Sastra Terbaru

Kesaksian Perempuan Misterius Di Makam Datu Uyem. (2)

[Cerpen] Bagian 2
Fathan Muhammad Taufiq*

UDARA dingin kembali menyeruak ketika aku sampai di kuburan tua itu, tapi tidak menyurutkan langkahku untuk melakukan sebuah pembuktian yang mungkin bagi orang lain terkesan seperti kurang kerjaan. Kali ini aku memilih tempat yang lebih tersembunyi, tapi dengan tidak jauh dari tembok semen yang konon jadi tempat munculnya penampakan. Hampir setengah jam aku bersembunyi di semak-semak. Gigitan nyamuk tidak kuhiraukan, sementara mata tetap terjuju ke tembok semen.

Jantungku terasa berdegup kencang, bulu kudukku tiba-tiba meremangmeski tidak sedang ketakutan. Entah dari mana datangnya tia-tiba saja sesosok tubuh perempuan sudah duduk di tembok semen itu, aku coba menenangkan diri. Perlahan aku keluar dari persembunyian dan menghampiri sosok perempuan misterius itu. Ia seperti terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba dan hendak berlari, tapi aku berhasil memegang tangannya yang terasa sangat dingin. Aku seperti sedang memegang bongkahan es batu. Demikian dinginnya hawa, rasa dingin seperti ikut merayapi seluruh tubuhku. Perempuan itu coba meronta melepaskan diri dari cekalan tanganku.

“Jangan takut, aku tak bermaksud jahat padamu”, kataku coba menenangkannya.

Ia berhenti meronta lalu duduk kembali di tembok semen dan kulepaskan cekalan tangan.

Langit yang tadinya mendung kembali cerah, bulan sabit muncul menghadirkan cahaya temaram, dan dibalik temaram sinar rembulan aku melihat perempuan berambut panjang itu agak jelas, sebagian rambut menutupi wajahnya yang terlihat pucat pasi. Tatapan matanya kosong. Pakaian yang dikenakannya biasa saja seperti gadis-gadis desa pada umumnya, tidak seperti yang digambarkan di film-film horror. Aku sendiri tetap sadar, bahwa aku sedang berhadapan bukan dengan orang biasa, karena kemunculannya yang tiba-tiba ditempat sepi itu sudah cukup membuktikan dia bukan perempuan biasa. Tetapi aku tidak menaruh kecurigaan apapun pada perempuan itu. Justru ingin tau kenapa dia sampai berada di tempat yang nggak lazim seperti ini.

Bagi orang yang melintasi tempat itu pasti menganggap dia sebagai hantu penampakan, apalagi lokasi itu adalah perkuburan tua yang dianggap angker oleh sebagian orang. Aku juga sadar bahwa aku sedang berhadapan dengan makhluk ghaib yang mungkin selama ini dianggap sebagai hantu kuburan tua Datu Uyem.

Tapi rasa ingin tahuku yang begitu besar membuatku masih bisa bersikap wajar dalam kondisi seperti itu. Yang membuat aku heran, sedikitpun tidak ada rasa takut dalam diriku padahal tempat itu sangat sepi dan mencekam.

Sosok perempuan itu masih sangat muda, gurat-gurat kecantikan juga nampak di wajahnya yang pucat pasi. Kuperhatikan perempuan itu menundukkan kepalanya, sepertinya ia tidak berani menatap, tapi ia sudah mulai tenang, aku semakin penasaran untuk mengorek informasi darinya. Seperti berada di alam bawah sadar aku mencoba berdialog dengan sosok perempuan misterius itu.

“Sebenarnya kamu ini siapa dan kenapa kamu berada disini?”, aku membuka kebekuan dengan pertanyaan.

“Namaku Imah pak”, terdengar jawaban lirih perempuan itu.

“Aku sudah mati tiga puluh tahun yang lalu”, jawabnya dan aku tidak terkejut, malah makin ingin tau lebih banyak lagi.

“Tapi kenapa arwahmu masih gentayangan seperti ini, teman-temanku yang pernah jadi ketakutan”, aku coba menyelidik.

“Dulu aku diperkosa lalu dibunuh oleh tiga orang laki-laki di tempat ini”, kali ini aku terkejut mendengar jawaban perempuan itu.

Aku membayangkan tiga puluh tahun yang lalu, kuburan ini memang sudah ada tapi nyaris tidak terawat, semak belukar menutupi semua areal pekuburan. Jalan di samping kuburan itu juga masih berupa jalan tanah yang jarang dilewati orang, memang kalau ada tindak kejahatan seksual di tempat itu hampir dipastikan tidak akan diketahui orang.

“Kamu mengenal mereka?”, aku menyelidik, darahku seakan mendididih mendengar kebiadaban yang dilakukan oleh tiga laki-laki jahanam itu.

“Tidak pak!”, jawab perempuan itu lagi masih dengan suara lirih. Kali ini lebih terdengar pilu.

“Waktu itu aku baru pulang dari sawah membantu ayah ibuku, ketika melewati tempat ini tiba-tiba tiga laki-laki itu menyekap dari belakang lalu memperkosaku. Karena berteriak minta tolong dan aku melihat jelas wajah-wajah mereka dengan jelas, akhirnya mereka membunuhku. Mereka menguburku di bawah pohon tua itu”.

Perempuan itu menunjuk arah dimana dulu sebatang pohon pinus tua berdiri, tapi sekarang pohon itu sudah ditebang orang.

Tiba-tiba saja dadaku seperti tertusuk ribuan jarum tajam, terasa sakit sekali, aku sedang merasakan luka yang telah di alami oleh perempuan muda ini. [SY]

*Penulis dilahirkan di Magelang, 28 Agustus 1965, pendidikan terakhir SMA I Takengon (1986), PNS Dinas Pertanian 1990 – 2010, PNS Badan Penyuluhan 2010 – Sekarang, menulis di Warta Pangan, Tabloid Sinar Tani, Kompas Media dan LintasGayo.co

Bagian 1 : [highlight]Misteri Perempuan Muda Di Makam Datu Uyem. (1)[/highlight]

Comments

comments