Free songs
Home / Kopi Gayo / Angga Dwimas Sasongko; Sutradara Cerdas, Kritis nan Idealis di balik Filosofi Kopi

Angga Dwimas Sasongko; Sutradara Cerdas, Kritis nan Idealis di balik Filosofi Kopi


Oleh : Win Wan Nur

Angga Dwimas Sasongko saat diskusi pasca pemutaran film Filosofi Kopi (Foto : Fifick)

Angga Dwimas Sasongko saat diskusi pasca pemutaran film Filosofi Kopi
(Foto : Fifick)

PERAWAKANNYA kecil, berkacamata dan berambut panjang. Sekilas tidak ada yang istimewa dari sosoknya. Tapi dialah Angga Dwimas Sasongko sineas muda yang berada di balik kesuksesan film Filosofi Kopi.

Sebagai sutradara, Angga dikenal piawai dalam mengarahkan seluruh kru dan pemain. Ciri lain dari Angga, dia sangat dekat dengan obyek yang sedang dia garap dalam film. Angga selalu melakukan riset, dan persiapan yang matang, ketika dia mengerjakan film-film-nya. Inilah yang mengantarkannya masuk ke dalam jajaran sutradara terbaik di negeri ini.

Satu contoh bagaimana piawainya Angga dalam mengarahkan kru dan pemain terungkap dalam sesi diskusi pada acara pemutaran film Filosofi Kopi yang dihadiri sekitar 400 orang di Kopi Kultur, Sanur – Bali pada 7 Juni 2014.

Rio Dewanto salah seorang aktor utama dalam Filosofi Kopi menceritakan bagaimana solidnya tim yang mengerjakan proyek Filosofi Kopi. Menurut suami aktris cantik Atiqah Hasiholan ini, akibat dari keras dan disiplinnya Angga mengarahkan pemainnya untuk masuk ke dalam karakter di film. Sampai saat ini pemeran Jody di Filosofi Kopi ini masih belum bisa keluar dari karakter yang dia perankan di film. « Jadi saat sekarang bicara di sini pun, kadang saya masih merasa saya adalah Jody, bukan Rio », paparnya.

Sementara, Chicco Jericho yang memerankan karakter Ben yang merupakan seorang Barista ‘dipaksa’ oleh Angga untuk benar-benar memahami Kopi layaknya barista betulan. Sehingga ketika film ini selesai, Chicco Jericho sang pemeran Ben betul-betul menjadi sangat menguasai Kopi. Sehingga pada hari yang sama dengan acara pemutaran film di Bali ini, Chicco Jericho justru sedang menjadi juri kompetisi Barista di Jakarta.

Sinopsis-Film-Filosofi-Kopi-2015Selain itu, Angga yang sudah membuat film pendek sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas ini benar-benar paham bagaimana caranya mengeksekusi naskah. Kemampuan ini sudah dia tunjukkan sejak dia menggarap film Hari untuk Amanda.

Angga yang selain sebagai sutradara juga berprofesi sebagai petani sayuran-sayuran langka seperti kale, zucchini, dan daun rocket ini juga sangat peduli pada detail. Pada Filosofi Kopi, ini ditunjukkan dengan sempurna oleh mantan mahasiswa UI ini pada saat menggambarkan tanaman Kopi milik Pak Seno (Slamet Rahardjo) yang menghasilkan kopi tiwus, yang disebut sebagai Kopi terenak oleh El (Julie Estelle) yang merupakan Q Grader berpengalaman. Kopi yang digambarkan oleh Angga di film ini adalah varietas Typica, yang memang menghasilkan biji kopi dengan rasa terbaik. Bayangkan seandainya Angga menggambarkan Kopi terbaik itu dengan kopi Catimor yang merupakan favorit petani. Angga pasti sedikitnya akan mendapat cibiran dari pecinta kopi type hard liners.

Kedalaman riset Angga juga terlihat dari bagaimana dia menerangkan alasan di balik kenikmatan Kopi Tiwus. Itu karena ada sosok Bu Seno, yang merupakan seorang perempuan Gayo. Ini sangat menarik karena keberadaan Gayo yang tenggelam di dalam Aceh, tidak banyak orang yang tahu bahwa Gayo adalah satu-satunya etnis di Indonesia yang hidup dan aliran nafasnya begitu dekat dengan Kopi. Kopi adalah nafas dan hidup Gayo.

Idealisme dan ideologi mantan mahasiswa sosial politik UI yang tidak menyelesaikan kuliah karena berkelahi dengan dosennya ini terlihat jelas di dalam film-film garapannya. Contohnya seperti film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2013) yang mengantarkannya meraih citra sekaligus melambungkan namanya di jagat perfilman Indonesia ini, jelas sangat kental dengan nuansa ideologi dan idealisme politiknya.

Di film Filosofi Kopi, anak kedua dari empat bersaudara ini menunjukkan sisi ideologis dan perlawanannya dengan penggambaran konflik petani kopi dengan pengusaha sawit. Cerita yang sebenarnya tidak ada dalam novel karya Dewi Lestari.

Sutradara berambut gondrong ini juga sangat peduli pada isu-isu pluralisme dan hak-hak minoritas. Dalam sebuah perbincangan bersama LG.co ketika acara sudah selesai, saat Angga menanyakan perbedaan Gayo dengan Aceh dan LG.co menjelaskan bagaimana Aceh itu sebenarnya adalah Provinsi dengan beragam suku, yang sangat berbeda karakter budaya dan bahasa.  Angga langsung menyimpulkan bahwa sebenarnya Indonesia sangat keliru ketika mendefinisikan provinsi-provinsi berdasarkan suku.

Angga bahkan sampai pada pemikiran ekstrim bahwa Taman Mini Indonesia Indah sebenarnya harus dihancurkan, karena keberadaannya menguatkan dominasi suku-suku mayoritas di tiap provinsi dan semakin mengesampingkan keberadaan suku-suku minoritas.

Dalam konteks Kopi, Angga sangat kentara sekali menghargai Gayo demikian tinggi. Ini tercermin dari ucapannya saat diskusi, ketika Angga mengatakan «  Penggemar Kopi itu macam-macam, dari berbagai kalangan, karena itu semua harus kita akomodir. Tidak mungkin semua orang mampu membeli dan mengkonsumsi Kopi Gayo yang memang mahal dan berkualitas tinggi, tidak mungkin kan Kopi Gayo dijual dengan harga 3000 per cangkirnya sebagaimana harga yang mampu dibayar oleh banyak orang », Kata Angga.

Setiap film yang dibuat Angga selalu memiliki misi di belakangnya. Film Filosofi Kopi sendiri, dibuat Angga sebagai usaha untuk mengangkat Kopi Indonesia untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebab menurut Angga, seperti lokasi penyelaman, Kopi Indonesia adalah Kopi terbaik di dunia “ Menyedihkan sekali kalau Orang Indonesia tidak suka menyelam dan Kopi” kata Angga.

Karena itulah Angga sangat antusias saat LG.co mengajaknya untuk melakukan pemutaran film di Gayo. Dia berharap seandainya acara ini terjadi, Gayo akan semakin dikenal dan bukan hanya sebagai produsen Kopi, tapi juga sebagai tujuan wisata Kopi.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top