Jurnalis Warga Opini Terbaru

OSPEK/MOS, Siapa Takut Siapa?

Oleh : Rahmad Kurniawan

Rahmad Kurniawan. (Doc. Pribadi)
Rahmad Kurniawan. (Doc. Pribadi)

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus/Masa Orientasi Siswa (OSPEK/MOS) sebenarnya sudah dilarang oleh pemerintah melalui Keputusan Dirjen Dikti Nomor 38/DIKTI/Kep/2000, dinilai memboroskan biaya, waktu, dan tenaga dan membahayakan keselamatan fisik dan psikis mahasiswa/siswa baru bahkan menimbulkan korban jiwa.

Tapi pada kenyataannya, OSPEK/MOS masih terus diadakan. Entah itu dari organisasi siswa/mahasiswanya sendiri atau sekolah/universitasnya yang secara terang-terangan mendukung kegiatan tersebut. Menurut pendapat saya, OSPEK/MOS tidak harus dijadikan ajang untuk sebuah ‘syarat kelulusan’ yang ‘katanya’ kalau tidak mengikuti kegiatan ini maka tidak akan bisa ‘lulus’.

Yang saya lihat memang sudah tidak dijadikan acuan ‘kelulusan’ di SMP dan SMA, tapi banyak korban psikis dari teman-teman saya sewaktu saya SMP dan SMA yang ketakutan bahkan tidak berani masuk sekolah karena takut belum ikut OSPEK/MOS.

Jujur, kegiatan OSPEK/MOS menurut saya tidak mendidik secara mental. OSPEK/MOS dijadikan ajang ‘siapa takut siapa’ di sekolah-sekolah atau di Universitas-universitas. Mereka para senior selalu mengumandangkan ‘kedisiplinan’, padahal hasil akhir dari kegiatan tersebut adalah ‘masalah pengkastaan umur dan jabatan’, jadi kakak senior harus ditakuti (bukan disegani).

Saya agak bingung dengan rektor-rektor Universitas Negeri yang dengan santainya mengakui bahwa mahasiswa-mahasiswa baru sedang mengikuti kegiatan masa orientasi siswa. Bukannya Universitas Negeri harus patuh kepada segala keputusan Dikti sebagai lembaga pendidikan?. Mungkin mereka harus mempunyai mata-mata disetiap kegiatan OSPEK/MOS yang sebenarnya mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ‘benar-benar’ terjadi.

Kesimpulannya, seharusnya OSPEK/MOS bukan dijadikan ‘sebuah kewajiban’ diseluruh sekolah di Indonesia, dan membuat peperangan antar adik-kakak kelas terus berlanjut. Tapi, OSPEK/MOS seharusnya diganti dengan kegiatan yang tidak membuat siswa/mahasiswa barunya mempunyai masalah psikis (stress dan takut) tapi membuat mereka menjadi lebih bahagia dan bersyukur. Contohnya: bersedekah ke orang yang tidak mampu, membantu sesamanya. Bukan malah disuruh ngecat atau buat kerajinan tangan. [DM]

*Mahasiswa di UPN “Veteran” Jatim, tinggal di Jalan Sidodadi Baru no. 55, Surabaya, Jawa Timur, rahmad_am2[at]yahoo.com

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *