Buku Keber Ari Gayo Sosial Budaya Terbaru

Stok Terbatas, Buruan Dapatkan Buku Tutur Gayo Lues

Takengon-LintasGayo.co : Sejak terbit dan beredar 6 Juni 2015 yang lalu, buku Tutur Gayo Lues tinggal terbatas. “Tinggal sedikit lagi. Paling, 15 eksemplar lagi,” kata penulis buku Tutur Gayo Lues, Yusradi Usman al-Gayoni, Sabtu (11/7/2015)

Buku yang terdiri dari tiga bab ini—sejarah singkat Gayo, Gayo Lues, dan khasanah tutur di Gayo Lues—mengulas tentang istilah kekerabatan dalam masyarakat Gayo Lues.

“Orang Gayo menyebutkan dengan tutur. Dari sisi jumlah, tutur di Gayo Lues lebih sedikit dari tutur yang ada di Gayo Lut dan Gayo Deret (Aceh Tengah dan Bener Meriah). Di sana juga dikenal istilah Peraman/Perinen (panggilan orang tua berdasarkan anak sulungnya. Peraman dan perinen ini ada karena pantang nama orang kita disebut orang lain. Bisa-bisa, sampai berkelahi. Makanya, dulu, banyak orang Gayo yang tidak tahu nama orang tuanya dan keturunan-keturunan di atasnya,” sebutnya.

Jika anak pertamanya laki-laki, sebutnya, maka Bapaknya dipanggil Aman Nuwin, Ibunya Inen Nuwin. Sebaliknya, kalau perempuan, Bapaknya dipanggil Aman Nipak dan Ibunya dipanggil Inen Nipak, meskipun anak perempuan di sana dipanggail Etek.

“Kalau sudah diberi nama, misalnya Rehan, maka Bapaknya dipanggil Aman Rehan. Sementara, Ibunya dipanggil Inen Rehan,” katanya.

Diterangkan Staf Ahli Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI (2009-2014) tersebut, ada beberapa perbedaan istilah tutur dan pengucapan tutur di Gayo Lues dengan di Gayo Lut dan Gayo Deret.

“Di Gayo Lues, anak perempuan yang belum menikah disebut Etek. Sementara, di Aceh Tengah-Bener Meriah disebut Ipak. Kalau anak laki-laki yang belum menikah, sama, dipanggil Win. Ada juga sedikit perbedaan pengucapan. Di Takengon-Bener Meriah, dilapalkan Banan dan Kil. Di Gayo Lues, Benen dan Kail,” urainya.

Perbedaan tersebut, jelasnya, merupakan kekayaan istilah kekerabatan yang dimiliki masyarakat Gayo. “Ini baru tutur Gayo Lut, Gayo Deret, dan tutur Gayo Lues. Belum lagi, Gayo Lokop dan Gayo Serbejadi. Bisa jadi, ada tutur yang ada tidak ada di Takengon, Bener Meriah atau Gayo Lues, ada di sana. Jadi, makin melengkapi kekayaan khasanah tutur masyarakat Gayo,” tegasnya.

Penyebab adanya tutur, ungkap penulis buku Tutur Gayo Edisi I dan Tutur Gayo II itu, disebabkan karena hubungan kekerabatan. Namun, hubungannya ada yang dekat. Ada juga yang jauh.

“Di Gayo Lues, ada enam tingkatan tutur, mulai dari piut (cicit), kumpu (cucu), anak (anak), ama/ine (orang tua—bapak/ibu), awan/enen (empu) (orang tua ama/ine atau empu), dan datu (orang tua empu). Kemungkinan, masih ada tiga tingkatan lagi di atas datu. Jadi, semuanya ada sembilan tingkatan,” sebutnya.

Beberapa tokoh Gayo Lues, sebutnya, sudah menerima buku ini, diantaranya Bupati Gayo Lues Ibnu Hasim, Sekda Thalib, Ketua DPRK Gayo Lues Ali Husin, Anggota DPRA Dapil Gayo Lues-Kutacane Muhammad Amru, dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jamin. Termasuk, Ketua Baitul Mal Gayo Lues Almisriadi, Kepala Dinas Syariat Islam Awaluddin, Anggota DPRK Gayo Lues Syamsul Alam, Camat Rikit Gaib Buniyamin, dan Sekretaris Majelis Adat Gayo Lues Zainal Abidin. Juga, beberapa tokoh masyarakat Gayo Lues, yaitu Rajab Abdullah, Syamsuddin Said, dan H. Salim Wahab.

“Di Takengon ada di Cafe Bayakmi Kebayakan. Buku-buku saya yang lain juga ada di sana,” sebut Yusradi. (GM)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *