Inilah Gayo Opini Terbaru

Jeruk Keprok Gayo, Komoditi Unggulan Yang Terlupakan

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*

Keprok GayoBegitu disebut nama Gayo, maka yang terbayang di benak orang adalah Kopi Arabika yang memiliki aroma dan rasa spesifik, bukan masyarakat Indonesia saja yang mengenal Gayo Arabica Coffee, tapi kopi Gayo nyaris sudah dikenal di seluruh dunia, gencarnya promosi di media dan seringnya digelar expo kopi, membuat kopi Gayo semakin “mendunia”. Di beberapa Negara maju, kopi Gayo menjadi salah satu “high class” coffee yang harganya bisa membuat orang berdecak.

Belakangan nama Gayo juga kembali “mengorbit” dengan ditemukannya berbagai jenis Giok dan batu mulia di daerah ini, potensi alam yang belakangan ini terekspose dan kemudian dieksplorasi, menjadikan Gayo sebagai salah satu penghasil batu giok berkualitas. Batu-batu berkelas seperti nephrite, solar, bio solar, black jade sampai kecubung, banyak tersimpan di bumi Gayo. Lokasi-lokasi yang banyak terdapat batu gioknya menjadi “ladang perburuan” baru bagi para penggemar dan pencari giok.

Padahal potensi alam gayo bukan hanya Kopi dan Giok saja, masih banyak potensi khususnya di bidang pertanian yang menjadi andalan wilayah dataran tinggi ini. Sesuai dengan agroklimat, elevasi dan topografi wilayahnya, Dataran Tinggi Gayo merupakan “sorga” untuk pengembangan hortikultura terutama sayur-sayuran dan buah-buahan khas dataran tinggi. Sebut saja Kentang (solanum tubersum), Tomat ( lycopersicum esculentum), Cabe (capsicum annum), Kol ( braschia oleavera) dan beberapa jenis sayuran lainnya dapat tumbuh baik di daerah ini. Begitu juga buah-buahan seperti Nanas (ananas commusus), Alpukat (persea americana), Apel (mallus sylvestris) dan berbagai jenis Jeruk (citrus sp) juga merupakan komoditi pertanian yang mudah di jumpai di dataran tinggi Gayo.

Salah satu komoditi pertanian unggulan yang pernah membawa nama harum kabupaten Aceh Tengah sebagai salah satu kabupaten di dataran tinggi Gayo adalah Jeruk Keprok Gayo (citrus nobilis), komoditi pertanian ini pernah menjuarai kontes buah nasional pada tahun 1992 yang lalu. Bahkan pada tahun 2006 yang lalu Kementerian Pertanian telah menetapkan jeruk keprokgayo sebagai buah unggul nasional. Tapi setelah itu, komoditi unggulan ini nyaris terlupakan, padahal ratusan hectare lahan pertanaman jeruk keprok gayo masih tetap eksis sampai sekarang. Fokus petani di dataran tinggi Gayo pada komoditi kopi arabika, nyaris membuat jeruk keprok gayo hanya sebagai tanaman sampingan, padahal nilai ekonomis dari komoditi ini sangat baik. Untuk kualitas super, harganya bisa mencapai 15.000 sampai 20.000 rupiah per kilogramnya, harga yang mampu untuk “mendongkrak” perekonomian petani Gayo.

Keistimewaan dari jeruk keprok gayo ini terletak pada aroma dan rasanya, dibalik kulit luarnya yang agak tebal, jeruk keprok gayo memiliki rasa yang khas yaitu manis bercampur sedikit asam, serta aroma “tajam” yang menggugah selera, rasa dan aroma inilah yang tidak dimiliki oleh jenis jeruk keprok dari daerah lain.

Dari aspek usaha tani, harus diakui bahwa penanaman jeruk keprok gayo di kabupaten Aceh Tengah dan juga Bener Meriah belum dilakukan secara monokultur, tanaman ini hanya ditanam petani di sela-sela tanaman kopi mereka. Demikian juga dari segi perawatan dan pemeliharaan, belum sepenuhnya dilakukan secara intensif, karena masih ada anggapan bahwa tanaman ini hanyalah tanaman selingan yang berfungsi sebagai pelindung dari tanaman kopi. Itulah sebabnya, areal pertanaman jeruk keprok gayo relative menyebar, tidak terletak pada suatu hamparan. Belakangan mulai ada petani yang mengusahakan komoditi ini secara monokultur, tapi luasannya masih sangat terbatas, padahal jika komoditi ini di usahakan pada hamparan dengan areal yang luas, akan sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai lokasi agrowisata seperti agrowisata apel yang ada di Batu dan Malang.

Dari data pada dinas teknis terkait, populasi jeruk keprok gayo di dataran tinggi Gayo dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang cukup drastic, selain pola usaha taninya yang belum mengacu kepada pola monokultur, serangan penyakit CVPD (Cytrus Phloem Vein Deviciency) dan Jamur akar, ikut memberi andil menurunnya populasi komoditi unggulan ini. Upaya peremajaan juga terus dilakukan dengan fasilitasi dari instansi terkait, tapi karena pola tanamnya masih mengandalkan pola konvensional, maka perkembangan luas tanam komoditi ini juga agak lamban.

Agaknya diperlukan upaya untuk merubah pola fikir atau mainstream dari petani Gayo dalam pengembangan salah satu kooditi unggulan daerah yang telah di akui secara nasional ini. Sinergi semua stake holders terkait sangat diperlukan untuk merubah pola tanam dari pola tumpang sari menjadi pola monokultur, mengingat masih tersedia lahan yang cukup untuk penembangn komoditi ini, tanpa harus “mengganggu” lahan perkebunan kopi yang sudah ada.

Orientasi usaha tani jeruk juga harus dirubah dari pola konvensional yang menganggap jeruk hanya sebagai tanaman sampingan menjadi pola monokultur yang berorientasi agribisnis dan agrowisata. Kehadiran agrowisata jeruk keprok gayo akan semakin “melengkapi” kekayaan wisata dataran tinggi gayo yang memang sejak dahulu sudah terkenal dengan keindahan alamnya itu, apalagi akses transportasi ke daerah erhawa sejuk ini sekarang sudah mulai membaik.

Sebagai daerah yang hampir 80% masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian, sudah seharusnya dilakukan diversifikasi komoditi, sehingga masyarakat tidak hanya menggantungkan perekonomiannya pada sato komoditi saja, tetapi masih banyak komoditi pertanian yang dapat dijadikan penyangga perekonomian masyarakat, apalagi potensi sumberdaya lahan juga sangat memadai. Tentu perlu keseriusan semua pihak agar komoditi yang seduah membawa nama harum dataran tinggi gayo ini bisa terus terjaga keberadaannya, jangan sampai nama harum Jeruk Keprok Gayo nantinya hanya tinggal nama, karena kurangnya upaya untuk melestarikan dan mengembangkan komoditi ini. []

Comments

comments