Opini Terbaru

Cinta dan Dekapan Ayah dalam Diaryku

[Features]
Oleh : Susi Susanti

susi-dan-ayahSuasana di sebuah kampung yang jauh dari keramaian kota, kampung  yang mempunyai pesona dan keindahan dengan pemandangan bukit-bukit dan persawahan milik penduduk serta perkebunan yang membentang luas di sepanjang jalan.

Sepanjang jalan dengan hamparan yang luas akan kita dapati banyaknya pohon kemiri, kakao dan pohon durian yang menjadi tanaman khas di daerah ini.

Kampung Gumpang, begitu orang menyebut dan mengenalnya. Kampung dimana aku dilahirkan dan menggoreskan banyak cerita kehidupan bersama keluarga dan orang-orang sekitar. Dilahirkan oleh seorang ibu dan ayah yang luar biasa.

Ayah. Saat mendengar sebutan ini aku langsung membayangkan wajah Ayahku. Seorang lelaki paruh baya yang sangat luar biasa bagiku. Lelaki pantang menyerah dalam berusaha dan membuat anak-anaknya sukses.

Kuingat kebaikan-kebaikan Ayah kepadaku, begitu banyak dan tak akan pernah bisa ku hitung.

Saat masih kecil Ia sangat setia menjaga dan mengawasi kami dari hal-hal yang membahayakan. Saat kami akan makan, disela kesibukannya Ia menyuapi, memisahkan tulang-tulang ikan dari dagingnya, begitu inginnya Ia agar kami dapat menikmati rezeki dengan tanpa terkena tusukan tulang.

Pernah suatu ketika saat aku masih kecil, aku jatuh sakit. Aku dapat melihat bagaimana kekhawatiran seorang Ayah melihat aku pucat lemah tak berdaya. Beliau mencari obat kesana kemari, mendekapku dengan penuh kasih sayang, mengusap kepalaku dengan penuh perlindungan dan rasa cinta. Sungguh, Ayah adalah orang tua yang penuh perhatian dan penyanyang.

Ayah juga seorang pemuji yang tulus. Saat aku beranjak remaja, aku coba belajar memasak. Kalian tahu? Masakan apapun yang kumasak atau oleh Ibu, beliau selalu memberikan pujian. Walaupun kadang-kadang hidangan makanan yang kami sajikan itu apa adanya. Ayah senantiasa mengajarkan kami bagaimana selalu bersyukur dan merasa berkecukupan menghadapi kehidupan.

Saat aku memasuki bangku Sekolah Menengah Atas, disitulah awal aku berpisah dengan orang tuaku. Aku melihat bagaimana kekhawatiran Ayah kala itu, beliau selalu mendo’akan agar anaknya selalu dalam keadaan baik. Ia juga kerap menelepon hanya sekedar untuk menanyakan kabar, jumlah jajan, belanja yang tersisa, keadaan sekolah dan teman-temanku. Banyak nasehat kehidupan kudapat dari Ayah, begitu juga saat aku memasuki Perguruan Tinggi. Nasehat dan perhatian itu selalu Ayah berikan.

Ayah juga seorang pekerja keras, aku bisa melihatnya saat kakak dan abangku memasuki bangku sekolah, aku menemani Ayah ke kebun yang sudah menjadi ladang rupiah bagi keluarga kami. Ayah sangat menginginkan kami anak-anaknya mengecap bangku pendidikan.

Satu hal yang sangat kuingat dari perkataan Ayah, bahwa Ia tidak mampu memberikan harta yang banyak kepada kami sebagai warisan sehingga beliau berusaha agar kami bisa serius dalam menuntut ilmu. Ayah sangat berbesar hati menyekolahkan kami, karena beliau tidak ingin kami merasakan derita yang pernah beliau dan ibu rasakan.

Bicara soal pendidikan, Ayahku bukanlah seorang akademisi. Beliau hanya menamatkan sekolah setingkat SMA saja. Begitu juga ibu, hanya mampu menamatkan Sekolah Dasar saja.

Dan satu lagi yang ku ingat dari seorang Ayah, beliau adalah seorang suami yang romantis bagi ibu. Mungkin bagi kalian pasangan romantis itu adalah Romeo dan Juliet, atau Rama dan Shinta atau bahkan mungkin bapak mantan Presiden BJ. Habibie dan bu Ainun Habibie dalam filmnya. Tapi dalam kehidupan nyataku, pasangan romantis itu adalah Ayah dan Ibuku. Walaupun kadang-kadang ibu cerewet tapi Ayah sangat lihai menaklukan hati Ibu .

Memang hal romantis yang mereka lakukan tidaklah dengan pergi berdua sambil bergandengan tangan, foto narsis dengan mesra, atau hal-hal lain seperti yang ada di benak kita. Cukup hati seorang anak yang mengartikan keromantisan mereka.

Hari ini, tergerak hatiku membuka lemari di ruang tengah, kuambil foto keluarga disana, kulihat gambar Ayah, kupandangi secara seksama. Letih dan payah namun tulus tergambar jelas di garis-garis keriput wajahnya. Sungguh ia telah berusaha untuk menafkahi Ibu dan menafkahi kita.

Aku mengingat kembali kata-kata bijak yang pernah terucap: “Bahagiakanlah orangtua kita selagi mereka masih ada sebelum akhirnya hanya bisa mengirim do’a”.

Aku menutup album itu, sembari memejamkan mata. Dalam hatiku berkata:

“Ayah… harapan sederhana dari putrimu ini adalah Ayah dan Ibu bisa menikmati hari tua yang tenag dan indah. Do’akan kami agar menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Semoga rezeki yang berkah senantiasa mengalir kepada kami.. Aamiin.[SY]

 *Penulis, wartawati LintasGayo.co di Gumpang Putri Betung Gayo Lues

Comments

comments