Sara Sagi Terbaru

Renggali Ujung Baro Bikin Nadia Rindu Gayo

Oleh : Win Wan Nur*

Nadia di acara pemutaran film Filosofi Kopi (Foto by: Fifick)
Nadia di acara pemutaran film Filosofi Kopi (Foto by: Fifick)

USAI acara pemutaran film Filosofi Kopi di Kopi Kultur, Sanur. Saya baru saja selesai mengirimkan artikel tentang film ini ke LintasGayo.co dan mengembalikan memory card milik Fifick yang foto-fotonya saya gunakan sebagai ilustrasi artikel.

“Merci (terima kasih)”, kata saya ketika Fifick menerima kartu yang saya berikan.

“Ah vous parlez francais?”, tiba-tiba terdengar sebuah suara bening yang renyah yang berasal dari seorang perempuan berkulit putih dengan rambut panjang digelung yang menoleh ke arah ku yang berada di belakang kursi tempatnya duduk.

“Ah…Oui” (iya), jawabku

“Mais….Vous êtes gayonais, non? (Tapi, kamu orang Gayo, kan)” , selidiknya. Dia tahu aku seorang Gayo karena diperkenalkan oleh Pak Ayip, pendiri Kopi Kultur yang menjadi moderator acara diskusi tadi.

« Oui, pourquoi ? (Iya, kenapa ?)», kataku sambil tersenyum.

« Mais, vous parlez français (Tapi kamu bisa bahasa Perancis) ? », tanyanya lagi dengan mata berbinar.

Lalu kami pun melanjutkan pembicaraan dalam bahasa Perancis. Sembari sesekali diinterupsi  dengan nada bertanya oleh para pengunjung yang mengenalnya atau saya.  “Kalian lagi ngomong jorok ya?”, kata mereka.

Gadis ini bernama Nadia, lengkapnya Nadia Dwi Purwi Andayani. Dia baru sebulan di Bali dan belum banyak kenal orang dan menurutnya dia tidak banyak menemui orang yang bisa berbahasa Perancis sehingga dia bisa mempraktekkannya. Dan terlebih lagi, ternyata Nadia pernah tinggal di Gayo, pada saat almarhum bapaknya ditunjuk menjadi General Manager di Hotel Renggali. Karena itulah dia senang sekali bertemu saya.

Dengan suara renyahnya Gadis berkulit putih bertinggi 163 cm kelahiran tahun 1986 ini bercerita kalau, pada tahun 1990-1991, almarhum ayahnya yang bernama Editiawarman pernah menjadi General Manager di Hotel Renggali.  Saat itu Nadia masih sangat kecil umurnya baru sekitar empat sampai lima tahun. Tapi ada banyak kenangan pada masa itu yang tidak bisa dia lupakan. Salah satunya adalah kenangan pada sosok Pak Rustam, tukang kebun di Hotel Renggali yang bersikap sangat baik kepadanya. Kenangan lain adalah saat-saat ketika dia diajak jalan-jalan ke luar dari Hotel oleh almarhum ayahnya yang sudah berpulang pada tahun 2004 silam.

Dengan sorot mata menerawang, Nadia mengatakan bahwa dia masih ingat setiap kali dia diajak ayahnya berjalan-jalan, mereka melintasi sebuah jembatan dengan air yang sangat jernih mengalir di bawahnya. Tapi dia tidak tau itu di mana tempatnya.

Saya yang tinggal di Dedalu dan setiap hari melewati jembatan itu saat pulang dan pergi sekolah, tentu saja langsung mengerti kalau jembatan yang dimaksud adalah ‘Totor Bale’.

Dan kenangan paling tak terlupakan dari masa-masa di mana Nadia dan keluarganya melewatkan waktu sebagai ‘Koro Jamu’ di Gayo adalah kelahiran salah seorang adiknya yang oleh almarhum ayahnya dinamakan Nizam Satrio Gayo.

Kenangan di masa kecil itu membuat Nadia berharap suatu hari nanti dia berkesempatan untuk mengunjungi Gayo lagi.

Adagium ‘wajah cantik dan otak cerdas sulit bekerja sama ‘ sama sekali tidak berlaku pada gadis lulusan sastra Perancis UI yang fasih berbicara dalam bahasa Inggris, Perancis, Belanda dan Bahasa Indonesia, yang pernah melewatkan masa kecilnya sebagai ‘koro jamu’ di Gayo ini.

Di Bali, bersama Rowan Kane, seorang sarjana Hubungan Internasional asal Amerika, Nadia mendirikan Kosakata  Intercultural Relations,  sebuah perusahaan yang dimaksudkan untuk menjembatani hambatan budaya dan sosio ekonomi yang kerap dihadapi oleh Indonesia saat berhubungan dengan negara asing.

Apa yang sedang dibangun oleh Nadia di Bali, tidak terlepas dari pengalamannya yang sejak kecil terus menjadi ‘Koro Jamu’ berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti pekerjaan almarhum bapaknya. Pengalaman berpindah in berlanjut saat Nadia menginjak usia remaja. Umur 17 tahun dia sudah tinggal di Bandung, meninggalkan keluarganya di Cimahi,  lalu melanjutkan kuliah di Depok, lalu ke Jakarta dan kemudian ke Belanda. Sebelumnya dia juga pernah tinggal di Perancis.

Sering berpindah tempat tinggal membuat Nadia menjadi pribadi yang lentur dan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Hotel Renggali di Ujung Baro Lut Tawar. (Foto : Gunawan)
Hotel Renggali di Ujung Baro Lut Tawar. (Foto : Gunawan)

Nadia mencontohkan saat dia berada di Belanda, menurutnya bahkan di abad ke-21 ini masih tidak sedikit orang di Belanda yang seolah masih hidup di zaman VoC, yang menyangka kalau Indonesia ini masih alam liar, orang masih berbalut kain sederhana saat berpergian kemana-mana dan tidak berpendidikan. Mereka tidak tahu kalau di Jakarta sekarang, mal-mal dan pusat perbelanjaan mewah bertebaran di mana-mana. Bahkan beberapa, di Belanda pun tidak ada yang semewah itu.

Karena itulah kata Nadia, pernah dalam satu pertemuan ada beberapa orang yang memandangnya dengan pandangan remeh karena dia berasal dari Indonesia. Mereka mengernyitkan dahi ketika Nadia mengatakan dia membaca Sartre dan Simone de Beauvoir.

Tapi Nadia tidak mau menghabiskan energi untuk melayani orang seperti itu. Untuk menghilangkan pandangan anggap remeh seperti itu dia lebih memilih untuk meningkatkan kapasitas diri dan kemampuan beradaptasinya. Misalnya dengan berusaha belajar bahasa Belanda, meskipun sebenarnya tidak perlu, karena di Belanda hampir semua orang bisa berbahasa Inggris. Hasilnya,hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja, Nadia sudah bisa berbahasa Belanda. Lalu dia juga mengikuti tradisi setempat, membawa bunga saat berkunjung dan ternyata semua yang dia lakukan itu sangat diapresiasi oleh masyarakat di sana.

Kemudian seperti diakui oleh Nadia, sejak dia kecil, nilai « Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung » telah ditanamkan dengan kuat oleh almarhum ayahnya dan ini benar-benar dipegang oleh Nadia.

Nadia di ruang kerjanya
Nadia di ruang kerjanya

Tidak peduli sebesar apa jasa yang sudah dia berikan kepada masyarakat di tempatnya yang baru, Nadia tidak akan pernah melecehkan atau menganggap rendah cara hidup dan prinsip yang dianut  oleh masyarakat setempat.

Sebagai contoh Nadia, yang sudah menerbitkan sebuah review sastra berjudul  Le Banian;  yang diproduksi oleh Association Franco-Indonésienne  di Paris ini juga merupakan salah satu  pendiri Yayasan Gelora yang bekerja meningkatkan kapasitas siswa dan guru di sekolah-sekolah di Indonesia. Tapi meskipun apa yang dia lakukan ini, bisa dikatakan cukup besar gadis yang pernah kuliah Filsafat di Leiden ini tak pernah merasa jumawa.

«Saat kita datang ke suatu tempat untuk tinggal, kita harus sadar bahwa sebelum kita datang, di sana sudah terlebih dulu ada orang lain yang tinggal dengan nilai-nilai dan cara hidup yang mereka anut. Dalam hal ini, kita lah sebagai pendatang yang harus beradaptasi », jelas Nadia tentang prinsipnya sebagai ‘Koro Jamu’.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, tak terasa sudah dua jam lebih saya mengobrol dengan Nadia.

Berbincang dengan gadis ini benar-benar membuat kita lupa waktu. Wawasannya yang begitu luas, sikapnya yang begitu simpatik serta wajah teduhnya yang menenangkan, membuat kita sulit untuk menghentikan pembicaraan.

Tapi karena waktu yang sudah larut dan masih begitu banyak kesibukan lain yang harus dilakukan esok hari. Apa boleh buat, dengan berat hati akhirnya pembicaraan ini pun terpaksa harus saya akhiri.

Dan dari hasil perbincangan dengan Nadia  dan kemudian membandingkannya dengan segelintir ‘Koro Jamu’ yang begitu jumawa melecehkan penduduk setempat yang kebetulan berbeda pandangan dengannya. Kita bisa menyimpulkan bahwa semakin cerdas dan semakin tinggi wawasan seorang ‘Koro Jamu’, semakin dia menghormati penduduk dan budaya di tempatnya tinggal.

Arogansi dan sikap jumawa, merasa diri lebih hebat dan banyak jasa, biasanya memang hanya datang dari orang yang justru sebenarnya tidak ada apa-apanya.

Benarlah kata pepatah ‘Padi semakin berisi semakin menunduk’ dan ‘Air beriak tanda tak dalam’.[]

*Pemerhati sosial politik, tinggal di Bali 

Comments

comments