Free songs
Home / Inilah Gayo / Jejak ‘Jeret Belene’ di Gayo Lues

Jejak ‘Jeret Belene’ di Gayo Lues


Catatan : Syamsuddin Said*

Syamsuddin-SaidBELANDA sangat bernafsu menguasai Tanoh Gayo, dari catatan sejarah mereka rela berpuluh tahun mengorbankan nyawa dan biaya untuk menaklukkan Gayo. Salah satu bukti sejarah yang ditinggalkan adalah komplek kuburan orang Belanda yang terletak di Pengkala persisnya kurang lebih setengah kilometer dari kota Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues, oleh masyarakat tempat ini disebut Jeret Belene (Jeret: kuburan, Belene: Belanda).

Dulu ketika Belanda berada di Blangkejeren (1904) hingga datangnya bala tentara Jepang (1945), kuburan ini cukup bersih dan terawat rapi serta di jaga siang malam.

Tetapi sekarang kuburan atau Jeret Belene ini sudah jadi semak belukar, beberapa batu nisan sudah hancur dan hilang karena pernah digarap orang jadi kebun yang ditanami singkong dan pohon pisang.

Bahkan sempat ada tugu peringatan perjalanan ekspedisi Van Daalen ke Gayo Lues masih dapat dilihat ditengah-tengah kuburan Belanda yang berlokasi di Pengkala Blangkejeren, sekarang sudah hilang entah kemana. Pada tugu tersebut tertulis Ter herinnering aan onze gevallen helden den tocht van overste Van Daalen in de Gajo LoeÖs v/m 18 Maart 1904 T/m 3 Juni 1904 yang terjemahannya “Kenang-kenangan kepada pahlawan-pahlawan kita yang gugur dalam perjalanan di daerah Gayo Lues sejak 18 Maret 1904 sampai 3 Juni 1904”.

Kondisi Jeret Belene saat ini yang ditumbuhi semak belukar. (Foto : Syamsuddin Said)

Kondisi Jeret Belene saat ini yang ditumbuhi semak belukar. (Foto : Syamsuddin Said)

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1993 tentang pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 antara lain tertuang dalam Bab I ketentuan umum Pasal I menyebutkan yang di maksud dengan Benda Cagar Budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan.

Pertanyaannya apakah kuburan Belanda atau Jeret Belene ini tidak termasuk benda cagar budaya, sehingga dibiarkan begitu saja? Hanya instansi yang berkompetensilah paling tahu dan berhak untuk menjawabnya.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun, mayoritas isi kuburan ini adalah anggota Marsuse  dan keluarganya asal Ambon, Manado, dan Jawa yang beragama Kristen. Akan tetapi hingga saat ini tidak ada seorangpun diantara kerabat mereka yang datang menziarahinya.

Berdasarkan keterangan Drs. H.M. Salim Wahab mantan Kepala SMAN I Blangkejeren juga sejarawan Gayo Lues, dalam waktu dekat Pemerintah Belanda akan membuka kantor perwakilannya di Negeri Seribu Bukit ini, yang bertujuan untuk mendata korban perang, ketika Van Daalen menduduki daerah ini. Tindak lanjutnya, ahli waris korban akan diberikan kompentasi atau ganti rugi oleh Pemerintah Belanda.

Sejauh mana kebenarannya kita lihat saja nanti kata Salim Wahab yang baru-baru ini diajak oleh sejarawan dari Jakarta, mengunjungi bekas benteng Gemuyang di Peparik Gaib Kecamatan Blangjerango, bekas benteng Tampeng Kecamatan Kutapanjang dan lain-lain yang hangus bersama isinya di bakar (Genosida) oleh pasukan Van Daalen.[Kh]

*Wartawan dan pemerhati sejarah di Gayo Lues

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top