Ekonomi Hukum Keber Ari Gayo Pemerintahan Terbaru Wisata

Hindari anggapan negatif, jadikan Blang Bebangka pusat jajanan dan wisata

*Darmawan Masri

Pusat jajanan yang dibangun atas inisiatif warga di Blang Bebangka. (LGco : Wein Mutuah)
Pusat jajanan yang dibangun atas inisiatif warga di Blang Bebangka. (LGco : Wein Mutuah)

Dulunya, kawasan lapangan pacuan kuda Blang Bebangka-Pegasing, merupakan lahan perkebunan nenas warga setempat. Meski status tanah ini dimiliki Pemerintah, warga diizinkan menggarap lahan tersebut. Sebelum dijadikan sebagai lahan perkebunan nenas, kawasan ini juga pernah dicanangkan pembangunan Lapangan Terbang di era tahun 70-an, namun urung dibangun karena sesuatu dan lain hal.

Keputusan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang memindahkan lapangan pacuan kuda tradisional Gayo dari Gelengang Musara Alun ke Blang Bebangka sejak beberapa tahun terakhir memang membawa kemajuan bagi seputaran daerah tersebut. Namun, hingga saat ini kawasan yang seharusnya layak dijadikan objek wisata dan pusat jajanan ini masih luput dari perhatian pemerintah.

Selama pacuan kuda berlangsung, kawasan ini terlihat ramai. Kondisi itu terbalik saat pacuan kuda usai, kawasan ini sunyi. Biasanya dijadikan sebagai pusat tongkrongan anak-anak muda di Takengon saat sore hari bahkan sampai malam hari.

Dalam beberapa waktu ini, keadaan tersebut mulai berubah. Kini terlihat pusat jajanan masyarakat yang mulai ada dipinggirin jalan. Setidaknya ada beberapa warga yang melihat peluang menjanjikan sebagai pusat jajanan. Salah satunya adalah seorang Ceh Sriwijaya-Kenawat, Ali Amran, yang berdomisili di perumahan seniman Pegasing.

Saat ditemui LintasGayo.co beberapa waktu lalu dia mengatakan, inisiatif membuka pusat jajanan tersebut dilihat dari banyaknya anak-anak muda yang nongkrong saat sore hari. “Sisi positifnya dengan membuka pusat jajanan, dimana biasanya anak-anak muda yang memanfaatkan sepinya lapangan Blang Bebangka untuk berdua-duaan kini sudah mulai berkurang,” ucapnya.

Dengan semakin ramainya pusat jajanan tersebut, pelantun syair Lime Manis Gayo ini menyakini, anggapan negatif terhadap lapangan Blang Bebangka saat ini bisa berkurang. “Dulu disini sepi, makanya banyak yang pacaran dan melakukan hal yang melanggar syari’at disini, namun jika semakin ramai keadaan itu bisa diatasi,” ujarnya.

Dengan melihat sisi positif tersebut, selain bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat, dia mengharapkan agar Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah memfasilitasi tempat dan prasarana lainnya agar para pedagang di Blang Bebangka difasilitasi.

“Kami melihat ada sumber penghasilan baru disini. Makanya, kami buka pusat jajanan ini, kalau tidak menghasilkan tidak mungkin kami betah. Untuk itu kami ingin ada perhatian Pemkab membantu pedagang,” harap Ali Amran.

Pusat jajanan yang dibangun atas inisiatif warga di Blang Bebangka. (LGco : Wein Mutuah)
Pusat jajanan yang dibangun atas inisiatif warga di Blang Bebangka. (LGco : Wein Mutuah)

Selain itu katanya lagi, kawasan Blang Bebangka saat ini tinggal ditata saja, beberapa fasilitas umum juga sangat diperlukan. Salah satunya adalah ketersediaan WC umum beserta air nya. “Jika ada sarana tersebut, bisa dipastikan kawasan ini akan ramai dikunjungi saat sore hari, tak hanya anak muda orang berkeluarga pun akan memilih bersantai ditempat ini,” tandas Ali Amran.

Sementara itu, pengamat ekonomi kemasyarakatan di Pegasing, Abdul Rahman menyatakan, sudah selayaknya Pemkab memperhatikan sumber baru ekonomi kemasyarakatan. Menurutnya, apa yang telah dilakukan masyarakat di Blang Bebangka sangatlah positif. Dan pemerintah seharusnya menata kawasan tersebut sebagai pusat wisata dan jajanan di Aceh Tengah.

“Dengan penataan yang baik disektor tersebut, maka dampak negatif yang selama ini  di Blang Bebangka sebagai tempat tongkrongan anak-anak muda berpacaran akan semakin berkurang,” sebut Abdul sapaan akrab ayah dua anak ini.

Dilanjutkan, penataan kawasan jajanan dan wisata di Blang Bebangka haruslah disertai dengan sarana dan prasarana yang memadai. Selain membangun tempat bagi para pedagang, harusnya kawasan ini juga diberi penerangan.

“Malam kawasan ini sangat gelap tidak ada penerangan, hanya ada beberapa rumah warga yang memberi penerangan. Jika memang pemerintah peka menata kawasan ini, sudah seharusnya diberi penerangan otomatis dampak negatif terhadap kawasan ini juga akan semakin berkurang,” tegas Abdul.

Aceh Tengah sebagai salah satu daerah wisata, sambung Abdul belum memiliki sarana dan prasarana pendukung yang baik. Padahal, kedua hal tersebut adalah penunjang daerah wisata.

“Wisata di Aceh Tengah sebagian besar hanya dibangun oleh masyarakatnya, seharusnya pemerintah peka terhadap hal itu. Saya lihat banyak bangunan yang tidak bermanfaat dibangun di daerah ini, sudah saat nya Pemkab mulai membantu ekonomi kemasyarakatan yang tumbuh dari masyarakatnya sendiri,” demikian Abdul Rahman. []

Pusat jajanan yang dibangun atas inisiatif warga di Blang Bebangka. (LGco : Wein Mutuah)
Pusat jajanan yang dibangun atas inisiatif warga di Blang Bebangka. (LGco : Wein Mutuah)

Comments

comments