Ekonomi Keber Ari Gayo Lingkungan Sara Sagi Terbaru

Catatan perjalanan ke lokasi asal Giok Gayo

Khalisuddin

KHA_0947Tawaran menemani liputan kru TV nasional di Tanoh Gayo hampir tak pernah saya lewatkan, alasannya selain mendapatkan kenalan juga pengalaman baru, plus kesempatan nebeng liputan untuk media sendiri, LintasGayo.co.

Pengalaman terbaru adalah menemani liputan awak Trans7 untuk program Laptop Si Unyil yang awalnya ke Gayo Aceh Tengah hanya untuk liputan Kopi Rasa Wine ala Sabirin, mantan anggota DPRK Aceh Tengah, namun mereka menerima gagasan untuk sekalian liputan Giok Gayo dari pencarian hingga menjadi produk mata cincin bernilai jutaan Rupiah.

Beberapa lokasi pencarian Giok Gayo dipilih, Wih Gerpa Serule, Kala Ilie, Atu Lintang, Lumut, Wih Supi atau Wih Keruh. Karena keinginan merekam pencarian dan aktivitas pemotongan batu Giok, akhirnya di pilih Wih Keruh kecamatan Linge. Beruntung, seorang rekan warga Jagong Jeget, Mahbub Fauzie punya banyak kenalan pencari Giok, dan kami dihubungkan dengan Fathurrahan, warga Pantan Reduk.

Kamis pagi, 19 Februari 2015 perjalanan dimulai. “Hanya setengah jam perjalanan kaki, kita akan mencapai lokasi pembelahan batu Giok,” kata Fathurrahman. Kami mengiyakan saja, walau saya tidak percaya waktu tempuh seperti itu, mungkin benar bagi yang sudah terbiasa berjalan kaki di alam seperti umumnya petani di Gayo.

Karena niat sekalian liputan, saat berjalan saya nempel terus dibelakang Fathurrahman dan merekam apa yang dia katakan. “Hampir setiap hari ada saja yang naik ke atas menyusuri sungai Wih Keruh ini, mereka datang dari seluruh penjuru Aceh Tengah dan Bener Meriah, bahkan dari daerah lain. Mereka wajib memarkir kenderaan disini, dijaga oleh para pemuda,” kata Fathur. Tarifnya, sepeda motor Rp.5 ribu dan mobil Rp.10 ribu perhari. Hari minggu, penghasilan jasa parkir ini mencapai Rp.300 ribu.

Pencarian giok Gayo di salahsatu anak sungai Wih Keruh. (LGco_Khalis)
Pencarian giok Gayo di salahsatu anak sungai Wih Keruh. (LGco_Khalis)

Tak ada Giok di Jagong Jeget
Kami melintasi sungai dengan titi dari pohon kayu sekira 15 meter, was-was karena titi sudah mulai lapuk itu bergoyang. Jika patah maka batu sungai menunggu dibawah dengan ketinggian sekira 3 meter.

“Ini sungai Wih Keruh, hulunya sama dengan Wih Sufi, Wih Ukem dan dari sumber yang sama sungai tempat Giok di Nagan Raya,” kata Fathur. Dengan nada geram dia menegaskan jika wilayah penghasil Giok paling besar ada wilayah Kecamatan Linge, tidak ada di Kecamatan Jagong seperti disebut-sebut ada Giok di Jagong.

Koro Mungoro Kucing Mangan Kero (kerbau membajak sawah, kusing yang makan nasi-red), Giok itu punya Linge kenapa Jagong Jeget yang punya nama, mohon ini diluruskan. Wih Sufi dan Wih Keruh ini masuk dalam wilayah Linge,” ujar Fathur. Saat dikonfirmasi ke pecinta Giok Gayo, Mahbub Fauzie menyatakan senada, tidak ada sumber Giok dalam wilayah Jagong Jeget.

Penjajahan penamaan daerah kembali terjadi setelah Kopi Gayo, Gempa Gayo, Saman Gayo dan Ganja Gayo. Kekayaan Gayo disebut secara nasional dan internasional sebagai Kopi Aceh, Gempa Aceh, Saman Aceh, Ganja Aceh dan terakhir Giok Aceh. Tidak terbesit rasis, tapi ini tentu merugikan nama daerah “Gayo”.

Diakui, jika nama Gayo diluar memang belum setenar Aceh, terlebih wilayah Provinsi Aceh mencakup dataran tinggi Gayo. Syukurnya, Gayo kian dikenal berkat akses internet yang kian luas saat ini, jika ada penamaan yang tidak tepat langsung biasa dikomplin oleh sekian banyak orang melalu media online dan jejaring sosial.

Pencari Giok Gayo Syeh Abu
Pencari Giok Gayo Syeh Abu

Mistis dan untung-untungan
Selain mendapatkan giok dari alam itu untung-untungan, juga tak lepas dari nuansa mistis. “Beberapa kejadian aneh kami alami dalam pencarian giok, percaya tidak percaya itu terjadi,” kata Fathur.

Diceritakan, pernah di Lumut dari cerita mulut ke mulut juga ada penampakan saat di foto. Dua orang yang di foto namun saat dilihat hasilnya ada 3 orang, ada perempuan di atas batu giok yang ditemukan. Sayangnya, LintasGayo.co belum berhasil mendapatkan foto ini.

Hal aneh juga dialami oleh Fathur dan kawan-kawan, beberapa waktu lalu saat mereka menemukan batu Giok dan akan melakukan pemotongan, secara misterius muncul anak kucing, duduk di atas batu tersebut. Padahal tak ada rumah warga di tengah hutan tersebut. Kucing itu mereka usir dan pergi namun tiba-tiba sebatang kayu sebesar pohon kelapa tumpang tiba-tiba dan nyaris menimpa mereka.

Atas kejadian ini, mereka tidak menyerah karena mencari rezeki untuk menghidupi keluarga, mereka berdoa seperti biasa tanpa prosesi seperti kenduri dan sejenisnya. Pengambilan batu tersebut berhasil dilakukan dengan lancar.

Kejadian lainnya, pernah ditemukan batu Giok oleh seseorang di areal perkebunan warga desa tersebut. Awalnya sudah dipastikan batu tersebut adalah Giok yang biasa disebut Neon, sebelum pengambilan dengan proses pembelahan, terjadi perang mulut antara penemu dan pemilik tanah soal pembagian hasil. Dan saat dibelah batu tersebut zonk alias kosong jenis Gioknya.

Mencari batu Giok sangat tergantung keberuntungan. “Berhari-hari kita korek-korek di satu tempat, aliran sungai kita pindahin, tidak dapat apa-apa, berselang beberapa hari datang orang lain, cuma satu jam dapat giok solar 40 kilogram, bagaimana coba,” kata Fathur sambil garuk-garuk kepala.

Kejadian lain, Fathur dan kawan-kawan sudah menusuk-nusuk tanah di satu lokasi dengan merata, namun tidak ditemukan ada batu yang diduga Giok. Namun saat datang orang lain, justru mendapatkannya.

Pembelahan Giok
Pembelahan Giok

Penamaan Tidak Jelas
Penamanaan batu-batu akik dan giok di Gayo tidak jelas, Pengalaman Fathur saat menjual bongkahan batu Giok di Banda Aceh, 4 pedagang yang akan membeli menyatakan nama batu yang dibawa Fathur tidak sama. “Pembeli batu saja tidak tau jenis batu, yang mengatakan namanya A, yang lain mengatakan Z,” kata Fathur menceritakan pengalamannya menjual batu “Belimbing” ke Banda Aceh yang akhirnya terjual Rp.100 ribu perkilogramnya.

Penamaan ini juga diakui pelaku bisnis batu di Medan Sumatera Utara, Rizal Mulyadi. “Penamaan batu akik dan batu giok Gayo tidak jelas dasarnya, jadi kita bisa tentukan nama sendiri terhadap batu yang ada di Gayo,” ujarnya.

Ketidakjelasan penamaan ini juga terjadi di Gayo Lues, beberapa jenis batu yang ditemukan di kaki pegunungan Leuser diberi nama sekenanya sesuai warna.

Ekonomi lebih baik
Sejak ditemukannya Giok Gayo di Wih Keruh Pantan Reduk kecamatan Linge menurut Fathur, perekonomian masyarakat setempat agak lebih baik. “Sekitar 80 persen kaum Adam disini ada berburu batu Giok, dan perekoomian keluarganya agak berubah lebih baik dari sebelumnya,” kata Fathur.

Diantara perubahan tersebut tergambar diantaranya dari kepemilikan sepeda motor, televisi dan perlengkapan rumah tangga lainnya, bahkan rumah.

Ditanya siapa penemu Giok pertama kali di daerah tersebut, Fathur menyebutkan nama Jambaris. “Dia yang pertama memberikan informasi tentang giok ada disini sebelum bulan Ramadhan tahun 2014 lalu,” ujar Fathur.

Pak Ogah berakting di Giok Gayo
Pak Ogah berakting di Giok Gayo

Peneliti Emas
Terkait batu Giok di wilayah desa mereka, ada tanda tanya besar bagi umumnya warga Pantan Reduk. Beberapa tahun silam beberapa peneliti dari salahsatu perguruan tinggi terkenal di pulau Jawa sempat mengamati batu-batu di wilayah tersebut, termasuk batu-batu yang sudah diambil dan dijual karena bernama giok.

Para peniliti itu menurut Fathur meneliti emas yang dikandung batu-batu di seputar penemuan giok saat ini. “Anehnya mereka menyatakan batu-batu yang saat ini sebagai giok berharga dinyatakan sebagai batu kadaluarsa (mungkin maksud Fathur adalah batu kwarsa),” kata Fathur.

Khawatir
Perjalanan ke lokasi penemuan batu giok bersama Fathur akhirnya berakhir setelah berada di sungai kecil yang airnya mengalir bergabung dengan Wih Keruh. sejumlah rekan Fathur tampak beristirahat, ada yang dibawah tenda darurat sambil menyedu kopi sebagian lagi duduk di bawah rerimbunan pohon.

Beberapa orang lainya tampak memperhatikan sebongkah batu di sungai tersebut. Amatan saya, di sekitar lokasi tersebut ada 2 batu besar yang sudah dibersihkan sekelilingnya, dan satu unit mesin Chainshow tampak disiapkan untuk memulai pemotongan batu Giok dengan warna didominasi putih.

“Giok yang ditemukan di Wih Keruh ini hanya didekat bagian sungai saja, di darat belum, kami yakin masih banyak lagi yang lainnya,” kata rekan Fathur. Untuk itu, mewakili warga setempat, dirinya berharap agar Pemerintah memberi perhatian khusus terkait regulasi Giok, baik di lokasi pencarian maupun aturan membawanya ke luar daerah.

“Kami khawatir juga lambat laun lingkungan akan rusak dan terjadi bencana, selain itu bagaimana potensi Giok ini bisa mensejahterakan warga desa ini serta rakyat Aceh Tengah umumnya,” ujar Fathur seraya menyatakan akses jalan ke desa mereka belum diaspal dan menasah yang masih dengan bangunan apa adanya.

“Kan lucu, daerah penghasil Giok jalannya berlumpur dan berdebu, sarana ibadahnya juga masih sederhana,” kata Fathurrahman menimpali

Sesi selanjutnya, warga tersebut mulai bekerja membelah batu giok dan kru Trans7 mulai merekam aktivitas tersebut.[]

 

Comments

comments