Free songs
Home / Inilah Gayo / Terbol, Buntul Linge, Jeret Terbang, Masjid Asal, Medinah; Situs Sejarah Penting di Linge

Terbol, Buntul Linge, Jeret Terbang, Masjid Asal, Medinah; Situs Sejarah Penting di Linge


Catatan Khalisuddin

TANOH Linge Kabupaten Aceh Tengah dalam kisah turun-temurun dikenal sebagai kampung paling bersejarah di dataran tinggi Gayo selain kampung Serule. Disebut-sebut dalam cerita dengan istilah Asal Linge Awal Serule yang maksudnya nenek moyang Urang Gayo berasal dari Linge dan berawal dari Serule, konon mereka menginjakkan kaki pertama sekali tidak terlepas dari kedua kampung tersebut walau belum ditemukan bukti ilmiah kapan itu terjadi.

Kampung Linge berjarak sekira 12 kilometer dari persimpangan Ketapang Kampung Owaq, jalan lintas Takengon-Blangkejeren. Tahun 2015 berpenduduk 300-an jiwa dengan 90-an Kepala Keluarga.

Bicara Linge kali ini, tidak menyentuh sejarah Kerajaan Linge, namun lebih kepada nama-nama situs sejarah yang ada di tempat tersebut.

Terbol. (LGco_Khalis)

Terbol. (LGco_Khalis)

Terbol
Salah satu tempat yang agak luput diceritakan dalam kisah-kisah Asal Linge Awal Serule adalah Terbol, sebuah tempat yang berlokasi di sisi utara perumahan warga kampung Linge Kabupaten Aceh Tengah. Terpaut sekitar 100 meter dari rumah sepasang kakek nenek, Ismail dan Buyah (aman/inen Jemli).

Menurut Buyah, Terbol adalah daratan pertama di Tanoh Linge, bukan Buntul Linge yang terletak disisi selatan kampung Linge dimana terdapat sumur yang tak pernah kering airnya.

Entah mengapa, menurut Buyah, Terbol kurang disebut-sebut dalam sejarah Linge, padahal Terbol lah tempat yang paling sakral di Linge. Terbol artinya kering, jadi di Terbol lah nenek moyang Urang Gayo pertama sekali menginjakkan kaki.Demikian menurut Buyah yang mengaku menyaksikan bagaimana Belanda dan Jepang berada di Linge dan sekitarnya, terutama saat pembukaan jalan di Lane Kecamatan Linge.

Buntul Linge. (LGco_Khalis)

Buntul Linge. (LGco_Khalis)

Disebutkan, Terbol juga sebagai tempat peribadatan endatu Urang Gayo, terutama shalat 5 waktu. Karenanya saat ini Terbol ada bangunan seperti mersah (menasah).

Diceritakan Buyah dan diakui sejumlah warga Linge lainnya, di saat-saat tertentu warga Linge dan sekitarnya menggelar kegiatan spritual di Terbol, khususnya menunaikan shalat sunnat.

Buntul Linge
Merupakan bukit kecil yang 3 sisinya dikitari persawahan, satu sisi berbatas dengan sungai Linge disisi utara kampung Linge. Buntul Linge tidak luas, tidak lebih dari 50 meter persegi.

Dua makam di Buntul Linge. (LGco_Khalis)

Dua makam di Buntul Linge. (LGco_Khalis)

Terdapat 2 bangunan dalam lokasi utama Buntul Linge, bangunan Umah Pitu Ruang dan satu lagi bangunan yang didalamnya terdapat 2 makam dengan nisan bertulis Caya Nenggeri dan makam satu lagi dengan nisan bertulis Kerajaan Linge, Asal Linge Awal Serule di sisi lainnya. Makam ini terpaut setengah meter dengan telege (sumur) Linge yang konon airnya tidak pernah kering.

Ada yang aneh tentang sumur ini, airnya kerap berubah-ubah terkadang jernih, kerap juga keruh, penuh dan terkadang susut mendekati dasar sumur. Cerita yang berkembang, kondisi air tergatung niat orang yang datang, jika niat baik maka airnya sangat jernih dan penuh, bahkan bisa meluap.

Telege Linge. (LGco_Khalis)

Telege Linge. (LGco_Khalis)

Air sumur ini juga kerap diambil warga, untuk keperluan pengobatan suatu penyakit non-medis.

Di gerbang Buntul Linge, ada papan nama bertulis Umah Pitu Ruang Museum Umah Reje Linge Buntul Linge, sayangnya tidak ada benda apapun dalam bangunan tersebut alias kosong. Menurut Awan Jalil, sang penjaga Buntul Linge yang rumahnya berdekatan dengan gerbang Buntul Linge, benda-benda peninggalan Kerajaan Linge disimpan oleh sejumlah orang, ada yang di Blangkejeren Gayo Lues, Takengon Aceh Tengah dan tempat lainnya.

Arkeolog dari Balai Arkeologi Medan yang dipimpin Lucas Partanda Koestoro pada tahun 2012 melakukan penelitian di Buntul Linge dengan lokasi di luar pagar. Ditemukan fragmen atau pecahan artefak (benda arkeologis buatan manusia) berupa gerabah (tembikar) dan keramik.

Kotak penelitian arkeologis di Buntul Linge tahun 2012. (LGco_Khalis)

Kotak penelitian arkeologis di Buntul Linge tahun 2012. (LGco_Khalis)

Kesimpulan sementara sang peneliti, keramik itu berasal dari China dan Eropa yang diproduksi pada abad 19 dan 20. Artinya ada interaksi kerajaan Linge dengan dunia luar di abad tersebut.

Sayangnya, penelitian ini belum berlanjut seperti halnya di Loyang Mendale dan Ujung Karang Takengon yang data arkelogisnya sudah dikumpulkan satu demi satu, sudah ada kehidupan di lembah Takengon tepi danau Lut Tawar lebih dari 11.000 tahun lalu.

Jeret Terbang
Jeret berarti kuburan atau makam, Terbang artinya terbang. Jeret Terbang merupakan salahsatu komplek makam kuno yang berada di lereng pengunungan sisi Selatan Buntul Linge. Berjarak sekira 500-an meter dengan melintasi persawahan dan menyeberangi sungai Linge, tanpa jembatan.

Jeret Terbang. (LGco_Khalis)

Jeret Terbang. (LGco_Khalis)

Tidak diketahui berapa jumlah makam yang ada di lokasi pemakaman Jeret Terbang di bawah rerimbunan pohon-pohon hutan. Ada beberapa makam yang bernisan dan diberi pelindung dengan bangunan tak berdinding namun beratap seng. Tidak ada nama di nisan-nisan tersebut, namun satu dari makam tersebut dengan nisan mirip batu nisan kuno yang banyak tersebar di pesisir Aceh.

Menurut Karimansyah, salah seorang pewaris Kerajaan Linge, makam utama di Jeret Terbang atas nama Sultan bin Ali. Sayangnya, belum diperoleh informasi siapa Sultan bin Ali dalam kaitannya dengan Kerajaan Linge.

Beberapa makam di Jeret Terbang. (LGco_Khalis)

Beberapa makam di Jeret Terbang. (LGco_Khalis)

Kenapa dinamakan Jeret Terbang?, ternyata karena isinya makamnya kosong. Menurut Abdurahim Dandy dalam bukunya berjudul Sejarah Daerah dan Suku Gayo terbitan tahun 1979, jenazah yang semestinya dimakamkan ditempat tersebut adalah Reje Linge pertama, Genali yang meninggal dunia setelah mengalami sakit.

Aneh ketika keranda dibuka dan akan dimakamkan, jenazahnya hilang. Rakyat terharu bercampur heran. Kemudian kerajaan diperintah oleh permaisuri. Tersebutlah raja yang mangkat, sebenarnya jasadnya terbang ke Kutaraja. Di sana Genali juga menikah dan dapat keturunan seorang putra bernama Alisyah. Ketika Alisyah masih kecil Genali pergi ke Gayo dan memerintah di sana. Wallahu a’lam bishawab.

Masjid Asal Kerajaan Linge. (LGco_Khalis)

Masjid Asal Kerajaan Linge. (LGco_Khalis)

Tapak Masjid Asal Linge
Lokasi masjid pertama di Linge terletak di tengah areal persawahan sekitar 50 meter disisi barat Buntul Linge. Menurut warga setempat di tempat itulah pertama dibangun masjid dalam wilayah kerajaan Linge, bangunannya mirip dengan Masjid Asal di Penampaan Blangkejeren Gayo Lues yang merupakan masjid kelima yang dibangun di Gayo setelah masjid Linge, masjid Wih Lah Pegasing, Masjid Wih Nareh dan masjid Ketol.

Akhir-akhir ini dilokasi tersebut oleh juru kunci Buntul Linge, Awan Jalil telah dibangun masjid kecil bertekstur kayu. Namun belum pernah dipakai sebagai sarana peribadatan oleh warga setempat sebagaimana mestinya.

Medinah
Diantara situs atau tempat lain yang penting lainnya yang masih disebut-sebut di Linge adalah Medinah (Dinah), tempat berukuran sekitar 30 meter persegi ini konon dulunya ada kontruksi dari batu yang sudah dirapikan berbentuk balok disusun. Belum diperoleh informasi detil tentang sejarah atau kisah keberadaan Medinah ini, namun warga setempat masih menyebut-nyebut tempat tersebut.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top