Sara Sagi Sosok Terbaru

Sehari Bersama Tokoh GAM Di Mango

Yusra Habib Abdul Gani* 

yusra-KHA_2917Karena rindu menggebu ke kampung halaman –Kenawat– saya pun pulang dari Jakarta pada agustus 1978 dan tidak merancang untuk bertemu dengan figur utama GAM, asal Kenawat –Tengku  Ilyas Leubé– (Menteri  Keadilan Aceh), Aman Siti Raya (Gubernur Linge) dan Aman Nurcaya (pengawal pribadi). Dengan nada serius, Ayah saya (Abdul Gani) –Gecik Kampung Kenawat– mengajak bicara empat mata dan membisikan bahwa Tengku Ilyas Leubé ada di sini. Saya respons:

“dimana beliau sakarang?”
“Di Mango” Jawab beliau.
“Apa ada hasrat mau jumpa? Kalau mau saya atur.” Imbuh Ayah.
Hati saya berdebar dan “kok Ayah ini nadanya nantang?”
“Siap untuk jumpa”, jawab saya.

Setelah kami sepakat, maka pada  hari Raya kedua, Idhul Adha tahun 1978, saya bertekad dan siap untuk berjumpa dengan tokoh Aceh Merdeka itu. Secara terpisah, Ayah menyuruh Ibu membeli dan menyerahkan 1kg. gula putih kepada saya. Maksudnya untuk ngopi bersama saat jumpa Tengku Ilyas Leubé, dkk. Ibu, yang turut mengatur waktu dan pakaian, nampak tenang sambil membisikan pesan singkat: “hati-hati!” Sebelum saya ayunkan langkah pertama, Ayah memberi arahan: “sesampainya dilokasi, bisikkan kepada abang/kakakmu (Aman/Inen Ibdak) bahwa: kedatanganmu semata-mata hendak jumpa dengan Tengku Ilyas Leubé atas pengetahuan saya.”

Dengan pakaian yang sama sekali tidak mencurigakan, pada pukul 08.00 pagi, saya keluar rumah menèntèng sebilah parang di tangan kanan, tangan sebelah kiri menèntèng tas plastik berisi 1.kg gula dan melilitkan kain sarung di leher. Tanpa ditemani siapa pun dan dengan modal ’bismillahirahmanirrahim’ perjalanan menuju ”Mersah Monong”, terus melewati perkebunan Jamaluddin AS (Aman Ati)[1] dan Aman Sjèh. Saat tiba di kaki gunung, saya singgah ke rumah Ibunda Abang Ibdah (Sikman) yang tengah sakit nadak kedua belah mata, tinggal seorang diri di rumah. Oleh sebab merasa tidak tega melihat kodisi pesakit yang begitu parah, maka 1.kg gula putih yang disiapkan untuk ngopi bersama dengan Tengku Ilyas Leubé dkk., saya alih/serahkan kepada orang sakit yang lebih memerlukannya. Ini tindakan spontanitas!

Kampung Kenawat dan Pedemun dari udara. (LGco_Khalisuddin)
Kampung Kenawat dan Pedemun dari udara. (LGco_Khalisuddin)

Tak lama kemudian, saya melanjutkan perjalanan melewati kebun Aman Kasah, Aman Abu dan kebuh kopi Tengku Ibrahim Mantiq; terus mendaki lereng gunung hingga tiba di kawasan perkebunan Kopi Aman Kuel di puncak Bur Mango. Ada dua perkara yang saya khawatirkan saat itu, yakni: berjumpa orang dan gonggongan anjing. Sebab, jika terserempak, keberadaan saya akan mencurigakan, apalagi pergi seorang sendiri. Alhamdulillah selamat! Dari puncak gunung Mango, saya berdiri dan menatap seketika kampung Kenawat sambil melepas lelah. Sesudah itu, saya berjalan menurun, merambah hutan sampai pada kawasan hutan kayu kulit manis merentang sepanjang 500 m. Dari sini, saya lihat perkebunan kopi merentang luas ke bawah.

Tgk.Ilyas Leube.(Repro. Kha A Zaghlul)
Tgk.Ilyas Leube.(Repro. Kha A Zaghlul)

Setibanya di halaman rumah abang/aka Ibdah, saya tegur: ”Assalamu’alaikum”! ”Alaikum salam” jawab kak Ibdak (kakak sepupuku) itu. Diapun menyambut saya di halaman rumah. Saat itu, suaminya tidak berada di sana. ”Isi bang, kak” ( Dimana Abang, kak?” tanya saya: ”ara, abangmu ku paloho kejep.”(Ada, abangmu ke bawah sebentar). Raut muka kakak sepupuku ini agak mencurigakan, walau tidak kentara, tapi kesan itu saya tangkap. Setelah berbincang-bincang berdua di halaman rumah, sayapun membisikan bahwa: ”kak, gèh kuni malé mudemu orom Tengku Leubé. Ini manat ari Ama.” (Kedatangan saya mau jumpa dengan Tengku Leubé. Ini amanah dari Ayah). Barulah wajah beliau berubah dari ’curiga’ kepada ceria dan bersahabat. ”Ke beta Win, nantin ko kejep isien, kuperahi mulo abangmu” (Kalau begitu, tunggu sebentar, saya cari dulu abangmu). Hampir satu jam setengah lebih saya menunggu dan waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 tengah hari. Rupanya, Abang Ibdak berunding dahulu dengan Tengku Leubé, dkk.,  ’apakah saya diterima atau ditolak untuk bertemu’. Setelah mereka sepakat mengizinkan untuk berjumpa, barulah kemudian, Abang Ibdah menjemput dan membawa saya menemui Tengku Leubé yang jaraknya sekitar 700 meter dari tempat saya menunggu. Mereka  berada dalam sebuah rumah sederhana, yang lokasinya persis di tengah-tengah perkebunan kopi milik Abang Niur. Kami larut dalam keharuan dan tangisan air mata. Saya, kemudian duduk di sebelah kiri dan Tengku Leubé memperkenalkan dua orang pengawalnya, yaitu: Aman Nurcaya (panglima perang Wilayah Linge) dan Aman Siti Raya (Gubernur Wilayah Linge), keduanya duduk di sebelah kanan.

Selama berdialog, saya menerima informasi atau penerangan (pendidikan) langsung buat pertama kali tentang: apa itu Aceh Merdeka, tujuan, cita-cita dan bagaimana langkah-langkah menggapainya. Di sela-sela pembicaraan, Tengku Ilyas Leubé menunjuk kepada saya sebuah karung yang berisi penuh dokumen-dokumen tentang sejarah Aceh dalam lipatan media massa, seperti keratan Suratkabar London Times 1873/74, New York Times 1873/74, koran Basirat terbitan Turki 1873/74, dll. Sayang, saya tidak sempat membacanya satu persatu.

Inen Hudna, istri Tgk.Ilyas Leube. (LGco_Kha A Zaghlul)
Inen Hudna, istri Tgk.Ilyas Leube. (LGco_Kha A Zaghlul)

Walaupun saya secara sepihak telah mengalihkan amanah –1.kg gula pasir tertahan di tengah perjalanan– namun  kami ngobrol bebas, bercanda dan serious sambil menikmati rasa kopi Gayo yang memang sudah tersedia, Kepile dan Gadung tunu. Dalam perbincangan tersebut, tidak saya dapati adanya unsur paksaan untuk menerima pendidikian ideologi Aceh Merdeka. Dengan gayanya kharismatik, beliau menerangkan secara kronologis mengenai strategi perjuangan Aceh Merdeka di dalam dan luar negeri. Inilah pendidikan pertama tentang ideologi Aceh Merdeka yang langsung saya terima dari Tengku Ilyas Leubé. Setelah dialog berlangsung selama 3 jam lebih, sayapun minta pamit tiba dan pulang ke rumah tanpa halangan apapun dalam perjalanan. Alhamdulillah! Di penghujung pembicaraan ini, Tengku Ilyas Leubé  menitip salam buat Tengku Hj. Letkol. Ali Hasyim (Paman saya di Jakarta). ”Sawahan salamku ku Ngah Ali Hasyim i Pasar Minggu, Jakarta.

Beberapa bulan sesudah perjumpaan itu, saya mendengar berlangsung pertemuan rahasia antara Syahbuddin Haharap (Kapolres, Aceh Tengah) di kebun kopi Aman Kuel, Mango; terletak di kampung Kenawat. Beberapa jam setelah usai pertemuan, dikerahkan pasukan TNI dan pasukan anjing pelacak untuk memburunya dalam rimba. Dalam operasi itu, Ibunya (Inen Jahin) dan  Isteri (Salamah Binti Salihin/Inen Hudna), turut serta naik Helycopter bersama pasukan TNI, yang menyuarakan lewat pengeras suara supaya Tengku Ilyas Leubé turun menyerah. Kawasan hutan yang diduga Tengku Ilyas Leubé bersama dua pengawalnya bersembunyi inilah, kemudian dikenali dengan nama ”genting mic”, karena disuarakan melalui ”Mic” (pengeras suara). ”Asyik juga naik Hylicopter”, kata Inen Jahin saat wawancara dengan beliau di Selipi, Jakarta.

Ilyas Leube lahir di Kenawat pada 1923 dengan nama “turun mani”: Jahin, dikenal punya kelebihan sejak kecil. Beliau punya kebiasaan bercermin diri di atas air tergenang dan tenang, di sawah atau di kolam, bahkan sanggup dilakukannya berjam-jam, sambil menyisir. Selain itu, mengendalikan burung elang yang terbang di angkasa, yang seolah-olah di tangan beliau ada tali atau remote pengendali. “Saat mengandung dia, saya berjalan diiringi ramai orang berpayung kuning dan dihormati”.[2] Tengku Ilyas Leubé bukan berdarah biru. Aman/Inen Jahin adalah berlatar belakang keluarga biasa di kampung Kenawat, memiliki beberap petak sawah dan mempunya roda penumbuk padi, selain roda Awan Reje Bedel dan Awan Sema’un. Jahin (Ilyas Leubé) adalah anak sulung dari lima bersaudara, yaitu: Sakdiyah (Inen Daman), Ècah (Inen Zuhir), Inen Jowar, Hafsah dan Mukhtar. Namun demikian, jika derajat seseorang hendak diangkat dan dimuliakan oleh Allah, tidak ada suatu kekuatan pun dapat menghadangnya, seperti disebut dalam surat Ali Imran, ayat 26: “Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”Apalagi beliau ‘alim, kepribadian, berbudi pekerti mulia, sopan dan mujegei edet. Misalnya, Tengku Ilyas Lebé tidak merasa sungkan memanggil anak kecil dengan panggilan Awan (kakek) atau Engah (saudara dari pihak Ibu). Ini merupakan suatu perkara yang patut teladani oleh siapa pun orang Gayo hingga sekarang. Contoh, walau pun beliau panglima perang/komandan Resimen VII dalam perang Medan Area dan bergelar Reje Linge ke XIX, namun kepada Let. Kol Tengku H. Ali Hasyim (Pak cik saya) dan Abdul Gani (Ayah saya), beliau memanggil “Engah” dalam hiearchi kekerabatan adat Gayo.

Makam Tgk.Ilyas Leube di Bener Lampahan Kabpaten Bener Meriah. (LGco_Kha A  Zaghlul)
Makam Tgk.Ilyas Leube di Bener Lampahan Kabpaten Bener Meriah. (LGco_Kha A Zaghlul)

Sejak ditinggal suami, Inen Hudna menyara keluarga –anak-anaknya– dengan bertani kopi di Bener Lampahan dan sebagai pendapatan tambahan, beliau menjahit sarung bantal yang dipasarkan di kampung Kenawat. Sarung bantal ini biasanya dititip kepada Tjut Wan (Inen Firdaus). Beliau yang menjual secara rahasia kepada orang-orang tertentu saja, sebab jika sempat tercium barang dagangan itu dari Isteri Tengku Ilyas Lebubé, panjang urusannya.

Klimaknya, pada 16 Mei 1982, saat Tengku Ilyas Leubé bersama Tengku Idris (Panglima Wilayah Batèë Iliëk) dan empat anak buahnya sedang menunaikan shalat ashar di hutan Jeunib, beliau bersama Tengku Idris ditembak hingga terjungkal ke dalam jurang sedalam 500 meter ke bawah. Evakuasi jenazah oleh TNI ini disiarkan langsung oleh TVRI dan baru sampai ke Bener Lampahan, kira-kira pukul 21.00 malam. Pihak TNI memaksa supaya malam itu juga mesti dimakamkan di Bener lampahan, tidak menunggu keesokan harinya. Saat akan berlangsung pemakaman, sempat terjadi pertengkaran hebat antara Abdul Gani (Gecik Kenawat) dengan pihak aparat keamanan. Pasalnya, Gecik Kenawat meminta supaya jenazah Tengku Ilyas Leubé dimakamkan di kampung Kenawat, atas alasan amanah almarhum semasa hidup. Pihak keluarga tidak dapat berbuat apa-apa malam itu. Oleh karena Abdul Gani diancam ditembak ditempat jika masih bersikeras, akhirnya pemakaman dilangsungkan juga, diterangi oleh lampu “stronggèng”. Proses evakuasi di hutan Jeunéb ditayangan langsung lewat siaran TVRI, dimana kami pada ketika itu berada di rumah adiknya –Hafsah– di Selipi, Blok F, Jakarta. Tidak lama kemudian; Iklil Ilmy dan saya pergi menjemput Tengku Muhd Daud Beureuéh –yang saat itu ditempatkan oleh militer di sebuah rumah sewa di Blok D, Selipi, Jakarta Barat– untuk  meng-imam-i shalat jenazah ghaib di Masjid Blok F, Selipi. Dalam Ceramahnya,seusai shalat jenazah, Tengku Muhd Daud Beureuéh mengatakan: “Ilyas adalah orang baik, ‘alim, setia dan bertahun-tahun lamanya kami hidup bersama dalam rimba Aceh. Kini Ilyas telah tinggal kan kita, semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya.[bersambung]

*Penulis adalah Pemerhati sejarah dan budaya, tinggal di Denmark 

Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus tokoh perjuangan DI/TII Aceh, Tgk Ilyas Leube yang merupakan sosok kelahiran Kenawat Lut Aceh Tengah saat berbincang-bincang dengan Tgk Daud Berureueh di Beurenuen tahun 1958. Foto direpro dari koleksi Salamah Binti Salihin Inen Hudna, istri Almarhum Ilyas Leube, Senin (13/2/2012). (LGco-Kha A Zaghlul)
Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus tokoh perjuangan DI/TII dan GAM Aceh, Tengku Ilyas Leube kelahiran Kenawat Lut Aceh Tengah saat berbincang-bincang dengan Tgk Daud Berureueh di Beurenuen tahun 1958. Foto direpro dari koleksi Salamah Binti Salihin Inen Hudna, istri Almarhum Tengku Ilyas Leube, Senin (13/2/2012). (LGco-Kha A Zaghlul)

 


            [1]. adalah juga pejuang Darul Islam dan Aceh Merdeka

            [2]. Hasil wawancara penulis dengan Inen Jahin (Ibunda Tengku Ilyas Leubé) di Selipi, Jakarta, 1974.

Comments

comments