Jurnalis Warga Terbaru

Secangkir Kopi dan 1001 Cerita di Blang Sere Gayo Lues

Catatan Perjalanan ke Gayo Lues (Part 1)

Oleh: Nasril

blang sereBeberapa hari yang lalu tepatnya pada Hari Sabtu (21/3/2015) kembali mengunjuni kota Seribu Bukit, hari ini setelah seharian melihat-lihat perkebunan sere dan proses pengambilan minyaknya di perkebunan warga yang ada disekitar Blang Sere Kecamatan Kuta Panjang Kabupaten Gayo Lues.

Ingin menikmati secangkir Kopi di Café-café yang ada disana, dari persimpangan Blang Sere atau jalan menuju ke Terangun disana ada beberapa tempat santai semacam café dan di pamplet di tulis “Tempat wisata Keluarga” ada juga yang tidak ada pamplet apapun.

Saya memilih untuk santai sejenak di sebuah café, tepatnya 20 M dari simpang Blang Sere sebelah kiri arah menuju ke Kuta Panjang, saya dan seorang teman mampir disana, tempatnya sederhana akan tetapi panorama dan keindahan Alam ciptaan Tuhan begitu Jelas dari sana, gunung-gunung yang tinggi, pepohonan dan tanaman yang hijau cukup untuk mencuci mata dan tempat ini benar-benar sangat cocok dijadikan tempat untuk santai. Teman saya ini Putra Asli Gayo Lues, seharian ia menemani saya melihat tanaman Sere dan aktifitas warga di perkebunan, ia baru saja menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) di sebuah Universitas swasta di Medan.

Kami menikmati indahnya pemandangan yang ada disana, hijaunya daun-daun pepohonan dan indahnya pemandangan gunung, tampak dari café ini sehingga saya terpikir kalau untuk menikmati keindahan alam, dari sinilah salah satu tempatnya, pemandangan indah lainnya juga tampak menyegarkan mata yaitu tanaman jagong dan serei milik masyarakat yang mendominasi arah pandangan disana yang sangat natural.

Tiba-tiba pemilik café datang menghampiri kami untuk menanyakan pesanan, sambil bercanda saya bertanya kepada penjaga café itu, disini apa yang enak? Jawabannya simple yaitu kopi, kopi khas Gayo Lues, mau yang dua satu (sebutan yang telah dikenal disana dua sendok gula dan satu sendok kopi) atau satu satu (satu sendok gula dan satu kopi), saya pesan dua satu saja, sedangkan kawan saya memesan satu satu karena ia memang putra asli kota seribu bukit sehingga ia terbiasa dengan kopi pahit.

Menariknya, di cafe ini juga ada ayunan dan mainan-mainan lainnya untuk anak-anak sehingga sangat cocok kalau mau santai dengan keluarga, selain itu disana juga ada beberapa fasilitas umum lainnya seperti Mushalla dan tempat parkir yang luas. Salah seorang penjaga café Dasli menceritakan biasanya kalau hari Minggu dan hari-hari libur lainnya tempat ini sangat ramai.

“Alhamdulillah kalau hari minggu atau hari-hari libur lainnya ramee, tempat ini baru, kalau hari biasa juga ada orang yang ingin santai-santai disini,” ungkap Dasli

Menjelang sore, suasana semakin dingin, angin segar berhembus kencang, tampak anak-anak bermain di temani orangtuanya di ayunan dan mainan lainnya, pemandangan yang sempurna ketika menikmatinya di temani segelas kopi membuat suasana semakin hangat.

Sambil menikmati kopi, Kawan saya mulai menceritakan tentang kondisi terkini di kota Seribu Bukit, tentang suksesnya pelaksanaan tarian fenomenal Saman yang telah di akui UNESCO dengan peserta mencapai 5057 orang, cerita tentang saman ini membuat saya betol-betol takjub ketika ia ceritakan rata-rata masyarakat Gayo Lues bisa Saman.

Kemudian cerita berlanjut mengenai kekayaan sumber daya alam, ia juga menceritakan tentang kekayaan adat dan budaya disana, minyak sere juga sebagai ikon dari daerah ini yang menjadi salah satu andalan perekonomian masyarakat disana.

Ia memiliki harapan yang besar kepada pemerintah agar senantiasa fokus pada pembangunan Gayo Lues terutama di bidang SDM dan juga pemanfaatan SDA nya serta mendukung pogram peronomian masyarakat. Kemudian cerita tentang jalan menuju ke kota ini kian sulit baik melalui Aceh Tengah maupun Aceh Tenggara, Bandara juga belum befungsi. Kini cerita tertuju pada kopi yang sedang kami nikmati, Ia juga menceritakan kelebihan kopi yang ada di Gayo Lues, katanya kopinya tidak dicampur sehingga rasanya betul-betul khas, sambil bergurau ia berkata “kalau sudah minum kopi Gayo, enggak terasa minum kopi lain.”

Hari ini banyak mendapat maklumat baru tentang Kota Seribu bukit ini, kawan saya ini sempat tidak senang, ketika saya menanyakan tentang kondisi pendidikan dan politik di kota ini, ia terkesan cuek tidak mau membahasa masalah ini, ia lebih memilih untuk mengalihkan cerita ke hal-hal yang lain.

Mybe ada sesuatu, saya tidak tahu apa yang terjadi. Menjelang Magrib, pengunjung mulai meninggalkan tempat ini, kami juga bersiap-siap pulang. Sore ini begitu terasa enjoy dengan secangkir kopi, menikmati keindahan alam dan seribu satu cerita tentang Gayo Lues.

Kota ini benar-benar menyimpan kenangan bagi saya, walaupun saya bukan dari sana, saya memiliki harapan kepada pemerintah Kabupaten disini untuk memberikan support yang lebih kepada para penerus generasi mendatang yang sedang belajar baik didalam maupun diluar Negeri, mungkin dengan pemberian sedikit dana bantuan belajar atau beasiswa akan sangat membantu mereka. Kelak mereka akan kembali membangun Gayo Lues. Kalau orang sering bilang “siapa yang minum air sungai nil, ia akan kembali mengunjunginya” begitu juga dengan kota seribu bukit, keindahan alam dan nikmatnya kopi membuat kita ingin kembali kesana, apalagi jalan menuju kesana sudah bagus. Semoga kota seribu bukit ini menjadi negeri tayyibatun warabbul ghafur. Amin. []

Comments

comments