Sastra Terbaru

Munajat Hati Kedua Sebuah Elegi tentang Kematian Cinta

[Cerpen]

Setyo Pamuji

DUDUK di sebuah tangga yang agak kusam, 2 gadis berhijab dengan menggunakan jilbab paris modern sedang bercakap satu sama lain. Salahsatu gadis mengenakan kerudung berwarna putih, sedang satunya lagi gadis tinggi semampai berkulit putih sawo matang bersih. Satu lagi tanda yang tak dapat dilupa oleh Fahri, mahasiswa semester 7 ini, lesung pipi kirinya ketika tersenyum bercanda dengan sebayanya.

“Kak Hadi, baru selesai kuliah”, sapa gadis berkerudung putih itu.

“Iya dek Siti, sama teman sekelas ya? Ini aku sama teman sekelasku juga. Kenalkan dia Fahri”, sahut Hadi yang baru saja memarkir motor bututnya itu.

Tanpa sebuah kata pun, Fahri hanya mengangguk memberi sapaan kosong karena sedari tadi telah terfokus pada gadis tinggi, teman Siti.

“Oh iya kak, ini Nila kak, teman pondok sekaligus teman kelas juga”, jawab Siti. Sedang si Nila hanya tersipu dengan senyum yang kian menggetarkan hati Fahri.

“Kak, ini titipannya ya, soalnya sudah mau magrib, aku sama nila mau balik ke pondok”, tambah Siti sambil mengulurkan plastik berwarna putih kepada Hadi.

“Oh iya, dek, hati-hati ya. Kakak juga masuk dulu ya”, jawab Hadi

Tempat itu adalah semacam perkumpulan organisasi kampus, semacam camp yang bebas masuk dan keluar bagi anggotanya. Kadangkala tempat dengan bangunan yang cukup tua itu menjadi tempat istirahat setelah melaksanakan perkuliahan. Gedung yang berlantai dua itu juga kerapkali dijadikan pusat diskusi masalah kebangsaan, maklum namanya juga organisasi mahasiswa, dalam rangka mempertajam analisa.

Hari pertama Fahri janjian di depan perpustakaan kampus dengan Nila saat itu dengan mengenakan baju gamis berwarna biru dan kaca mata minus 2 dan 1,75, cukup membelalakan mata Fahri. Sebenarnya bibir Fahri sedikit terkunci kala itu.

“Ehm, ke kantin yuk”, ajak Fahri dengan nada yang agak malu.

“Terserah kakak”, jawab Nila yang tertunduk malu, tak berani menatap.

Suasana cukup mencair, pembicaraan di kantin bercat biru dekat kantor rektorat itu membuat mereka semakin dekat. Beberapa kali pertemuan di kantin itu telah terlewati, hingga kini mereka telah tahu satu sama lain tentang perasaan masing-masing. Bahkan Fahri juga mulai hafal bahwa menu kesukaan Nila adalah sup bandeng segar.

Perjalanan asmara mereka kian hari bertambah dekat, hingga ada rencana Fahri akan segera melamar Nila yang masih duduk di semester 4 itu. Perjalanan mereka sungguh harmonis, hampir tak pernah ada marah satu sama lain, apalagi cek cok.

Fahri yang umurnya lebih tua juga sangat mengerti tentang Nila. Ia membimbingnya dengan sangat hati2 akan melukai hatinya. Apalagi ia sadar bahwa hati perempuan selembut dan seputih kapas, maka noda sekecil apapun akan terlihat jelas disitu, dan susah dibersihkan.

Saat perjalanan liburan bersama, kala itu di tempat wisata petik apel yang menghijau di atas gunung yang memperlihatkan pemandangan panorama yang sangat indah, adalah hari bahagia bagi mereka.

“Maukah adek menikah denganku”, tanya Fahri dengan menunjukan cincin emas putih di dalam wadah yang berwarna merah hati.

“Ehm..” si Nila tak mampu berucap apapun. Ekpresi seorang gadis yang sangat terkaget kala itu, bahagia bercampur haru, lalu ia menganggukkan kepala dan tersipu merah merona wajahnya, serta lesung pipi yang menambah cantiknya.

Kedua orang tua masing-masing juga sudah tahu, akan tetapi ibu si Nila dengan sangat merasa bersalah meminta maaf pada Fahri karena cincin itu belum bisa diterima dengan alasan nila masih semester 4, supaya focus belajar dulu, katanya. Ada sedikit rasa kecewa tentunya, namun Fahri hanya mengangguk dan berkata pada ibuknya Nila:

“Tapi, aku masih boleh bersama Nila kan bu” ,tanyanya

“Iya Nak,” jawab si Ibu melalui telfon.

Akhirnya Fahri tetap menunggu si Nila kelak hingga lulus serta berdo’a supaya Tuhan mempersatukannya, sembari mempersiapkan semuanya. Semakin hari Fahri juga kian paham tentang Nila, apalagi saat Nila susah makan, hampir tiap pagi, Fahri selalu mengirim susu segar kesukaan Nila.

Semua berjalan dengan lancar, dalam masa menunggu itu, Fahri selalu mengorbankan waktunya bersamanya, walau sebagai seorang aktivis dan Penulis, Fahri cukup sibuk kala itu, apalgi 7 hari lagi ia akan wisuda.

“Kak, Nila dijodohkan, adek ngak mau kak”, pesan singkat dari Nila kepada Fahri.

“Hah, apa dek? Tenang ya kakak ke rumah adek”, balas Fahri

Dengan menggunakan motor warna orange itu Fahri menuju rumah Nila yang berjarak 5 jam dari tempatnya. Di tengah perjalanan, Fahri tak henti-hentinya meneteskan airmata. Ia ingat betul manakala ibunya bilang bahwa Nila diminta belajar dulu ketika si Fahri akan melamarnya, namun kenapa sekarang malah dijodohkan. Fahri juga sangat mencintai Nila, hingga sebelumnya jika ia terlintas perpisahan, pasti dia seketika meneteskan airmata.

(Ini bukan masalah cengeng atau terlalu lemah, tapi ini adalah cerita sederhana tentang cinta)

Sesampai di rumah Nila, ada satu mobil yang terparkir di halaman. Saat itu ayah Nila menemui Fahri. Namun sang ayah hanya berkata, semua belum diterima, perlu istikharah dulu, ketika mengkonter Fahri yang selalu menyakinkannya dengan mengatakan bahwa dia mampu menjadi yang terbaik bagi putri anak pertamanya itu. Itulah sifat buruk Fahri, ketika punya hasrat, semangatnya sangat kuat.

Tiga hari setelah Fahri menjelaskan dan menyakinkan semuanya, akhirnya keluarga Nila memilih seorang pemuda kaya di desanya, yang dibawa oleh Kyai-nya itu dengan alasan takut dimaki-maki warga jika menolak lamaran yang disarankan Kyai itu. Semuanya tanpa sepengetahuan Fahri. Namun, tante Nila memberi tahu akan kebenaran itu pada Fahri.

Saat kembali ke kampus, sekaligus hendak memberitahukan sesuatu tentang pencapaiannya dalam wisuda, Fahri mengajak Nila bertemu. Saat itu Nila sudah berubah 180 derajat. Ia seakan sudah tak mengenali Fahri lagi, bahkan untuk ketemu saja, Fahri harus lama menunggunya.

“Apa yang adek rasa”, tanya Fahri saat ketemu di serambi kampus yang menyerupai masjid itu

“Aku cinta dia Kak, aku sudah gak suka kakak”, jawabnya. Fahri seketika menutup kelompak mata, dan berkaca-kaca.

“Lalu kenapa ngak bilang dari kemarin adek. Buat apa kakak ngelakuin semuanya kemarin jika adek memilihnya?”, tanya Fahri.

Ponsel Nila berbunyi karena ada panggilan masuk. Ternyata yang memanggilnya adalah pemuda yang melamarnya bersama Kyai itu, Rian namanya. Lalu Nila memberikan telpon itu ke Fahri karena Rian ingin bicara.

“Hallo, ini mas Fahri ya, tolong ya mas, jauhin Nila, dia sudah miliku”, kata Rian dengan nada yang congkak.  Sebenarnya Fahri ingin berkata bahwa jika bukan karena Pak Kyai, Rian hanya pecundang yang sangat maruk kepadanya. Fahri mulutnya tertutup hanya dengan kata

“Iya Mas, saya akui, saya kalah”

Entah gambaran seperti apa yang dirasa Fahri kala itu. Lama dia menjaga Nila, dengan lika-liku berbagai permasalahan, canda tawa bersama, namun seketika itu ia hilang di tangan orang, dan orang itu dengan sangat mudah berkata seperti itu kepadanya.

Wisuda ke-90 kampus ternama itu digelar. Fahri masih sangat terpikir kepada Nila, gadis yang telah mencuri hatinya itu. Sampai cintanya, kala itu Fahri merasa seperti ada keluarganya sendiri yang meninggal.

“Wisudawan terbaik, Fahri, dipersilahkan maju ke podium untuk menerima penghargaan”, tepuk tangan memecahkan keheningan prosesi wisuda.

Fahri seharusnya tersenyum bangga, namun dia justru bermurung durja meski sesekali melempar senyum ke peserta wisuda dan dosen-dosen, tapi rautnya tak dapat berbohong. Ia tertunduk dan meneteskan airmata serta berkata dalam hati,”Adek, ini untukmu. Adek dimana sekarang? Aku yakin aku mampu jadi yang terbaik buat adek”.

Hari demi hari berlalu, Fahri mendengar bahwa hari pernikahan Nila juga telah ditentukan.  Di sajadah polo situ, Fahri menangis hampir setiap malam dalam sujudnya supaya dikuatkan hatinya.

“Mas Fahri, Nila kabur dari rumah”, kata tante Nila melalui telepon.

“Apa tante? kabur. Saya ke sana tante”, jawab singkat dari Fahri.

Fahri berbicara dari hati ke hati dengan orang tua Nila. Terlihat juga wajah yang sangat kebingungan dari kedua orang tua Nila.

“Aku bantu mencarinya Pak, biasanya aku tahu di mana Nila” kata Fahri.

Tiga hari setelah pencarian, akhirnya Nila ketemu. Yang membuat hal tak terduga, Nila ternyata kabur ke rumah cowok lain, Roi namanya. Roi adalah teman sekelasnya. Betapa kagetnya sang Kyai dan orangtua Nila, apalagi kini mereka jadi bahan pembicaraan se kampung. Melalui Kyai itu, Rian sekeluarga membatalkan lamarannya. Betapa bingungnya kala itu orang tua mereka, hingga merencanakan untuk menghentikan kuliah anaknya, dan akan segera dipondokan saja.

Namun, Roi dengan mobil merah bersama keluarganya mendatangi Nila dan berencana menikahi Nila. Tanpa pikir panjang, sebulan lagi adalah pernikahan Nila dengan Roi. Mendengar kabar itu, Fahri tak mampu berucap apapun. Hatinya sedang sangat berkecamuk.

Beberapa hari menjelang pernikahan Nila, tiba-tiba ibu Nila yang waktu itu telah akrab dengan Fahri meminta tolong kepada Fahri. Sungguh diluar dugaan, bentuk pertolongan itu sangat sangat mencabik hati Fahri, yakni membantu pernikahan Nila. Dengan perasaan hampa, Fahri meminjami sejumlah materi untuk membantu pernikahan orang yang sangat disayanginya dengan orang lain. Hari pernikahannya pun tiba, Fahri hanya terduduk dalam kamar dengan berulang kali berkata, “Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan”. Airmata tak kunjung berhenti.

(Hati yang sempurna bukan lah hati yang tak pernah terluka. Hati yang sempurna adalah hati yang penuh dengan luka, karena ia memberi harapan, memaafkan, bahkan mengikhlaskan, walau terkadang itu mengikisnya)

Sudah setahun Nila menikah dengan Roi, saat itu mereka semester 6. Genap setahun Fahri terdampar dalam lautan cinta beku. Ia telah ikhlas dengan semuanya dan selalu mendoakan yang terbaik bagi Nila, serta kekuatan baginya. Cintanya pada Nila kini telah dikubur. Inilah kematian cinta yang sangat memilukan. Kini Fahri tetap melanjutkan mimpinya, yang pernah diukir.

Begitulah sikap Fahri, kini hidupnya telah menjadi baru lagi. Ia tak merasa pernah ada luka, hati baru telah lahir. Apalagi sekarang ada Hesti, seorang gadis yang pandai berbahasa Inggris dan Perancis. Ketika itu Fahri yang telah menjadi Dosen, mendapat beasiswa kuliah ke Perancis. Ia berencana menikahi Hesti setahun kemudian dan memboyongnya ke Perancis.

Fahri tetap memiliki hati baru yang sempurna untuk calon istrinya itu. Namun dia tak mau membuat Tuhan cemburu lagi, hanya do’a sederhana yang ia panjatkan tiap malam.

”Ya Tuhan, aku mohon ampun karena telah merindukannya, aku tahu terkadang aku tak mampu membaca takdir-Mu yang indah dengan baik. Aku hanya hendak bermunajat. Aku mohon jangan biarkan hamba menangis ketika ia bukan milikku, sebetulnya hamba sangat ingin bersamanya, namun alangkah egoisnya jika aku berdoa supaya ia menjadi milikku”. [SY]

 

*Penulis adalah Penulis Novel “Menembus Cakrawala”, pegiat sastra di Al-Midad. Tinggal di Dawung: RT 007 RW 009, Grabagan Tuban, Jawa Timur.

Comments

comments