Opini Sekolah Terbaru

Kuantitas Guru Pengaruhi Kualitas Siswa?

Ima Cibro Gayo*

Ima-CibroSebagian masyarakat khususnya yang berkutat di bidang pendidikan, sering melontarkan pernyataan bahwa jumlah guru sangat berpengaruh besar terhadap tingkat kualitas siswa dalam lembaga pendidikan. Asumsi tersebut tidaklah selalu benar. Jumlah guru tidaklah berpengaruh besar terhadap kualitas siswa. Hal tersebut didasari oleh kenyataan bahwa  sekolah yang memiliki tenaga pengajar lebih banyak tidaklah dapat dijadikan sebagai titik tolak tingkat kualitas siswanya lebih bagus daripada sekolah yang ketersediaan gurunya terbatas. Artinya, seberapa banyak pun sekolah menyediakan guru mata pelajaran tertentu tidak besar pengaruhnya terhadap kemajuan siswa dalam hal prestasi, etika, moral, dan ilmu. Dengan demikian, solusi untuk meningkatkan sekaligus mengembangkan kualitas siswa bukanlah berpatokan harus menyediakan jumlah guru yang banyak.

Secara umum, tujuan lembaga pendidikan yakni untuk mengadakan perubahan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik, mulai dari mencari, mempelajari, memahami, menguasai, dan mengembangkan berbagai ilmu. Itulah yang menjadi tujuan inti sebuah sekolah bukan pada kuantitas gurunya. Suatu lembaga pendidikan baik jenjang pertama maupun jenjang tinggi tidaklah perlu memperbanyak jumlah guru tanpa memfilter kualitas gurunya terlebih dahulu. Maksudnya, lebih baik sedikit guru tetapi guru tersebut memang termasuk pada kategori ideal, profesional, berkualitas, dan berbagai hal positif lainnya lagi yang tentunya mendukung bidang pendidikan. Dengan kata lain, sebelum mengarah kepada meningkatkan kualitas siswa terlebih dahulu prioritaskan tingkat kualitas gurunya.

Berbicara mengenai kualitas guru tentunya tidaklah suatu yang sangat asing lagi. Sering orang utarakan “menjadi guru itu mudah tetapi mengajar dan bersatu dengan siswa itu sangatlah sulit.” Pernyataan tersebut secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa profesi seorang pengajar tidaklah begitu sulit apabila hanya menoton dalam pembelajarannya. Sebaliknya, mengajar secara hakiki dan menciptakan suasana yang harmonis, tenang, menyenangkan, serius, dan disiplin dalam sebuah kelas tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Oleh sebab itu, berikut ini ada beberapa hal yang tentunya dapat dijadikan sebagai pedoman dalam meningkatkan dan memilih kadar kualitas guru demi meningkatkan kualitas siswa.

Pertama,  guru yang dan harus mampu memahami karakter siswa satu per satu. Seorang guru yang baik tentunya mampu memahami siswa. Menyinggung kata memahami identik dengan bidang ilmu Psikologi. Memahami secara garis besar maksudnya yakni mengetahui secara betul sifat, latar belakang keluarga, minat, kepribadian yang ada pada diri individu siswa. Memahami siswa ini bukan membutuhkan waktu yang drastis melainkan membutuhkan waktu dari hari ke hari. Adapun cara sederhana yang dapat dilakukan untuk memulai memahami karakter siswa yakni dengan mengadakan interaksi ketika mengabsen siswa pada saat kegiatan awal  pembelajaran, kegiatan inti, sampai pada kegiatan akhir. Ada berbagai cara lainnya yang tentunya dapat diterapkan guru dalam memahami karakter siswa yaitu berpedoman pada teori Psikologi Pendidikan. Guru harus ada ilmu Psikologi khusus ranah pendidikan. Dengan berbekal ilmu jiwa tersebut, tentunya akan mempermudah guru dalam memahami siswanya per individu.

Kedua, guru yang mampu beradaptasi dalam berbagai aspek. Adaptasi dalam konteks ini maksudnya yakni guru dapat menyesuaikan mulai dari memilah tingkat kesulitan materi pada kelas yang berbeda strata kognitif siswanya, menggunakan fasilitas yang ada di sekolah secara sinkron dengan materi, situasi berbagai kelas, penyajian bahan ajar yang sesuai, dan hal lainnya lagi yang secara keseluruhan harus disesuaikan situasi dan kondisi. Guru yang mampu beradaptasi seperti ini biasanya lebih fleksibel dan tidak kaku serta mempunyai prinsip everyone is different. Dengan kata lain, guru tidak selalu harus menggeneralisasikan sesuatu tetapi juga harus mengklasifikasikan spesifikasi tindakan dan langkah ketika akan memulai pembelajaran. Artinya, metode, materi ajar, cara menjelaskan, pengelolaan kelas, fasilitas dan sumber materi tentunya tidak selamanya harus sama antarkelas.

Ketiga, guru yang mampu menjadi mitra siswa di kelas. Seorang guru yang menarik perhatian serta menaklukkan hati siswa secara positif yakni harus mampu menjadi teman sekaligus fasilitator dalam pembelajaran. Pernyataan “Guru menjadi teman siswa?” serasa tidaklah begitu logis secara sadar karena biasanya orang berpikir akan berbeda strata antara pendidik dan peserta didik di kelas.  Menjadi teman khusus dalam konteks ini yaitu menjadi seseorang yang siap mendengar keluhan siswa dan curahan hati siswa khusus yang berkaitan dengan kendala belajar, minat, cara belajar, dan kesulitan siswa dalam memahami materi. Dengan demikian, guru mampu bersatu dengan siswa secara positif, bukan sebagai orang asing, sehingga lebih baik dekat dengan siswa secara profesional tanpa menghilangkan wibawa seorang pendidik. Maksudnya, menjadi teman dan akrab dengan siswa harus membatasi selama masih dalam konteks belajar dan mengajar.

Kebanyakan siswa senang terhadap guru yang mau berkomunikasi secara baik, akrab, ada selera humor yang sekadarnya, berjiwa muda (mampu mengetahui selera anak zaman sekarang), tegas menurut kadar yang diperlukan, disiplin sesuai aturan sekolah, ahli beretorika, profesional (mampu membedakan saat untuk serius dan menyediakan sela waktu untuk bersenda demi menciptakan suasana kelas yang santai tapi serius), dan perduli keadaan siswa (tidak apatis).  Beberapa hal tersebut setidaknya mampu menarik perhatian siswa secara otomatis untuk menyukai dan bersemangat belajar mata pelajaran yang kita ajarkan. Adapun guru yang mampu menerapkan hal-hal tersebut insya Allah pengelolaan kelasnya sudah baik dan terkontrol.

Keempat, guru yang melayani siswa di kelas secara baik. Kata melayani, maksudnya guru harus menjadi sosok yang memberikan hal terbaik saat di kelas bukan malah menjadi raja yang sering memberi perintah yang tidak sewajarnya kepada siswa, misalnya, “Andi, hapus papan tulis!”, “Rio, ambilkan spidol ke kantor!”, dan aktivitas lainnya yang mengganggu konsentrasi belajar siswa. Kedua kalimat perintah tersebut sering digunakan guru saat dalam pembelajaran. Seolah guru hanya terima beres dan tidak mau repot. Prinsip seperti itu sangat keliru karena yang patut diistimewakan itu adalah siswa. Siswa yang dituntut untuk konsentrasi penuh terhadap sajian materi bukan malah sibuk mengistimewakan gurunya. Adapun instruksi yang patut diarahkan kepada siswa yakni yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran seperti “Siswa sekalian, tolong buka buku paket halaman 7!”, “Tolong duduk secara berkelompok sesuai nomor undian!”, “Rian, maju ke depan kelas dan bacakan hasil kerjamu!”, “Santi, sekarang giliran kamu maju ke depan kelas bacakan puisi!” Beberapa instruksi tersebut wajar ditujukan kepada siswa dan memang hanya siswa yang wajib melaksanakannya. Selain itu, saat memerikan instruksi guru sebaiknya tidak usah enggan mengujarkan kata tolong. Tidaklah hilang wibawa guru saat mengatakan kata itu. Dengan begitu, serasa siswa dihargai untuk melaksanakan instruksi guru bukan sebagai suatu suruhan yang serta merta tanpa diikuti kata tolong. Biasanya guru yang seperti ini lebih humbel ‘rendah hati’ dan menganggap sama derajat siswa dan guru dalam konteks agama (ketika menyuruh menyelipkan kata tolong) sehingga tidak ada kesan berkuasa dan memperbudak antarpeserta didik dan pendidik.

Kelima, guru yang mampu menggunakan alat elektronik secara baik. Guru yang dikatakan ideal yaitu mampu memprogramkan seperti komputer, laptop, infokus, serta mahir dalam mengetik dan menguasai secara baik program MS Word, MS Power Point, serta MS Excel yang ada di dalam laptop atau komputer sekolah.  Intinya, guru harus ikut arus zaman yang positif demi pendidikan. Penguasaan bidang komputer sangatlah penting bagi seorang guru karena slaah satu memudahkan guru dalam mentransfer pengetahuan kepada siswa via media yang lebih praktis, seperti MS Power Point yang pada dasarnya program yang sengaja dijadikan guna untuk menampilkan sebuah persentasi data atau pun bahan ajar dengan cara menampilkan per poin (per item). Dengan dmeikian, bahan ajar yang kira-kira membutuhkan penjelasan yang di dalamnya ada beberapa yang harus dipetakan dan diberi poin-poin tertentu, guru dapat mengunakan MS Powerpoint untuk mengemas bahan ajar dan mempresentasikan di depan kelas. Cara tersebut sangat membantu guru, terlebih lagi siswa akan semakin bersemangat belajar. Semangat siswa semakin bertambah tentunya karena tampilan slide, atau background yang ada di MS powerpoint beraneka wara corak dan jenis huruf yang bervariasi sehingga dapat divariasikan. Itulah sebabnya si anak tidak jenuh yangs elama ini hanya belajar di depan papan tulis dengan spidol tercinta.

Selanjutnya, penguasaan MS Word juga dibutuhkan oleh seorang guru karena ada kalanya guru harus menyajikan berbagai lampiran bahan ajar dalam bentuk teks atau wacana, misalnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mata pelajaran ini biasanya didomnasi oleh wacana berupa teks cerita, informasi, dan karya sastra lainya seperti puisi, hikayat, talibun, dan lainnnya. Kesemua itu tentunya dikemas dalam MS Word yang kemudian baru dibagikan kepada anak-anak. Misalnya, dalam pertemuan mengenai materi cerpen atau puisi. Guru lebih baik menyediakan sebuah puisi dan sebuah cerpen yang telah diketik MS Word baru kemudian dibagikan kepada siswa. Dengan dmeikian, mempermudah guru dan waktu pembelajaran pun lebih efektif dan efesien karena tidak lagi menulis teks puisi ke papan tulis yang menyita banyak waktu. Begitu juga MS Excel yang guru seharusnya harus mampu walaupun tidak begitu mahir karena ketika perangkat pembelajaran seperti absensi pribadi guru untuk siswa, tincian minggu efektif, prota, prosem, sebaiknya menggunakan MS Excel lebih praktis. Oleh sebab itu, guru yang secara otomatis mampu akan hal tersebut telah membantu dan memberi keleluasan sang guru dalam mengajar.

Selain kelima hal di atas, masih bayak lagi mulai dari pemberian contoh disiplin kepada peserta didik. Siswa umumnya akan mencontoh apa yang guru tampilkan kepada mereka. Oleh sebab itu, guru harus lebih dahulu disiplin baru kemudian mendisiplinkan siswa. Selanjutnya, guru harus mampu mengemas materi ajar sebaik mungkin sehingga siswa akan cepat dan mudah memahami saat materi disampaikan. Begitulah sekurang-kurangnya hal yang harus dimiliki oleh guru yang termasuk berkualitas. Dengan demikian, kualitas siswa berpengaruh pada kualitas gurunya bukan sebaliknya. Guru memang banyak tapi belum tentu semua berkualitas, memang berkualitas itu luas maknanya, memang guru juga manusia yang tidak sempurna, tetapi setidaknya selagi ada keinginan untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus profesi tidak ada salahnya bertindak cekatan, tidak ada yang tidak mungkin kalau niat tulus dan positif.

 *Alumnus PBSI, FKIP, Unsyiah

Comments

comments