Free songs
Home / Sara Sagi / Promosi Wisata Aceh Tengah ala Bli Ketut

Promosi Wisata Aceh Tengah ala Bli Ketut


Catatan Kha A Zaghlul

Turis Peranci di Loyang Mendale Takengon. (LGco_Kha@Zaghlul)

Turis Perancis di Loyang Mendale Takengon. (LGco_Kha@Zaghlul)

TIDAK mesti berlatar belakang ilmu pariwisata untuk menjadi guide atau pramu wisata, yang penting punya wawasan dan mampu berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris.

Arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana membuktikannya. Dia tak hanya lihai mengendus jejak-jejak nenek moyang Urang Gayo di Takengon sejak tahun 2009 hingga 2015. Dia mau saja sisihkan waktunya menerangkan tentang temuannya kepada siapa saja yang bertanya, termasuk wisatawan mancanegara.

“Wuih repot aku, tapi kan kasihan jika tidak dikasi tau, orang sudah datang dan nanya-nanya,” kata Ketut beberapa waktu lalu.

Beberapa kali pengalaman sejak mengenalnya di tahun 2009, Ketut bahkan selalu mencoba menguras waktu dan tentunya juga secara tidak langsung uang wisatawan. Bukan untuknya, namun untuk masyarakat Aceh Tengah. Caranya, Ketut memprovokasi wisman dengan menerangkan sejumlah kekayaan potensi Gayo, kopi, kuliner khas Gayo, panorama danau Lut Tawar dan tentu saja objek penelitiannya, Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang.

Keampuhan cara promosi penulis buku Gayo Merangkai Identitas ini patut diacungi jempol, sejumlah wisman percaya akan apa yang diutarakan dan memutuskan untuk tinggal lebih lama di Aceh Tengah. Contohnya keluarga wisman asal Perancis, Penneron yang ke Takengon bersama istri dan 2 orang anaknya setelah mencicip citarasa kopi di arena Sabang Fair 2015.

“Mereka ingin lihat bagaimana kopi Gayo dari kebun hingga prosesnya, sayangnya disini mereka kurang mendapat informasi tentang destinasi wisata,” ujar Ketut awal Juni 2015 lalu.

Kebetulan menginap di satu hotel, Ketut punya kesempatan berbincang-bincang dengan Penneron dan setelah mendapat banyak informasi tentang Aceh Tengah, akhirnya Wisman tersebut memutuskan sehari lagi di Takengon sebelum menuju Ketambe Aceh Tenggara. (baca : Turis Perancis ke Gayo, Penasaran setelah Cicip Kopi di Sabang)

Open-Site-Museum-3“Ya baguslah, mereka minta disewakan mobil, sopir dan diantarkan ke sejumlah tempat wisata di Aceh Tengah. Sedikit banyaknya, uang mereka tentu tinggal disini,” ujar Ketut.

Pernah di tahun 2012, sepasang Wisman malah meminta ikut dalam kegiatan penelitian di Loyang Mendale. Ketut dengan senang hati menerima mereka dan seharian penuh kedua turis tersebut terlibat mengayak tanah, membersihkan temuan-temuan berupa tulang dan pecahan gerabah.

Tidak itu saja, Ketut juga punya koneksi dengan sejumlah media televisi nasional, beberapa kali kesempatan awak TV menghubunginya dan melakukan liputan di lokasi penelitiannya, Loyang Mendale dan Ujung Karang Takengon.

Lalu bagaimana penilaian ayah satu putra dan satu putri ini terhadap promosi wisata Aceh Tengah? Ketut menjawab promosi yang pertama. “Mesti dipromosikan segencar mungkin, misalnya pemasangan poster-poster di beberapa tempat di luar Aceh Tengah seperti di Bandara Kualanamu Medan, Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Pelabuhan penyeberangan Ulee Lheu-Sabang dan tempat-tempat lain.

Wisman di Loyang Ujung Karang. (LGco_Khalis)

Wisman di Loyang Ujung Karang. (LGco_Khalis)

Upaya serupa juga dilakukan di Takengon. “Perlu ditambah penunjuk informasi wisata di daerah ini, berbahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” ujar Ketut. Dicontohkan saat dirinya memasang poster Open Site Museum di Loyang Mendale, langsung banyak orang yang melintas ingin tau dan mampir di Loyang Mendale. Di lokasi tersebut telah dibuka warung sederhana oleh Edy warga Mendale yang mengaku dipaksa oleh Ketut.

“Saya dan istri saya dipaksa oleh pak Ketut membuka warung di hadapan Loyang Mendale, dan ternyata benar, banyak yang mampir di warung saya,” kata Edy saat ditanya terpisah beberapa waktu lalu.

Selanjutnya selebaran-selebaran juga dicetak dan didistribusikan di luar daerah, di Bandara, Pelabuhan, lokasi-lokasi wisata di daerah lain yang terdekat, misalnya Prapat, Nias dan Batam.

Pencerdasan soal kepariwisataan terhadap masyarakat Aceh Tengah juga tak luput dari amatan Ketut. Menurutnya komponen masyarakat daerah ini perlu diberi wawasan tentang kepariwisataan lebih getol lagi, tentu tujuannya agar memudahkan para Wisman yang berkunjung.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top