Sara Sagi Terbaru

Dewan Adat Gayo; antara Semangat Persatuan dan Kendala Komunikasi

Oleh : Win Wan Nur*

Win Wan Nur
Win Wan Nur

PASCA seminar Asal Usul/Budaya Gayo di Belang Kejeren beberapa waktu silam. Jalinan silaturahmi yang sebelumnya terputus cukup lama tersambung kembali.

Isu-isu tentang Gayo yang sebelumnya hanya dibahas secara lokal dan menjadi perhatian masyarakat lokal di masing-masing wilayah Gayo. Sekarang mulai menjadi pembahasan dalam komunitas Gayo yang lebih luas melintasi batas wilayah administratif.

Satu yang menjadi pembicaraan cukup hangat dalam komunitas Gayo belakangan ini adalah ide pembentukan Dewan Adat Gayo.

Sebagaimana diketahui, pada bulan November 2013 silam.  Sebuah seminar yang diberi tema ‘Menatap Gayo’ yang menghadirkan pembicara Tagore Abu Bakar dan Mustafa Ali yang dimoderatori oleh penulis sendiri. Diselenggarakan di Hotel Linge Land,  Takengen.

Mungkin karena acara ini menghadirkan Yusra Habib Abdulgani dan Tagore Abu Bakar, dua tokoh yang di masa lalu berbeda pandangan politik secara sangat ekstrim. Acara ini mengundang minat banyak tokoh untuk menghadiri. Mulai dari ulama, seniman, politisi, akademisi sampai tokoh pemuda dan mahasiswa yang berasal dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, baik dari wilayah Gayo Lut maupun Deret hadir dalam acara ini.

Seminar yang membicarakan tentang berbagai persoalan di Gayo dan kendala yang dihadapi Gayo selama ini dalam menunjukkan eksistensi berlangsung hangat tapi bersahabat dan penuh semangat persaudaraan. Perbedaan pandangan antara dua kelompok yang hadir yang begitu tajam di masa lalu, tidak tampak dalam seminar ini. Semua hanya membicarakan bagaimana menjadikan Gayo lebih baik di masa depan.

Dalam suasana penuh persaudaraan seperti itu dan munculnya satu perasaan senasib karena merasa ditekan oleh kelompok mayoritas tanpa bisa memberikan perlawanan, karena tidak adanya wadah bagi Gayo sebagai sebuah entitas adat untuk menyuarakan kepentingan Gayo. Di forum ini muncul ide spontan untuk membentuk sebuah lembaga yang bisa mewadahi seluruh masyarakat adat Gayo, tanpa dibatasi oleh wilayah administratif maupun afiliasi politik. Inilah sejarah munculnya gagasan untuk membentuk Dewan Adat Gayo.

Menimbang karena sulitnya mengumpulkan tokoh yang begitu beragam di dalam satu forum,yang sebelumnya memang belum pernah terjadi dan diperkirakan akan sulit terjadi kembali. Karena setelah acara masing-masing yang hadir ada yang akan kembali ke Amerika, ke Denmark dan kota-kota lain di Indonesia. Maka muncul desakan untuk mendeklarasikan lembaga yang akan dibuat ini malam itu juga.

Tapi kemudian muncul pertanyaan, bagaimana dengan para serinen urang Gayo yang ada di Gayo Lues, Tanah Alas, Serbejadi dan Kalul. Apakah tidak akan merasa dilangkahi dengan adanya deklarasi ini.

Saat itu forum bersepakat, setelah acara ini, pendeklarasian ini akan segera disampaikan oleh utusan yang dikirim kepada Bupati Gayo Lues untuk ditindaklanjuti dengan harapan akan ada pertemuan lanjutan yang akan mengumpulkan perwakilan dari seluruh wilayah Gayo. Sehingga lembaga ini yang akan dibentuk ini benar-benar mendapat legitimasi dari seluruh masyarakat Gayo, di wilayah manapun mereka tinggal.

Belakangan terjadilah pertemuan dengan tajuk ‘Seminar Asal Usul/Budaya Gayo’ yang dihadiri oleh perwakilan dari seluruh wilayah Gayo. Sayangnya dalam pertemuan ini sama sekali tidak dibahas tentang pentingnya pembentukan lembaga adat yang mempersatukan seluruh Gayo.

Tapi point penting dari seminar di Belang Kejeren ini, bukan hanya kesimpulan seminarnya. Satu hasil nyata yang didapat dari seminar ini adalah terjalinnya kembali komunikasi antar komunitas Gayo yang sekian lama terpisah dalam wilayah administratif buatan orang luar. Ketika silaturahmi telah terjalin, komunikasi pun berlangsung.

Ketika ide tentang pembentukan Dewan Adat Gayo kembali mengemuka. Antusiasme pun terlihat muncul di berbagai wilayah Gayo dan apa yang menjadi ganjalan yang selama ini ada karena kurangnya komunikasi kini mulai mengemuka.

Contohnya dalam sebuah grup diskusi di Blackberry Messenger yang diisi oleh banyak tokoh Gayo yang berasal dari Gayo Lues. Muncul banyak sekali pertanyaan kritis yang didasari oleh kecintaan kepada Gayo, terhadap ide pembentukan Dewan Adat Gayo ini.

Para tokoh yang berkomentar ini rata-rata mempertanyakan ketidaklengkapan perwakilan yang hadir dalam mendeklarasikan Dewan Adat Gayo, posisi kantor pusatnya yang dalam draf AD/ART yang disebutkan ada di Takengen. Sehingga memberi kesan kuat bahwa Dewan Adat Gayo ini dibuat berdasarkan Gayo Lut sentris, sementara masyarakat Gayo di wilayah Gayo lainnya hanya dianggap sebagai tukang stempel.

Pendapat kritis ini diantaranya disampaikan oleh Djamaluddin Iliyas, yang mungkin karena memperkirakan ada satu panitia khusus yang dibentuk untuk mendeklarasikan lembaga ini,  menyayangkan sikap para deklaratornya yang dengan lancang mendeklarasikan sebuah lembaga yang mengatasnamakan Gayo, tanpa melibatkan seluruh elemen masyarakat Gayo yang tersebar di beberapa kabupaten, untuk itu beliau menyatakan sikap menolak keberadaan Dewan Adat Gayo.

Tokoh Masyarakat Gayo Lues berusia 54 tahun yang juga dikenal dengan nama Empun Naya ini menganggap, pembentukkan dewan adat tersebut prematur, dan meminta kepada deklaratornya agar dewan itu membubarkan diri saja atau berganti nama menjadi lebih spesifik semisal Dewan Adat Gayo Takengen, agar kedudukannya menjadi lebih jelas di mata suku gayo lainnya.

Tanggapan kritis lain disampaikan oleh Abdul Karim Kemaladarna, seorang Tokoh Gayo yang berdomisili di Jakarta yang mengaku sebenarnya mengapresiasi ide pembentukan Dewan Adat Gayo, tapi pembentukan lembaga pemersatu semacam ini tentu harus melibatkan semua tokoh Gayo dari seluruh penjuru.

“Jangan sampai maksud mulia mempersatukan gayo, tapi karena ada sebagian merasa tidak dilibatkan dari awal . Muncul kesan merasa didikte dan seolah olah di fait accompli. Sebuah keadaan yang bisa menyebabkan beberapa orang tua membuka kisah lama yang beraroma kurang bagus. Kalau ini dibiarkan kisah tidak mengenakkan dimasa lalu ini bukan tidak mungkin akan kembali berulang dalam versi yang berbeda” Terangnya.

Tokoh lain seperti Buniyamin dan Abd Karim Porang menyampaikan pendapat yang kurang lebih sama.

Pada akhir diskusi, Abdul Karim Kemaladarna menyimpulkan bahwa intinya, semua elemen Gayo sebenarnya ingin bersatu,bersama dalam sebuah kesetaraan untuk Gayo yang besar  di masa depan.Bukan pimpinan dan tempat yang menjadi masalah, tapi komunikasi yang harus diperbaiki.

Lalu dalam sebuah kalimat bahasa Gayo, beliau menyampaikan “Urang Gayo ni pora bes we ike cara e nge kona ku ate”.

Melihat wacana dan opini yang berkembang ini. Kiranya ide-ide dan pendapat kritis yang didasari oleh kecintaan terhadap Gayo ini perlu menjadi perhatian kita bersama. Sebagaimana diharapkan oleh para peserta seminar di Takengen yang pada tanggal 7 November 2013 silam, secara spontan mendesak pendeklarasian Dewan Adat Gayo, yang didasari semangat kecintaan terhadap Gayo yang sama dengan para tokoh yang menyampaikan suara kritis ini.

Kiranya memang, Lembaga Dewan Adat Gayo yang akan dibentuk ini, apapun nama dan bentuknya nanti, apapun ide yang akan dimasukkan ke dalamnya nanti harus dibicarakan kembali dengan melibatkan elemen Gayo yang lebih lengkap, yang mewakili seluruh wilayah Gayo yang akan direpresentasikan oleh lembaga ini nanti.

Dan dengan mempertimbangkan banyaknya kesimpang siuran informasi yang menimbulkan banyaknya ketidak puasan berbagai kalangan di Gayo Lues terhadap cara munculnya gagasan pembentukan lembaga ini.

Tidaklah berlebihan kalau kita berharap, pertemuan lanjutan yang akan dihadiri perwakilan Gayo dari seluruh wilayah untuk mematangkan gagasan dan kalau bisa malah mendeklarasikan ulang pembentukan lembaga yang mempersatukan Gayo ini di selenggarakan di Gayo Lues.

*Moderator Seminar Menatap Gayo di Takengen, 7 November 2013

Comments

comments