Opini Sara Sagi Terbaru

Dilema Bahasa Gayo dalam Komunikasi dan Pendidikan

Ima Cibro

Ima-CibroBANYAK ungkapan yang berbunyi “cakah pedi baha Gayo é woy” (canggung sekali bahasa Gayo-nya kawan). Ungkapan itu tertuju pada mereka yang tutur dalam bahasa Gayo-nya terdengan canggung dan kaku, tidak kental dialeknya.  Tidak dapat dipungkiri, banyak generasi Gayo yang menyandang ungkapan itu secara tidak langsung. Ada yang ketika berbicara bahasa Gayo mencampurkan kosa katanya dengan bahasa Indonesia. Kasus itu sering dikaji dalam sub disiplin ilmu bidang sosiolinguistik (spesifikasi mengkaji bahasa dalam masyarakat). Mencampurkan dua atau lebih bahasa dalam sebuah percakapan disebut dengan bahasa campur. Kondisi tersebut sunguh tidak baik apabila dilihat dari aspek mempertahanan/pelestarian bahasa daerah.

Secara umum, ada dua isu bahasa Gayo yang penggunanya makin merosot tajam. Pertama, masyarakat penutur bahasa Gayo yang berdomisili di daerah perkotaan (seputaran kota Takengon) yang secara spontanitas berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia yang didominasi oleh para remaja. Ada juga sebagian kaum ibu dan bapak.

Kedua, di seputaran perkotaan sistem penerapan penerapan bahasa ibu (bahasa pertama) kepada anak kerap dipilih bahasa Indonesia bukan bahasa Gayo. Sungguh sangat disayangkan, seorang ibu yang berbahasa ibu bahasa Gayo berkomunikasi dengan anaknya dengan bahasa lainnya. Kedua kondisi ini sudah mencengkram kesadaran masyarakat sehingga tidak sadar telah mengalami dekradensi bahasa.

Fenomena miris ini menjamur di lingkungan keluarga dan masyarakat tentunya didasarkan beberapa mindset yang keliru. Seperti (1) adanya sikap gengsi berbahasa Gayo. Gengsi dalam konteks ini yaitu serasa norak atau tidak keren/hebat ketika berbicara bahasa Gayo bersama teman-teman. Seolah-olah bahasa Gayo dijadikan bahasa orang yang di perkampungan saja dan hanya khusus untuk bahasa tetue. (2) Sebagian para orang tua berasumsi bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang digunakan di lingkungan sekolah bukan bahasa Gayo. Banyak orang tua yang menerapkan bahasa pertama kepada anaknya dengan alasan mengikuti arus zaman. Bahasa kedua si anak ada juga bahasa asing karena si anak diikutsertakan dalam les seperti bahasa Inggris. Kedua pola pikir tersebut sangatlah mengganggu posisi atau kedudukan bahasa Gayo di tengah masyarakat. Padahal bahasa Gayo adalah aset dan alat untuk menunjukkan identitas.

Kasus isu bahasa Gayo dan pola pikir yang keliru tersebut adalah hal yang harus dihilangkan demi melestarikan, sekaligus mempertahankan eksistensi bahasa Gayo. Berikut ini ada beberapa solusi atau saran yang kemungkinan dapat dilakukan.

Pertama, tingkatkanlah sikap menghargai bahasa Gayo sebagai identitas daerah. Sikap penutur bahasa sangat berpengaruh besar dalam memposisikan bahasa Gayo pada strata yang perlu diprioritaskan. Jadi, mulai dari sekarang marilah kita tumbuhkan sikap kesadaran, menghargai, dan perduli pada bahasa Gayo. Dihargai atau tidaknya bahasa bergantung pada masyarakat tuturnya sehingga prestise terhadap bahasa Gayo harus dimiliki oleh setiap penutur. Menghargai bahasa Gayo dapat dimulai dengan menguasai secara benar tata bahasa Gayo, menggunakannya ketika situasi dan kondisi mendukung.

Di lingkungan sekolah, jadikan bahasa Gayo sebagai salah satu mata pelajaran (muatan lokal), mengadakan lomba menulis puisi, membaca puisi, menulis cerpen dalam bahasa Gayo, dan memberikan nama pada papan toko dengan bahasa Gayo.

Kedua, dikhususkan kepada kedua orang tua terlebih seorang ibu yang paling dekat dengan anak agar memberikan pemerolehan bahasa pertama dengan  bahasa Gayo. Anak yang masih belajar bahasa di lingkungan keluarga dan masyarakat hendaklah diajarkan bahasa daerahnya. Hal ini dapat mencegah keapatisan terhadap bahasa Gayo.

Memang tidak dapat dibantah bahwa di sekolah mayoritas menggunakan bahasa Indonesia karena identik dengan sesuatu yang bersifat formal. Artinya, guru yang mengajarkan di dalam kelas dari awal pembelajaran sampai akhir sudah memang harus menggunakan bahasa Indonesia. Namun, bukan berarti si anak total secara keseluruhan menggunakan bahasa Gayo di semua lingkungan. Seorang ibu sebaiknya memberikan bahasa Gayo lebih pada lingkungan keluarga dan masyarakat.  Ketika si anak masuk ke bangku sekolah barulah memperkenalkan atau menerapkan bahasa Indonesia, serta mengajarkan tentang situasi dan kondisi bahasa yang harus dipergunakan sesuai konteks.

Dengan demikian anak akan mampu mengadaptasikan bahasanya. Khusus di Daratan Tinggi Gayo ada juga perkawinan campuran antar etnik, namun kondisi tersebut bukanlah menjai sebuah alasan untuk memberikan pemerolehan bahasa pertama kepada anak. Tidak ada salahnya antara ibu dan ayah yang berbahasa Gayo lebih membuat kesepakatan untuk mengajarkan ataupun memberikan pemerolehan bahasa pertama bahasa pertama.

Selain kedua saran di atas, ada satu saran yang kemungkinan dapat dijadikan sebagai salah satu sikap mencintai, menghargai, mempertahankan dan mengekspose bahasa Gayo dalam wilayah akademik. Bagi kalangan terpelajar atau pihak yang berkutat di bidang pendidikan dan paham mengenai bahasa Gayo sudah seharusnya melakukan dokumentasi bahasa Gayo.

Maksudnya menjadikan bahasa Gayo sebagai topik yang dikaji dan dideskripsikan dalam karya ilmiah, misalnya pada skripsi, tesis, bahkan disertasi. Banyak hal di dalam seputar bahasa Gayo yang perlu diekspose, seperti keunikan bahasa, penulisan kamus, pembakuan dan pembukuan tata bahasa bahasa dan penulisan ensiklopedia bahasa Gayo.

Pencatatan kosakata asli bahasa Gayo zaman dahulu yaitu anan, datu, awan serta masyarakat yang jauh dari perkotaan  yang kosakata bahasa Gayo-nya masih asli belum bercampur dengan bahasa lain. Para pemerhati bahasa Gayo dapat mewawancarai, merekam atau mencatat kosakata yang mereka lafalkan. Setelah itu dibukukan dan sebaik mungkin.

Dengan tindakan tersebut setidaknya bahasa Gayo akan tetap ada, meskipun usia penutur tidaklah dapat dipertahankan. Hal ini sangatlah penting karena zaman sekarang banyak penutur bahasa Gayo yang sudah minim kosakata asli bahasa Gayo-nya. Terlebih yang bertempat tinggal dan berstatus sosial campuran.

Mulai dari sekarang mari gunakan bahasa Gayo dalam pergaulan, apabila dirantau pun tetaplah sering mengulang bahasa Gayo supaya tidak cakah. Banggalah berkomunikasi dengan bahasa Gayo, karena dengan bahasa daerah kita dapat menunjukkan identitas juga menebarkan pesona kekayaan budaya daerah kita. .[SY]

Penulis adalah alumnus Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, FKIP, Inuversitas Syiahkuala Banda Aceh.

Comments

comments