Inilah Gayo Keber Ari Gayo Sosial Budaya Terbaru

Ini Asal Usul Ukiran Kerawang

2015-06-04 14.01.51
Serpihan gerabah milik penghuni Ceruk Mendale yang berusia 3000 tahun lalu.

Catatan: Muhammad Syukri

Penggalian dan penelitian arkeologi di Ceruk Mendale II, Aceh Tengah, berhasil menemukan bukti sejarah tentang asal usul ukiran kerawang. Bukti sejarah tersebut berupa serpihan gerabah slip merah. Diatas serpihan gerabah itu terlihat ukiran warna merah berbentuk huruf S dan X serta motif segi tiga.

Menurut arkeolog Ketut Wiradnyana yang memimpin penelitian di Ceruk Mendale II, Kamis (4/6/2015) mengatakan, serpihan gerabah slip merah itu merupakan peninggalan zaman neolitik. Usia gerabah itu diperkirakan 3000 tahun lalu, sesuai hasil tes carbon dating terhadap penemuan yang sama setahun lalu.

Wiradnyana meyakini, serpihan gerabah slip merah itu membuktikan bahwa kerawang sebagai budaya ukir di Aceh Tengah bukan jiplakan sebagaimana disinyalir banyak pihak selama ini. Penghuni Ceruk Mendale ternyata telah mulai membuat dan mengukir gerabah dengan pola kerawang sejak 3000 tahun lalu.

Setelah penulis amati secara seksama, pola ukiran berbentuk huruf S pada serpihan gerabah slip merah itu, mirip dengan ukiran “emun berangkat” dalam budaya ukir terkini di Aceh Tengah. Sedangkan pola huruf  X mirip dengan pola ukir bernama “tapak seleman,” dan pola segi tiga mirip dengan pola ukir “pucuk rebung.”

Dalam tradisi membuat gerabah, AR Hakim Aman Pinan (2003) mengungkapkan beberapa motif ukiran dalam tradisi menepa. Istilah menepa adalah proses membuat alat-alat dapur dari bahan gerabah. Bahan baku yang digunakan untuk menepa, antara lain tanoh dah (tanah liat) yang berwarna kuning. Prosesnya, tanoh dah itu dicampur pasir dengan perbandingan 1:6 atau 1:7.

Cara membuatnya: tanoh dah dan pasir tadi ditumbuk sampai halus dalam sebuah lesung yang menyerupai perahu kecil. Supaya cepat lunak, biasanya ditambah air secukupnya. Selesai ditumbuk pada tahap pertama, terus itumpang (dibulatkan).

Kemudian, penumbukan diulang kembali sampai dirasakan tanah sudah cukup lunak. Tanoh dah yang sudah lunak itu dibungkus dalam pelepah pisang supaya tidak cepat kering. Selanjutnya masuk ke proses menepa untuk menghasilkan produk gerabah.

Kerawang Gayo di Opoh Ulen-ulen. (LGco_Khalis)
Kerawang Gayo di Opoh Ulen-ulen.

Selama ini, asal usul ukiran kerawang maupun produk gerabah sering diperdebatkan oleh para budayawan di Aceh Tengah. Perdebatan itu belum menemukan sebuah kesimpulan. Sebagian budayawan bersikukuh bahwa budaya ukir kerawang dimulai sejak berdirinya Kerajaan Linge sekitar abad 10 Masehi.

Beberapa budayawan lagi bahkan menduga, ukiran kerawang merupakan jiplakan pakaian yang didatangkan Belanda dari India. Pada pakaian itu terdapat bunga dan ukiran, kemudian oleh pengrajin di Aceh Tengah pada masa itu, dimodifikasi menjadi ukiran kerawang. Perdebatan itu terus berlangsung tanpa kesimpulan sampai kemarin.

Hari ini, arkeolog Ketut Wiradnyana menemukan fakta baru tentang asal usul ukiran kerawang. Orang-orang Hoabin yang mendiami Ceruk Mendale sekitar 3000 tahun lalu, ternyata telah mulai mengukir gerabah dengan memberi motif mirip kerawang. Oleh karena itu, masih perlukah asal usul ukiran kerawang diperdebatkan? Bukankah lebih bijak penemuan arkeologi yang sangat berharga itu ditulis untuk bekal pengetahuan generasi mendatang. Wallahualam.

[highlight]Ini video penjelasan arkeolog Ketut Wiradnyana[/highlight]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *