Sastra Terbaru

Mahar Melamar di Jembatan Blangkejeren

[Cerpen]

Anuar Syahadat Porang

Anuar-Syadat-PorangbwAku berdiri tegak di atas jembatan Penampaan, suara riuh kendaraan yang lalu-lalang terus menyelimuti sore itu. Kurentangkan kedua tangan sambil menutup kedua bola mata, igin rasanya kujatuhkan badan ke sugai Porang Blangkejeren ini hingga badanku remuk bersama cinta.

Kulepaskan suara teriakan sekeras-kerasnya hingga dongkol di jiwa sirna bersama hembusan agin yang menyelimuti kota Gayo Lues. Aku galau, benar-benar dirundung galau berat. Masalah yang kuhadapi bukan saja menyangkut nama baikku dan keluargaku, tetapi menyangkut juga dengan profesiku sebagai tenaga kesehatan di sebuah intansi pemerintah. Bagaimana tidak, kabar walimah yang telah kulontarkan kepada teman-teman dan atasanku malah menjadi kisah kasih yang tragis.

“Arma ngapain kamu di jembatan ini sendirian, masak ngak bawa calon suami jalan-jalan”, sapa Noni May Lisa teman akrapku di tempat kerja. Suara Noni serta-merta membuyarkan lamunan, aku menoleh kepadanya yang sedang duduk santai di atas sepeda motornya.

“Aku sedang ada masalah Noni, aku ngak tau lagi harus bagaimana, dan mau cerita kepada siapa, semut-semut merahpun kini menertawaiku Noni”, kataku saat dia turun dari sepeda motornya menuju ke-arahku.

“Kalau ada masalah jangan didiamin, cari teman curhat yang menurut kamu cocok dan pas, biar gelisah dan sakit hati kamu bisa terobati”, jelasnya sambil mengajaku jalan-jalan sore menikmati lambain pucuk pinus ke Bukit Cinta.

Aku yang sedang dirundung pilu tentu saja tak ingin ada yang mengganggu, aku igin tenang dalam kesendirian hingga akhirnya kutolak ajakan Noni, dan diapun berlalu menelusuri jalan dua jalur berbunga bonsai menuju Bukit Cinta.

Lampu jalanan mulai menghiasi kota Blangkejeren, suara riuh kendaraan mulai berkurang, kubulatkan tekat menuju rumah dan menanyakan sejelas-jelasnya kepada Ine kenapa keluarga bang Jungke tidak jadi melamarku.

 Dalam batinku, semua persoalan pasti ada penyelesaiannya dan semua takdir telah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, aku mencoba tegar saat lemah dan mencoba bangkit saat terjatuh.

“Kenapa anak Ine ni, kok mukanya cemberut. Ine buatin susu ya”, tawar Ine yang sedang menyiram bungga di halaman rumah. Kuparkirkan sepeda motor, aku duduk dan diam di kursi teras dekat Ine menyiram bunga kesukaannya.

Sesampainya Ine di depan, kulontarkan bertubi-tubi pertanyaan yang menumpuk di dada.

“Kenapa keluarga bang Jungke tidak jadi melamrku Ne? apa alasan keluarga kita hingga akhirnya aku tidak jadi menikah dengannya? Semua orang di luar sana menertawaiku Ne! Aku malu dengan keadaan ini”, keluhku kepada Ine sambil meneteskan air mata.

Berawal dari pertanyaan itu Ine yang sedang memegang segelas susu akhirnya menerangkan semua persoalan yang mengharuskan aku gagal menikah dengan bang Jungke meskipun kami sudah menjalin kisah asmara sejak dua tahun yang silam.

“Bukan kami tidak setuju Arma, Ine dan keluarga setuju-setuju aja kamu menikah dengan Jungke itu, tetapi keluarganya tidak menyanggupi memberikan mahar berupa emas seberat lima mayam, uang Rp. 15 juta dan isi kamar lengkap. Bagaimana nanti kata teman-teman arisan Ine dan Ama kamu juga pasti malu di kantornya kalau di turunin belanjanya dari jumlah itu”, kata Ine kalau utangpun dulu maharnya tidak apa-apa.

Penjelasan Ine secara rinci mengharuskan aku harus memilih antara lari bersama bang Jungke atau gagal menikah. Sebab keluarga bang Jungke yang miskin tidak mungkin mam[pun dan menyanggupi mahar dan uang sebanyak itu. Hatiku linglung, air mataku mulai berderai, aku harus memilih antara keluarga dan bang Jungke.

Aku berlari menuju kamar di lantai dua rumah, sedih bercampur kecewa dengan ucapan Ine yang mengharuskan ada emas 5 mayam dan uang Rp. 15 juta baru bisa menikahkanku dengan bang Jungke atau siapapun pemuda yang akan melamarku kelak.

Ine-ngku berpikir biaya kuliah yang telah dikeluarkannya sangat tidak sebanding dengan mahar yang disanggupi oleh keluarga bang Jungke. Apalagi kata Ine saat ini aku sudah bekerja dan punya penghasilan Rp. 1 juta meski tidak kuterima setiap bulannya.

Perlahan kuambil handpone dari saku dan menghubunggi bang Jungke.

“Halo, Asalamualaikum”, kata bang Jungke dengan suara serak-serak basah yang sangat kusuka, bahkan suaranya itu pula yang membuat aku kelepak-kelepak jatuh cinta sejak dulu hingga kini.

Kamipun bercerita banyak terkait ancaman gagal menikah, bang Jungke mengatakan semua tanah, kebun dua kambing yang sedang beranak dan ayamnya sudah semua dijual, tetapi emas 5 mayam dan uang Rp. 15 juta masih belum tercukupi.

Hingga akhirnya bang Jungke melontarkan kata terakhir yang selalu kukenang. “Arma, sebenarnya aku sangat menyayangimu. Aku tulus mencintaimu, begitu jua dengan dirimu, aku yakin dirimu pasti sama. Mungkin Tuhan berkata lain, kita sungguh jauh berbeda, engkau anak pejabat yang mengharuskan bisa menikah saat ada emas 5 mayam uang Rp. 15 juta. Keluargaku hanya petani, tidak bisa menyanggupi permintaan keluargamu, aku rela dan pasrah harus beerpisah denganmu”, ucapnya yang langsung mematikan handpone karena aku mengatakan tidak berani kawin lari.

Sejak saat itu, aku selalu menyiksa diriku dengan bermacam kegiatan, aku tidak pernah open dengan ucapan Ine dan Ama-ngku, bahkan saat ada orang yang datang melamar aku menolak mentah-mentah. Batinku tidak bisa menerima kehadiran lelaki manapun selain bang Jungke.

Derita emas 5 mayam dan uang Rp. 15 juta sebagai mahar melamarku yang gagal ini mengharuskan aku harus menangis setiap malam, keluargaku tidak memperdulikan betapa sakitnya gagal dinikahi oleh orang yang mencintai. Bukan harta yang menjadi ukuranku, tetapi ketulusan cinta dan kebahagiaan yang menjadi harapan dan tujuan hidupku.[SY]

Comments

comments