Opini Terbaru

Kontra ALA dan Keraguan KP3ALA

Oleh: M JALAL GAYO

jalalgayoINDONESIA saat ini berada dalam hijrah dari status negera berkembang ke negara maju sebab pemerintah terus merancang  dan mengatasi angka kemiskinan di negeri ini. Salah satu upaya yang di tempuh adalah pemerataan pembangunan,  sehingga seluruh masarakat dari Sabang hingga Marauke merasakan manfaat pergantian era  pemerintahan dari tahun ke tahun tampa kesenjangan.

Kini pemerintah mulai jeli dan faham bahwa sempitnya penduduk dan luasnya wilayah itulah yang menyebabkan sering terjadinya keterpurukan ekonomi serta yang menjadi sumber tumbuhnya angka kemiskinan, persis halnya seperti Papua dan Aceh yang masih dianggap provinsi tertinggal dari segi pembangunan, pendidikan dan ekonomi.  Itu dampak wilayah yang terlalu luas dan sulit dijangkau, atau dalam sebutan lain daerah terpencil,  persis wilayah Tengah Tenggara Aceh yang populer disebut pedalaman Aceh.

Dan sesungguhnya kami merasa Pemerintah Aceh juga sudah lama memikirkan kesejahtraan bangsa dan rakyatnya, sehingga pada tahun 2016 ada rekomendasi untuk pemekaran daerah di wilayah Aceh, yang sebenarnya sejak beberapa tahun lalu mulai digaungkan, yakni pemintaan untuk pemekaran Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA).

Sebutan ALA memang indah didengar,  dan menjadi kerinduan masyarakat yang berada di pedalaman Aceh. Dan untuk perwujudannya telah banyak tokoh-tokoh yang diberi kepercayaan oleh masyarakat untuk berbicara dan berada di baris terdepan menggaungkan ALA, hanya kemudian suara mereka tidak terlalu jelas karana teriakan yang dilakukan masih sebatas pentas, malah akhir-akhir ini mulai jarang terdengar. Bisa jadi  sedang beristirahat atau lagi duduk manis.

Namun masyarakat yakin bahwa tokoh-tokoh ALA tersebut tidak diam karena wewenang dan kepercayaan diberikan kepada pengurus daerah yang kemudian dikenal dengan Komite Persiapan Pembentukan Provinsi  Aceh Leuser Antara (KP3ALA). hanya masyarakat belum sepenuhnya yakin apabila aspirasi dan mimpi mewujudkan ALA dapat terwujut, sebab hingga kini KP3ALA yang punya peran penting di masyarakat belum mampu menjelaskan perjalanan panjang perjuangan pembentukan provinsi ALA, bahkan  saat ini tidak ada kepastian yang didapat KP3ALA yang sebenarnya dibanggakan masyarakat tersebut.

Ketidakyakinan inilah salah satu penyebab generasi muda dan tokoh muda ALA mempertanya konsistensi dan peran KP3ALA Pusat dalam memperjuangkan provinsi ALA mengingat, mengingat 4  orang perwakilan Rakyat dari wilayah Tengah tenggara Aceh saat ini duduk sebagai anggota DPR-RI. Mereka adalah Ir Tagore Abu Bakar (PDI), Irmawan,S.Sos (PKB) Muslim Ayub,SH (PAN) dan Salim Fachri (Golkar) yang seharusnya bisa mensuarakan pemakaran ALA, persis berkompanye mereka ketika PILEG 2014 lalu. Faktanya rakyat belum merasakan peran mereka di  Senayan.

Semestinya polemik pro dan kontra ALA seyogianya tidak terjadi, apalagi tindakan reaktif kontra ALA di media, mengingat pemuda dan mahasiswa yang kontra tersebut adalah pejuang-pejuang yang pernah berbuat untuk terbentuknya provinsi ALA.  Semisal Qudri yang pernah mewakili mahasiswa Subulussalam dalam kegiatan-kegiatan pertemuan mahasiswa ALA, atau Maha Putra dari Aceh Tenggara yang merupakan dewan presidium pendiri Forum Bersama Mahasiswa Poros Leuser yang selalu aktif berada di tengah-tengah masyarakat dari Bener Meriah hingga Singkil sejak tahun 2008, tokoh-tokoh muda tersebut hanya meragukan kapabilitas kepengurusan KP3ALA dalam pembentukan Provinsi ALA mengingat banyaknya kerugian yang telah terbuang dalam perjuangan. Tidak sedikit dana daerah terkuras,  waktu, tenaga dan melemahnya pembangunan yang nyata dirasakan masyarakt di Kabupaten Singkil, Subulussalam, Aceh Tenggara dan Bener Meriah, serta peluang penggiatan yang terbuka dalam lobi-lobi kekuasaan yang selalu menjadi isu di masa perhelatan politik.

KP3ALA harus ingat apabila tokoh-tokoh muda dan masyarakat mulai membuka lembaran baru sebagai bentuk refleksi kilasbalik perjuangan pembentukan provinsi ALA selama 16 tahun terakhir mulai dari tokoh-tokoh daerah, pimpinan daerah, kegiatan kompanye ALA, pembiayaan dan peluang ketercapaian. Kilas balik ini harus mampu dibarengi dengan kerja nyata pengurus KP3ALA dalam merapatkan dan memperkuat barisannya, bila tidak maka masyarakat mulai menarik kepercayaannya kepada KP3ALA dan dimungkinkan akan membentuk kepengurusan baru untuk perjuangan ALA berikutnya.

M JALAL GAYO adalah Ketua Himpunan Penggali Sejarah Gayo tinggal di Bener Meriah

Comments

comments