Opini Sara Sagi Terbaru

Hidup Dipersimpangan Jalan

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA[*]

Drs Jamhuri (foto:tarina)
Drs Jamhuri (foto:tarina)

BANYAK fenomena yang terjadi dalam masyarakat Gayo dari dulu sampai hari ini seakan mendapat pesetujuan dan pembiaran dari semua orang, baik dari orang tua, pejabat, tokoh agama, tokoh adat dan juga para sahabat.  Fenomena yang terjadi membuat logika kita menjadi beku dan mulut hanya menyebut kata heran “nauzubillah” dan hati menyeletuk terserahlah dan berakhir dengan kata terserahlah semua akan berjalan sebagaimana adanya bersamaan dengan bergantinya hari dan berjalannya jarum jam.

Pernikahan banyak terjadi dikalangan anak yang masih berusia sangat muda seakan tidak sempat menunggu tanggal apalagi tahun, tidak lagi mengenal hari baik dan hari yang kurang baik bahkan tidak ada lagi pantangan dan juga tidak lagi mengenal bulan dan musim untuk melaksanakan akad nikah dan musim-musim yang lain, memang betul ada ungkapan bahwa semua hari adalah hari yang ciptakan Tuhan untuk manusia dan semua makhluk-Nya dan manusia bebas melakukan apa saja yang dia inginkan, sepanjang perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan agama sebagai aturan Allah.

Banyak orang yang mengakhiri hidup dengan tidak menunggu ketentuan Tuhan, mereka mengakhiri hidup orang lain sebelum Tuhan memanggilnya seperti kasus pembunuhan yang sering terjadi dan juga ada yang mengakhiri hidupnya sendiri karena merasa terlalu lama menunggu giliran berdasarkan ketentuan Tuhan. Tapi semua itu berjalan alami seolah tidak bersalah dan tidak ada aturan Tuhan yang terlanggar. Buktinya semua diam dan hanya merasa kasihan dan begitulah seterusnya untuk setiap kejadian, tidak ada tindakan dan upaya yang dilakukan oleh semua.

Fenomena nikah di usia sangat muda adalah fenomena pernikahan di masa kini di zaman modern, karena dalam agama dan adat pada dasarnya tidak mengenal pernikahan diusia sangat muda. Dalam agama Islam ada sebuah ketentuan untuk menikah apabila telah mencapai asia baligh (sampai umur), namun Islam tidak mencukupkan umur dengan usia baligh tetapi juga harus cerdas (rusydan). Artinya secara fisik mereka yang mau menikah sudah siap sesuai dengan aturan kesehatan dan secara mental juga mereka sudah siap dalam mengatur harta dan pemanfaatan kekayaan untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam adat Gayo juga ada sebuah aturan secara adat bila seseorang ingin menikah, laki-laki harus mempunyai harta sehingga kalau kita melihar dalam sejarah adat Gayo dikenal dengan teniron (permintaan perempuan kepada laki-laki). Biasa permintaan ini dalam adat gayo berupa tanah yang belum ditanami (tamas mude) yang selanjutnya akan digunakan untuk tempat berusaha mereka yang baru menikah, sedangkan penentuan usia dalam adat sangat ketat yang dalam adat dikenal “beru berama” artinya pernikahan baru bisa dilakukan apabila anak tersebut mendapat persetujuan dari orang dan menurut orang tua anak tersebut sudah cukup layak untuk menikah.

Realita sekarang kedua aturan agama dan adat ini terlanggar, mereka yang menikah tidak lagi melihat pentingnya umur sebagai pertimbangan kematangan fisik dan juga tidak lagi mempertimbangkan kecerdasan, tidak lagi perlu adanya persetujuan dari rang tua, sehingga semua aturan yang ada dijalankan dengan keterpaksaan. Terpaksa harus menikah, orang tua menjelaskan ke orang lain dengan kata “itu yang diminta”, semua orang paham dengan apa yang dimaksudkan oleh kata “itu yang diminta” tersebut dan belum ada yang salam dalam menafsirkannya, lalu kesimpulan dari pemahaman tersebut juga sama-sama maklum dan tidak merasa bersalah dengan kemakluman tersebut.

Pernikahan dengan terpaksa adalah solusi terbaik bagi mereka yang berencana untuk hidup bertaubat dari perbuatan dosa besar yang pernah mereka lakukan, asalkan taubatnya dilakukan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan ketentuan agama, namun bila tidak berencana maka perbuatan itu adalah legalisasi perbuatan dosa yang dilakukan secara berjamaah. Kenapa tidak, agama menghendaki mereka yang melakukan kejahatan (perbuatan dosa) sebagaimana dimaklumi berakhir kepada pernikahan terpaksa dihukum dengan hudud dera atau rajam, tapi oleh semua unsur masyarakat dilegalkan dengan kemakluman, maka sangat bersalahlah semua masyarakat.

Banyak juga trend masyarakat modern yang mengakhiri perbutan dosa dengan menghilangkan nyawa sendiri, ini tidak lain adalah karena merasa malu dan aib akan akibat dari perbuatannya. Penulis katakan ini dengan trend modern karena ini jarang dilakukan oleh masyarakat tradisional, sebagaimana disebutkan di atas masyarakat tradisional mengakhiri perbuatannya dengan menikah secara terpaksa, sedang bagi mereka yang merasa malu maka mengambil jalan menghabisi nyawa merek. Ada penomena lain yang dilakukan dan ini biasa dilakukan di masyarakat perkotaan yaitu dengan menghilangkan bukti perbuatan dosa yang pernak dilakukan yaitu dengan menggunakan jasa ahli yang profeionsl tetapi tidak dibenarkan yang dalam bahasa kedokteran disebut denga mall praktek. Tetapi upaya ini dimasyarakat kita agak susah didapati.

Dilihat dari sudut keimanan, mereka yang ikut dalam bingkai perbuatan dosa besar ini termasuk orang yang tidak beriman atau tidak bertauhid, karena mereka semua menganggap kalau apa yang mereka lakukan memadai dengan batas selesainya perbuatan. Kendati mereka tau bahwa hukum di akhirat itu ada tetapi mereka ingin lepas dan memadai dengan tanggung jawab di dunia semata.

Kalau kita mau melihat lebih jauh apa yang menyebabkan terjadinya semua yang telah disbutkan adalah karena lemahnya pengetahuan dan pemahaman keagamaan, pengetahuan yang dimaksudkan tidak hanya pada pemahaman fikih yang menjadi amalan sehari-hari tetapi juga lemahnya pengetahuan aqidah yang merupakan keyakinan tentang adanya Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, hari kiamat serta ketentuan qadha dan qadar. Secara umum bisa kita melihat bahwa mereka yang melakukan perbuatan dosa besar termasuk bunuh diri menganggap seakan perbuatan dosa yang dilakukan hanya sebatas hubungan antar sesama manusia yang tidak ada kaitannya dengan ketentuan Allah, Malaikat dan rukun iman lainnya dan merasa memadai dengan penebusan kesalahan dan bertanggung jawab terhadap perbuatan dosa dan menganggap selesai seakan di akhirat kelak tidak ada lagi siksaan dari Allah.

Anggapan siapa yang melakukan kejahatan maka orang tersebut secara individu yang berdosa karena telah melanggar ketentuan Allah, pola pemahaman seperti inilah yang selalu diamalkan dan diyakini oleh masyarakat selama ini. Mereka lupa kalau Tuhan sebenarnya memberi pahala sebagai imbalan amal tidak hanya kepada yang melakukan perbuatan secara individu, tetapi juga kepada mereka yang terlibat dalam mensukseskan terlaksananya perbuatan tersebut. Tentu saja juga demikian dengan perbuatan dosa yang dilakukan tentu didak hanya terbeban kepada pelaku, tetapi juga kepada semua yang ikut serta mensukseskan terjadinya perbuatan yang tidak baik tersebut.


[*] Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *