Opini Sara Sagi Terbaru

History of Gayo in 1970

Oleh Drs. Jamhuri Ungel, MA[*]

Drs Jamhuri (foto:tarina)
Drs Jamhuri (foto:tarina)

Ketika ada satu  ungkapan “mari kita maju dan berubah untuk menatap masa depan yang lebih baik”, tentu tidak semua orang mau ikut serta dalam kemajuan dan berubah dari keadaan yang ada kepada keadaan yang lain kendati itu lebih baik, karena biasanya mereka yang tidak mau tersebut adalah orang yang menikmati keadaan dan kondisi yang ada dan mereka tidak pernah berharap suatu perubahan walaupun itu lebih baik.

Kita melihat Gayo dalam kerangka perubahan sejak tahun 1970-an. Di mana pada tahun 1970-an kita masih menemukan adanya lembaga keagamaan yang kuat dalam masyarakat Gayo, seperti pengajian di rumah-rumah tengku pada malam hari, santri yang mengaji tidur bersama di rumah tengku ditambah dengan membiasakan shalat berjamaah (maghrib, Isya dan Subuh) dengan diimami oleh tengku. Materi yang diajarkan tidak hanya al-Qur’an yang dimulai pengenalan hurup sampai kepada ilmu tajwid tetapi juga ilmu tentang sejarah Nabi, social kemasyarakat dan dongeng dan juga ilmu-ilmu yang membentuk karakter dan moral anak didik.

Kehidupan ekonomi masyarakat pada masa ini sangat sulit, uang sangat mahal, aktifitas  masyarakat sebagai petani berjalan secara tradisional, perdagangan belum jalan. Tumpuan kehidupan dan perekonomian masyarakat hanya kepada bersawah dan didukung oleh ternak kerbau dan kuda, setiap orang mempunyai sawah yang luas dan cukup untuk dimakan setahun bahkan lebih, masyarakat Gayo menyebut sisa padi setiap tahun dengan rom usang dan padi yang baru dipanen berasnya disebut dengan oros ayu. Kebun rakyat pada tahun 1970-an ditanami dengan tebu yang diolah menjadi gula merah serta tanaman lain seperti kacang merah, kacang tanah dan lain-lain. Semua itu tidak menghasilkan banyak uang, biasanya mereka yang membawa hasil kebunnya hanya cukup untuk membeli kebutuhan dasar, seperti gula, garam dan ikan asin. Sulitnya uang pada saat itu bisa kita lihat pada kebanyakan aktifitas muamalah dilakukan dengan cara barter, seperti seorang ibu membeli pohon pinus yang dibawa oleh orang Jawa untuk menghidupkan api di dapur ditukar dengan beras, ketika kesoknya orang Jawa tersebut membawa bunga kala ditukar lagi dengan beras, ketika ada orang dari Bireuen membawa ikan mereka menukarnya dengan beras. Demikian juga dengan uang sekolah anak-anak untuk setiap bulannya dan apabila orang minta-minta datang kesetiap rumah juga diberikan beras sebagai sadaqah masyarakat, .

Budaya masyarakat pada tahun 1970-an sangat tradisional, permainan anak-anak  seperti mobil-mobilan, baling-baling bambu, gasing dan lain-lain masih dibuat dengan tangan sendiri atau dibuati oleh orang mereka. Karena tradisi berburu di masyarakat masih menjadi kegiatan rutin, maka untuk anak-anak mencontoh kegiatan berburu ini menjadi bagian dari permainan mereka di sore hari setelah pulang dari kebun membantu orang tua, permainan ini yang disebut dengan men kekaron (main berburu), selain itu masih banyak permainan lain yang secara keseluruhan permainan itu sangat erat kaitannya dengan musim yang berlaku di masyarakat.

Masih pada tahun 1970-an, hampir tidak pernah saya melihat masyarakat (ibu-ibu dan perempuan remaja) memakai jilbab sebagaimana jilbab yang dipahami orang-orang sekarang mereka hanya memakai selendang untuk menurut kepala dan itupun hanya digunakan ketika mereka bepergian ke pasar atau acara pernikahan atau undangan lain.  Tidak ada yang namanya celana panjang bagi perempuan, bahkan banyak orang melarang perempuan memakai celana panjang karena dianggap menyamai kaum perempuan dan orang perempuan yang menyamai laki-laki hukumnya haram. Demikian sebaliknya laki-laki tidak boleh memanjangkan rambut karena yang boleh berambut panjang itu hanyalah orang perempuan dan laki-laki yang menyamai perempuan juga haram hukumnya.

Perselisihan antar warga yang terjadi biasa disebabkan karena pembagian air untuk sawah, batas tanah persawahan dan ternak kerbau atau kuda yang masuk ke sawah orang lain. Pengairan sawah dilakukan secara alami dengan membuat saluran air dari hulu dimana mata air yang ada, sehingga jumlah air yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah luasnya lahan persawahan. Pada saat inilah muncul kecurangan yang merugikan orang lain, di mana pada malam hari si pelaku curang menutup atau memperkecil aliran ke sawah orang lain untuk memenuhkan air ke sawahnya dan ketika kecurangan ini ketahuan maka perselisihan sering terjadi, solusi yang diambil untuk menghindari perselihan adalah membuat jadwal jaga secara bergantian.

Selanjutnya binatang ternak, binatang ternak menjadi peliharaan semua keluarga. Kuda digunakan untuk membongkar tanah dan sebagai kenderaan dan alat transportasi pengangkut barang sedangkan kerbau digunakan untuk membajak atau menghaluskan tanah sawah. Fungsi kerbau bukan hanya menghaluskan tanah sawah ketika membajak tetapi juga karena struktur tanah yang sangat gembur sehingga harus dipadatkan pada bagian bawa yang tidak gembut, kegunaannya supaya air yang mengalir ke petak sawah tidak merembes, hal ini berbeda dengan daerah yang memiliki tanah liat yang tidak mudah airnya merembes.

Pemeliharaan kerbau berbeda dengan kuda, kalau kerbau ditempatkan ditempat pengembalaan yang jauh dari tempat tinggal penduduk sehingga kerbau bebas mencari makan di padang yang luas dan diambil dari tempat pengembalaan oleh pemiliknya pada saat bersawah. Kuda diperlihara di luar kampung tempat tinggal masyarakat, kuda ini selalu ditambat pada siang dan malam hari. Bersawah dalam masyarakat Gayo mempunyai musim yang disesuaikan dengan keadaan alam sehingga aturan tentang bersawah lebih mudah untuk dibuat sehingga melairkan memunculkan resam dalam adat Gayo, diantara aturan yang muncul ketika musim bersawah adalah setiap mereka yang memiliki ternak pada malam harus mengikatnya ternaknya dan kalau masuk dan merusak tanaman pemilik ternak harus mengganti tanaman yang dirusak, sedangkan pada siang hari pemilik tanaman harus menjaga tanamannya dan apabila masuk ternak ke dalam tanaman tersebut maka pemilik ternak tidak perlu menggantinya karena kelalaian terjadi di pihak pemilik sawah.

Itu Gayo pada tahun 1970-an, dalam tulisan selanjutnya kita akan membicarakan Gayo di tahun 1980-an dan seterusnya guna melihat perubahan social masyarakat.



[*] Pemangku Adat Aceh pada MAA Provinsi Aceh dan Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *