Keber Ari Gayo Terbaru

“Mana Mungkin Pecahan Gerabah itu Peninggalan Kuno”

2015-06-04 16.08.18
Fragmen gerabah slip merah yang masih menancap  pada lapisan neolitik, di dinding tebing Loyang Mendale.

Catatan: Muhammad Syukri

Tim arkelog Balar Medan yang dipimpin oleh Ketut “Aman Met” Wiradnyana, kali ini tampil beda. Fragmen gerabah dari zaman neolitik yang ditemukan di lokasi eskavasi Loyang Mendale II Kebayakan Aceh Tengah, dipajang diatas balai-balai berukuran 20 cm x 400 cm. Pajangan yang letaknya sangat dekat dengan ruas jalan nasional Bintang-Takengon, ternyata menarik perhatian warga yang melintasi ruas jalan tersebut.

Kamis sore lalu (4/6/2015), warga mengerumuni temuan fragmen gerabah prasejarah yang dipajang diatas balai-balai berbalut plastik warna biru itu. Mereka sepertinya penasaran terhadap aktivitas sejumlah orang di lokasi eskavasi itu. Seperti diberitakan LintasGayo beberapa waktu lalu, warga mengira pajangan itu adalah obral bongkahan giok.

Dari perbincangan antar warga di lokasi eskavasi itu, sempat terdengar bisik-bisik diantara mereka bahwa tim arkeolog itu sedang menggali batu giok. Topik bisik-bisik itu sangat wajar karena demam giok belum meredup di Aceh Tengah. Lagi pula, setiap ada kerumunan orang di kota Takengon sudah dapat diduga bahwa disana sedang berlangsung obral bongkahan giok dan bakalan batu akik.

Bisik-bisik itu ternyata didengar oleh arkeolog Ketut Wiradnyana yang digelar sebagai “Aman Met.” Kepada warga yang sedang mengerumuni pajangan fragmen gerabah itu, “Aman Met” menjelaskan bahwa benda-benda diatas balai-balai itu bukan giok, tetapi serpihan gerabah yang berusia 3000 tahun lalu.

“Ah, mana mungkin pecahan gerabah itu peninggalan kuno, paling-paling itu sisa pecahan pot yang dibuang kesitu,” celetuk seorang pemuda yang berdiri disamping saya.

Bakda Ashar, satu persatu pengunjung meninggalkan lokasi eskavasi. Bersamaan dengan itu, tim arkeolog mulai memilah dan memasukkan fragmen gerabah itu kedalam kantong plastik. Disela-sela itu, saya sampaikan celetukan pengunjung tadi kepada Ketut Wiradnyana. Lelaki asal Jembrana Bali itu tidak kaget, malah tertawa.

“Jelas tidak mungkin, fragmen gerabah itu kita temukan dilapisan tanah zaman neolitik,” ungkap Wiradnyana.

Wiradnyana mengajak saya untuk naik ke dinding tebing yang amat curam. Di dinding tebing itu, dia memperlihatkan beberapa fragmen gerabah yang masih menempel di kedalaman 20 cm dari lantai Loyang Mendale. Petak eskavasi mereka belum sampai ke dinding tebing tersebut, makanya fragmen gerabah masih dibiarkan menggantung disana.

Saya terlebih dahulu memotret fragmen gerabah tersebut, lalu menariknya dari lapisan tanah. Terlihat nyata, itu fragmen gerabah slip merah. Hal yang paling menarik, gerabah itu cukup rapi proses pembuatannya dan simetris. Padahal, teknologi waktu itu masih sangat sederhana. “Itulah bukti orang-orang Hoabinh itu cukup cerdas, berseni dan kreatif,” sebut Wiradnyana.

Kemudian, saya melihat ke sisi lain tebing, ternyata masih banyak fragmen gerabah yang menempel disana. Fakta itu kembali meyakinkan saya bahwa fragmen gerabah yang ditemukan para arkeolog bukan pecahan pot seperti disinyalir oleh pengunjung tadi. Sinyalemen pengunjung itu mengindikasikan bahwa belum banyak warga Kabupaten Aceh Tengah yang menyadari adanya penemuan berskala dunia di daerahnya. Bisa-bisa teori pola migrasi manusia akan mengalami perubahan mendasar.

Sabtu sore tadi, saya dan Ketut Wiradnyana bertemu dengan Aman Iko (53) di sebuah warung kopi. Aman Iko adalah warga Lot Kala Kebayakan yang sangat mengenal Loyang Mendale. Sejak masih duduk di sekolah dasar, dia selalu melewati Loyang Mendale, karena itulah satu-satunya jalan menuju ke kebunnya di Pukes, sekitar 4 Km dari Kebayakan.

Seingatnya, sekitar tahun 1970-an, didepan Loyang Mendale itu dipenuhi oleh tanaman bambu. Tempat itu terkesan cukup angker. Sangat jarang warga datang ke Loyang Mendale, kecuali untuk mengambil pohon bambu. Warga memanfaatkan bambu itu untuk membuat tempat penyangkulen di pinggir Danau Laut Tawar.

Aman Iko mengaku, dimasa itu belum pernah masuk ke dalam Loyang Mendale. Sebab, untuk masuk ke sana sangat sulit, terhalang rumpun bambu yang penuh duri serta takut akan adanya  binatang melata. Setelah PT KKA membuka jalan di depan Loyang Mendale pada awal tahun 1980an, bambu-bambu itu dibersihkan dengan alat berat.

Sejak saat itu, barulah warga dapat melihat bentuk Loyang Mendale secara lengkap. Walaupun sudah dibersihkan dari semak belukar dan pohon bambu, ternyata warga tetap  jarang  masuk ke Loyang Mendale. Paling sering, Loyang Mendale itu dimanfaatkan oleh ternak kerbau atau kambing untuk berteduh.

Warga Mendale dan Kebayakan, tutur Aman Iko, tidak pernah menyadari jika dibawah lantai loyang itu ada jejak manusia prasejarah. Setelah kerangka mereka ditemukan oleh para arkeolog, baru disadari bahwa itulah muyang datu.

“Sungguh kita telah mengabaikan komplek muyang datu yang pernah hidup ribuan tahun lalu disana,” sebut Aman Iko.

Sudah selayaknya komplek muyang datu itu dirawat dan dijaga dengan sebaik-baiknya. Peninggalan dan benda budaya yang mereka tinggalkan harus diselamatkan dan dimuseumkan. Kenapa, tanya Aman Iko?

Supaya anak cucu kita tahu siapa nenek moyangnya. Mereka telah membawa kita dari daratan Asia ke tempat yang cukup indah ini. Tempat yang subur, ditepi sebuah danau. Seandainya di masa itu mereka bermigrasi ke Australia, maka kita akan menjadi orang Aborigin, bukan warga Kebayakan, kelakar Aman Iko.

Sebaiknya, kata Aman Iko, didepan Loyang Mendale itu perlu dibuat bilboard raksasa yang bertuliskan: INILAH KOMPLEK MUYANG DATU. Ini penting, sebab perkembangan penduduk kedepan makin cepat dan heterogenitas tidak terhentikan. Jangan sampai heterogenitas menyebabkan kita lupa kepada asal muasal.

“Loyang Mendale inilah harus dijadikan monumen, tempat anak cucu nantinya belajar mengenal muyang datu,” pungkas Aman Iko.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *