Sastra Terbaru

Permohonan Terakhir Perempuan Misterius di Makam Datu Uyem. (3)

[Cerpen]

Fathan Muhammad Taufiq

PEREMPUAN itu menunjuk arah dimana dulu sebatang pohon pinus tua berdiri, tapi sekarang pohon itu sudah ditebang orang. Tiba-tiba saja dadaku seperti tertusuk ribuan jarum tajam, terasa sakit sekali, seolah-olah aku sedang merasakan luka yang telah di alami oleh perempuan muda ini.

“Tapi sekarang kamu sudah tau siapa mereka kan?”, tanyaku lagi

“Iya pak, dua orang diantara mereka sudah mati terbunuh sewaktu daerah ini dilanda konflik beberapa tahun yang lalu, sementara seorang lagi saat ini sedang sekarat di rumah sakit setelah tertabrak mobil kemarin”. Aku nggak heran dia bisa tau semua, karena arwahnya yang selama ini gentayangan pasti tahu kejadian di dunia nyata.

“Kedua orang tuamu masih ada?”, aku jadi ingin semakin tau tentang perempuan malang itu.

Ia menggelengkan kepala.

“Ayah ibuku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu pak, mereka selalu memikirkan aku sebagai anak satu-satunya, akhirnya mereka sakit dan meninggal dunia”.

Untuk kesekian kalinya hatiku bagai tersayat mendengar penuturan perempuan itu, kalau saja kedua orang tua perempuan itu masih ada, ingin rasanya aku mencarinya kemanapun  untuk mengabarkan berita menyedihkan ini. Kusap mataku yang mulai basah.

“Terus kenapa kamu masih sering menakut-nakuti orang yang lewat di tempat ini”, selidikku lagi, perempuan itu terdengar menagis terisak sebelum menjawab.

“Aku tidak bermaksud menakuti mereka pak, tapi aku hanya ingin minta tolong”, jawabnya masih sambil terisak, aku seperti sedang melihat seorang gadis yang membutuhkan bantuan.

“Katakanlah nak, barangkali aku bisa memembantu”, tawarku. Untuk pertama kalinya perempuan itu berani memandangku, tatapannya penuh harap dan memilukan.

“Dulu waktu aku mati, jasadku langsung dikubur seperti binatang”, jawabnya dengan nada agak tertahan.

”Tidak dimandikan, dikafani dan di shalatkan, itulah yang menyebabkan arwahku belum merasa tenang di alam baqa pak”, perempuan itu terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya.

“Aku melihat bapak punya keberanian, pasti bapak tau soal agama”, kulihat mata perempuan itu seperti berharap sesuatu.

“Maukah bapak menyempurnakan penguburanku dengan fardhu kifayah? supaya aku bisa tenang dan arwahku tidak gentayangan lagi”, harapnya. Aku mulai bisa menganalisa kenapa arwah perempuan ini sering menampakkan diri, ternyata dia hanya ingin jasadnya diperlakukan secara manusiawi.

“Baik nak, bapak akan bantu”, aku langsung menyanggupi permintaannya.

“Kalau melihat cara kematianmu, kamu ini bisa disebut mati syahid, karena kamu mati saat menunjukkan baktimu kepada kedua orang tua”. Aku mulai menjelaskan, perempuan itu nampak tersenyum yang sama sekali tidak menyeramkan. Tidak ada gigi taring di mulutnya, tidak ada tawa cengingikan, dan aku semakin yakin dia itu adalah perempuan baik-baik. Hanya yang membuat dadaku sesak mengapa dia harus mati dengan cara setragis itu.

“Karena kamu mati syahid, pakaian yang melekat di tubuhmu itulah yang jadi kafanmu, kamu juga tidak perlu dimandikan, tapi aku akan tetap menshalatkanmu”, aku benar-benar ingin menolongnya.

“Sekarang tunjukkan dimana kuburmu”, perempuan itu bangkit memegang tanganku lalu melangkah keremang cahanya. Kulihat kedua kakinya sepert tidak menjejak tanah, tapi itu tidak membuatku takut, kuikuti kemana perempuan itu melangkah. Tepat di bekas pohon besar yang sudah ditebang itu, perempuan itu menghentikan langkahnya, dia melepaskan tanganku,

“Disinilah jasadku terkubur pak”, dia menunjuk tanah di depannya, aku celingukan mencari batu yang agak besar, setelah kudapatkan kuletakkan di tempat yang ditunjuk seperti meleletakkan nisan. Kemudian dengan parang yang kubawa mencoba membuat sedikit gundukan tanah, dan menaburi  batu kerikil di atasnya. Sementara perempuan itu hanya berdiri seperti memperhatikan apa yang sedang aku lakukan, tidak jauh dari makam Datu Uyem.

Selesai merapikan kuburan aku beranjak ke parit yang tak jauh dari tempat itu, airnya cukup jernih untuk mengambil wudhu. Kembail ke tempat perempuan itu berdiri dan kuhadapkan muka ke arah kiblat dan kuniatkan shalat ghaib untuk arwah perempuan itu.

Selesai shalat ghaib aku berjongkok di depan kuburan itu lagi, kubacakan surat al Fatikhah, al Ikhlas dan Yasin yang memang sudah lama aku hafal karena hampir setiap malam Jum’at aku membacanya. Selesai membaca ayat-ayat suci itu kutengadahkan tangan berdo’a untuk arwah perempuan itu, sementara itu ia masih berdiri di sampingku.

Usai ritual aku kutatap wajah perempuan itu, ia tersenyumpuas. Aku seperti sedang melhat seorang gadis manis yang dibahagiakan oleh kehormatan dirinya sendiri, dan aku semakin yakin bahwa dia bukan hantu atau dedemit yang perlu ditakuti, karena bila jika demikian tentu ia sudah lari terbirit-birit mendengar bacaan ayat suci.

“Terima kasih atas pertolongan bapak, sekarang aku sudah bisa tenang di duniaku”,  perempuan itu berkata lirih. Sebelum sempat aku menjawab perempuan itu sudah menghilang dari hadapanku seperti kabut yang ditiup angin. Kupandangi gundukan tanah di depanku dengan lega.

“Semoga kau tenang disana nak, Allah akan menempatkanmu ditempat yang mulia”, bisikku dalam hati. Kuraih sebuah botol bekas dan kuisi dengan air, kutuangkan di atas pusara gadis malang itu. Tak terasa air mataku menetes seiring aliran air dari botol itu. Dari arah Masjid Al Abrar Kebayaken kudengar adzan subuh menggema.

Tiga bulan sudah berlalu, akupun sudah mulai melupakannya. Hanya sekali-sekali saja ketika aku lewat di kuburan itu kusempatkan menziarahi sekedar untuk meliaht atau berdoa untuknya. Sejak saat itu tidak pernah lagi kudengar cerita dari teman-teman tentang panampakan perempuan misterius di area makam Datu Uyem. TAMAT. [SY]

Baca juga
Bagian 1 : Misteri Perempuan Muda Di Makam Datu Uyem. (1)
Bagian 2 : Kesaksian Perempuan Misterius Di Makam Datu Uyem. (2)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *