Opini Sara Sagi Terbaru

Pendidikan Berbasis Budaya (bag.1)

Tinjauan Teoritik dan Aplikasi Penanaman Nilai Budaya

Oleh: Salman Yoga S*

Foto Salman Yoga SPENDIDIKAN berbasis budaya (culture based education) merupakan mekanisme yang memberikan peluang bagi setiap orang untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pembelajaran seumur hidup. Kemunculan paradigma pendidikan berbasis budaya lebih dipicu oleh dua arus besar. Pertama, berangkat dari asumsi modernisme yang telah sampai pada titik kulminasinya sehingga cenderung membuat manusia untuk kembali kepada hal-hal yang bersifat natural (alami).

Kedua, modernisasi sendiri yang menghendaki terciptanya demokrasi dalam segala demensi kehidupan manusia. Berangkat dari hal tersebut, mau tidak mau pendidikan harus dikelola secara lebih optimal dengan memberikan tempat seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat dengan muatan value cultur (kebijakan lokal) sebagai bagian dari tujuan isi dari pendidikan[1].

Sebagai implikasinya, pendidikan menjadi usaha kolaboratif  yang melibatkan partisipasi dan peran karifan sistem nilai budaya di dalamnya. Partisipasi dalam konteks ini berupa kerjasama antara warga dengan pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, menjaga dan mengembangkan aktivitas pendidikan.

Sebagai sebuah kerja sama, maka masyarakat dengan budayanya diasumsikan mempunyai aspirasi yang harus diakomodasi dalam proses perencanaan dan pelaksanaan suatu program pendidikan yang berpondasi dari akar sistem nilai budayanya sendiri.

Lebih jauh, era desentralisasi-otonomi juga berdampak pada semakin terbukanya kebebasan yang dimiliki masyarakat untuk merancang dan melaksanakan pendidikan sesuai kebutuhan sendiri. Akibatnya, upaya-upaya menyelenggarakan pendidikan berbasis culture bassed education dewasa ini semakin marak[2].

Dalam pandangan tradisional, pendidikan dipandang sebagai kegiatan yang bertujuan atau sebagai jalan menuju pencapaian tujuan yang berada di luar proses pendidikan itu sendiri.

Misalnya pandangan Aristoteles yang melihat pendidikan sebagai sarana untuk membantu dalam pencapaian kebahagiaan, kehidupan yang lebih baik, dan keadaan yang final. Artinya, di sini dipahami bahwa pendidikan adalah alat untuk mencapai tujuan, dengan pengandaian bahwa prosesnya terpisah[3].

Hal ini masih terus berkembang dalam pangadangan masyarakat, seakan ia telah menjadi semacam aikon abadi. Bahwa pendidikan adalah salah satu jalan untuk pintar sekaligus hidup berkecukupan. Mempunyai kehormatan dan prestise tinggi di tengah masyarakat, simbol wibawa dan berbagai idiom-idiom lainnya yang dikaitkan dengan capaian materi.

Lain lagi halnya menurut Leo Toltoy, pendidikan tidak mempunyai sasaran utama di luar pendidikan itu sendiri. Justru tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah berasal dari prosesnya sendiri, yaitu proses bagaimana ”memahami” realitas yang ada. Dengan demikian, pendidikan sangat terkait sekali dengan kebudayaan. Artinya, konsep ini merangkum seluruh nilai  dalam budaya masyarakat yang masih eksis.

Dari paparan tersebut  dapat dilihat tidak disangsikan lagi bahwa kaitan antara pendidikan dan kebudayaan adalah sangat mutlak. Pendidikan adalah “proses” (kebudayaan) manusia untuk mengembangkan kualitas dirinya menuju arah yang lebih baik[4].

Pendidikan berbasis budaya merupakan perwujutan dari demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis budaya menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengatasi segala tantangan kehidupan yang berubah-ubah dan semakin berat.

Konsep dan penerapannya memiliki kesamaan dengan pola pendidikan berbasis masyarakat, sebagaimana yang ditulis oleh  Zubeidi dalam bukunya “Pendidikan Berbasis Masyarakat” 2005. Namun  perlu diketahui pula bahwa masyarakat sendiri berada dalam naungan besar sebuah budaya.

Masyarakat yang mencipta budaya, dan selanjutnya budaya yang memberi warna dan mempengaruhi masyarakat. Sehingga pendidikan berbasis budaya tentu lebih memiliki signifikansi. Hanya saja pendidikan berbasis budaya memiliki tinjauan materi dari segi nilai (value) budaya sebagai suatu yang alihkan kepada peserta didik, sementara pendidikan berbasis masyarakat lebih mengacu kepada keterlibatan masyarakat itu sendiri dalam operasional penyelenggaraan pendidikan.

Secara konseptual, pendidikan berbasis budaya adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada perinsip “dari konsep budaya, digerakkan oleh budaya dan untuk menciptakan budaya baru yang bercorak dan bernilai lebih dari budaya sebelumnya”.

Pendidikan dengan konsep budaya artinya pendidikan memberikan jawaban dan solusi atas penciptaan budaya yang didasari oleh kebutuhan masyarakat, tentu dengan tata nilai dan sistem yang berlaku di dalamnya. Pendidikan berbudaya artinya masyarakat sebagai pemilik budaya dengan segala tatanan nilai dan sistemnya ditempatkan sebagai subjek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, semua unsur yang melingkupi masyarakat dapat berperan aktif dalam terciptanya sebuah budaya yang melingkupi masyarakat itu sendiri.

Lebih spesifik lagi oleh peneliti lainnya menjelaskan bahwa pengertian pendidikan untuk masyarakat adalah masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri[5].

Menurut Michael W. Galbraithh, community –bassed education could be defined as an educational proces by which individuals (in this case adults) bocome more competent in their skills, attitudes, wnd concepts in an effort to live in and gain more control over local aspeccts of their communities through democratic participation. Artinya, pendidikan berbasis masyarakat (budaya) dapat diartikan sebagai proses pendidikan di mana individu-individu atau orang dewasa menjadi lebih berkompetan dalam mengani keterampilan, sikap dan konsep mereka dalam hidup di dalam dan mengontrol aspek-aspek lokal dari masyarakat melalui partisipasi demokratis[6].

Karena desain pendidikan berbasis masyarakat dan budaya dalam lingkup yang lebih luas mengacu kepada pembebasan, penyadaran, dan kreativitas. Sebagaimana yang sejak awal juga telah digagas oleh Ki Hajar Dewantara, misalnya tidak saja memiliki gagasan yang cerdas pada zamannya, tetapi juga tetap aktual di zaman sekarang.

Dia menekankan praktik pendidikan yang mengusung kompetensi/kodrat alam anak didik, bukan dengan perintah paksaan, tetapi dengan tuntunan, sehingga menggugah perkembangan kehidupan anak didik baik lahir maupun batin. Cara pendidikan seperti ini dikenal dengan pendekatan among. Ada dua hal yang mendasari adanya pendekatan tersebut.

Pertama , kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir maupun bathin, hingga dapat hidup merdeka. Kedua kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya[7].

Hal ini terkait dengan perkembangan ilmu di abad mutakhir ini, tepatnya dalam millenium baru peran globalisasi terasa sangat mendominasi aktivitas masyarakat. Kebutuhan akan satu format sistem pendidikan yang komperhenshif-kondusif dirasa sangat perlu diupayakan. Kondisi ini lebih disebabkan karena sangat urgennya pendidikan dalam pembinaan anak didik.

Keberadaannya harus bisa dilaksanakan secara komperhenshif  dan simultan antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan, serta kemampuan komunikasi dan kesadaran akan ekologi lingkungan. Pendidikan yang demikian itulah yang sesungguhnya meruapakan syarat bagi terlaksananya proses “pembudayaan”, yaitu bekal untuk mempersiapkan seorang anak manusia yang bisa menjalani kehidupan secara baik dan mampu beradaptasi dengan suasana pekerjaan yang menjadi sumber mata pencaharian secara lebih baik. Hal ini sebagaimana statement Peter Druker yang meramalkan bahwa masyarakat modren mendatang adalah masyarakat knowledge society, dan siapa yang akan menempati posisi penting adalah aducated person[8].

Indonesia sebagai negara yang cukup potensial dalam perkembangan pendidikan tentu saja harus bisa menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Keniscayaan akan format pendidikan yang lebih baiak sudah menjadi “kewajiban” kita bersama dalam usaha merealisasikannya.

Melakukan suatu usaha pembebasan terhadap pendidikan yang selama ini banyak diwarnai nilai-nilai yang meng-hegemoni kreativitas berpikir anak didik, telah mengharuskan kita berusaha merubah sembari berusaha memberikan konsep baru tentang pendidikan yang sebenarnya.

Memberikan peluang sepenuhnya kepada anak didik dalam rangka mengembangkan kemampuan sesuai dengan talenta-nya. Hal tersebut akan berimplikasi positif terhadap pertumbuhan dan perkembangannya secara alamiah (nature).[bersambung…]

* Budayawan-Seniman, peneliti dan Pengajar di UIN Ar-Raniry Banda Aceh


1.  Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (Yogyakarta: Safria Insania Press, 2004,Cet.II) h. 86.

2. Zubeidi, Pendidikan Berbasis Masyarakat Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial (Yogayakarat: Pustaka Pelajar, 2004) h. 130-131.

3. Nadjamuddin Ramly, Membangun Pendidikan, h.xii.

4.  Ibid.

5. Winarni, Surahkmad, Manajeman Pendidikan Berbasis Sekolah Dalam Rangka Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat (Semarang, Kanwil Depdiknas Provinsi Jawa Tengah, 2002) h.16.

6.   Michael W. Galbrait, Community Based Aducation Organizations ang The Delivery of the Lifelong Learning Opportunities, dalam Zubeidi, Pendidikan Berbasis Masyarakat Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial (Yogyakarata: Pustaka Pelajar, 2005) h.132.

7.   H.A. Malik Fadjar, Kembali ke Jiwa Pendidikan: Memperkokoh Wacana Humanisasi Pendidikan Islam, dalam Membuka Jendela Pendidikan Mengurai Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam (Jakarta: Rajagrapindo Persada, 2004) h. v.

8.  Mastuhu, Pendidikan Indonesia Menyongsong “Indonesia Baru” Pasca Oerde Baru, dalam Sueito, Fauzan (ed),  Sejarah Sosial Pendidikan Islam ( Jakarta, Kencana, 2005) h. xiii.



 

Comments

comments