulu. Di sana kita seperti terkurung. Bicara nggak bisa bebas, nggak bisa make tivi, padahal kita inginnya bebas gitu.”

“Kalau dulu adatnya masih kental. Banyak pantangannya. Itu di jalan tengah kitanggak dibolehkan untuk duduk, labah (sial) istilahnya. Kan melalui jalan tengah itu kita nyapu lantai, banyak debu, dianggapnya kita juga sampah kalau duduk di situ. Di tungku juga nggak boleh. Itu kan tempat kita memasak, untuk hidup, yanggak boleh kita duduki.”

Karena banyaknya pantangan tersebut, sekarang, masyarakat Budaya Lingga lebih memilih untuk tidak lagi tinggal di rumah bersejarah tersebut. “Dulu ada 28 rumah. Sekarang cuma sisa dua, itupun dengan kondisi yang memperihatinkan, yang lain rusak ditinggal penghuni,” jelas dia.

Benar saja, beberapa rumah terlihat mulai ringsek, hampir roboh mencium tanah. Ukiran rumah mulai aus, sudah tak berwarna. Di sudut bubung pun sudah tak terlihat dua tanduk. Batang bambu yang menopang daun ijuk mulai keropos. Daunnya mulai menghilang, tinggal bambu seperti tulang yang menjurus ke sana-sini, tak lagi beraturan.

Di bawah rumah adat ringsek itu, kotoran ternak membanjiri. Bau pesing menguap di udara. Lengking burung hantu, kata seorang anak, kadang terdengar, menambah seram rumah tua tersebut.

“Baru beberapa hari lalu ada burung hantu ditembak jatuh di situ,” kata seorang anak menunjuk ke pojok atap dalam rumah.

Alasan lain mereka “hengkang” dari sana, “Biaya perawatannya terlalu mahal. Kita sudah tak sanggup merawat semuanya,” keluh Hamita. Kini, sejarah itu tinggal dua, dan dikhawatirkan juga akan menghilang dari Desa Budaya Lingga.

Antara Karo, Islam, dan Gayo

Gayo, terletak di tengah-tengah pegunungan daerah Aceh yang membujur dari utara hingga ke tenggara sepanjang bukit barisan, di bagian ujung pulau Sumatera. Selain itu, Gayo berbatasan langsung dengan daerah Aceh Utara, Aceh Barat, Pidie, Aceh Timur, dan Sumatera Utara. Hal itu, memungkinkan banyak Suku Gayo, yang bertebaran di beberapa wilayah, termasuk di Karo, Sumatera Utara.

Dalam bukunya yang berjudul Gajah Putih, M. Junus Djamil menuliskan, Kerajaan Lingga (Linge – dalam bahasa Gayo) didirikan oleh orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak, sekitar abad ke-XI.

Raja Lingga pertama merupakan keturunan langsung dari suku Batak. Ia mempunyai enam orang anak, yang salah seorang bernama Sebayak Lingga. Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah leluhur tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana. Dia dikenal dengan Raja Lingga Sebayak. Konon, dia lah yang menjadi raja di sana.

Beberapa anak Raja Lingga lain juga menjadi raja di wilayah kekuasaannya. Anak pertama yang perempuan bernama Empu Beru, atau Datu Beru. Sibayak Lingga adalah anak ke-II. Sedangkan putra ke-III bernama Meurah Johan. Ia mengembara ke Aceh Besar, dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri, dengan Kesultanan Lamuri atau Lambri.

Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

Meurah Lingga, anak bungsu Raja Lingga tinggal di Linge. Meurah Lingga menjadi penerus turun-temurun kerarajaan Linge di Gayo. Meurah Lingga sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge. Sampai sekarang, makam Meurah Lingga masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk setempat.

Hubungannya tidak sampai di situ saja. Seperti diceritakan Salman Yoga S, seorang akademisi dan budayawan Aceh asal Gayo, sekitar beberapa puluh tahun silam, beberapa pemuda Karo kembali berkunjung ke tanah leluhur, Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Tujuan mereka, mencari sanak keturunannya, dari Sibayak Lingga. Layaknya Suku Batak yang dikenal keras, “Mereka datang dengan pendekatan pemuda, yaitu judi,” kata Salman Yoga S.

Syahdan, orang Karo kalah, sehingga terjadi perkelahian yang memakan korban dari Suku Karo. Mengetahui kalah jumlah, pimpinan kelompok tersebut memilih kabur, hengkang ke kampung halaman, membawa dendam.

Jeda hari terus berganti. Pemuda Karo kembali, dengan mengajak serta pasukan yang berjumlah 27 orang. Mereka ingin menuntut balas. “Dalam adat Batak, darah dibayar darah, nyawa pun harus dibayar nyawa.”

Dosen Ilmu Komunikasi dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry ini menjelaskan, tak mudah Batak Karo masuk ke lingkungan Suku Gayo. “Mereka harus mencari keturunannya yang beragama Islam.” Akhir dari pencarian, bertemulah 27 pemuda tersebut dengan seorang keturunan Sebayak Lingga, yang orang Islam taat, di Meulaboh, bernama Leube Kader.

Sebagai ulama, jelas saja Kader tak setuju dengan maksud mereka, yang hendak membalas dendam. Tapi, Kader tetap membawa ke-27 pemuda tersebut, untuk bermusyawarah, mencari jalan damai.

Jelas saja, awak Karo tak setuju. Setibanya di Gayo, dengan tipu muslihat mereka, salah seorang dari membunuh ajudan Leube Kader. Setelah membunuh, mereka mengadu domba Kader, ‘orang Gayo telah membunuh ajudannya’. Karena itu, terjadilah perang.

Perang yang berkecamuk memakan korban yang tidak sedikit. Damai baru tercapai, setelah suku asli Gayo membayar diyat, atas terbunuhnya satu dari 27 Batak Karo, yang pertama ke Gayo tadi.

Diyat yang dibayarkan merupakan tanah, di wilayah Kerajaan Reje Bukit, di Bebesan, Gayo. Sejak itu, ikatan persaudaraan mulai kembali terjalin.

Seratus tahun kemudian, sekitar tahun 1962, Islam mulai kembali masuk ke Karo, yang dibawa oleh cicit Sebayak Lingga, yang berasal dari Gayo, Tgk. Ilyas Leube. “Dia mengislamkan orang Tanah Karo sampai sekitar tahun 1962-1975. Jadi ada ikatan erat antara antara Gayo dan Karo,” kata Salman Yoga S lagi yang juga adalah Direktur sebuah LSM yang bergerak dalam bidang sejarah dan kebudayaan The Gayo Institute (TGI) ini. “Jejak itu masih ada. Ada Tokoh Gayo, Aman Dimot, yang meninggal di sana, dan jasadnya tidak dibolehkan untuk dibawa pulang ke Gayo. Jadi dia dikuburkan di Karo,” tambah Yoga.

Hamita Ginting ikut memperkuat perihal adanya ikatan persaudaraan tersebut. Sebelum tahun 1970-an, kata Hamita, penduduk Karo mayoritas memeluk Agama Islam. Hal itu, sebut ia, ada kaitan dengan Linge di Gayo, Aceh. Tapi, sebaliknya kini hampir semua masyarakat Karo menganut agama Kristen.

“Dulu 99 persen itu Islam. Di sini ada yang namanya Tengku Lobaho. Ceritanya ada garis keturunan dengan Gayo. Kalau kemarau panjang, kami ke tempat Tengku itu, kami suruhnya dia berdoa. Dan ajaibnya hujan turun.”

Dari Desa Budaya Lingga, makam Lobaho hanya berjarak sekitar dua kilometer. Masyarakat menyebut makam ‘keramat’ itu, Lobahon, atau Gritten.

Dalam sebuah catatan lain disebutkan, Lingga adalah sebuah dinasti yang besar pada masanya. Kerajaan ini, bahkan menguasai hingga ke Johor, semenanjung Malaysia (masa Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533).

Keturunan Raja Lingga XIII juga meneruskan kekuasaan, dengan mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.

Sayang, hanya sedikit kiprah raja di Sebayak Lingga, Karo yang terdokumentasi. Pada masa Belanda, hanya tercatat dua era Raja di Karo. Yaitu; Sibayak Lingga, dan penerusnya Raja Kaloling Sibayak Lingga. Tapi, Hamita menyebutkan, ia keturunan ke-VII Raja Ureung, Pimpinan Suku Karo. Tidak jelas, Raja Ureung keturunan keberapa dari Kerajaan Karo, di Lingga.

***
(SORE yang mendung dan dingin di Budaya Lingga, Karo menusuk kulit. Dari kejauhan, kabut tipis perlahan menutup keangkuhan Sinabung, gunung yang menumpahkan laharnya beberapa waktu silam, menambah angker Gerga danWaluh Jabu: sepasang bukti perdaban Lingga….. Sumber :Kompasiana).

*Muhammad Hamzah Hasballah adalah alumnus UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang bergiat sebagai jurnalis lepas dan salah seorang sineas Aceh.

Comments

comments