Keber Ari Ranto Sastra Terbaru

Penyair Taufiq Ismail dan L.K Ara Baca Puisi pada Peringatan 10 Tahun Tsunami

PicsArt_1420036012356Banda Aceh-Lintas Gayo.co : Penyair Taufiq Ismail dan L.K.Ara telah tampil baca puisi di Blangpadang tgl 26 Des 2014 dalam rangka peringatan 10 tahun tsunami. Penyair Taufiq Ismail yang tampil pagi jumat itu membacakan puisi berjudul “Baca Puisi Di Masjid Raya Baiturrahman” dan penyair L.K.Ara yang tampil malam hari membacakan puisi “Kain Kafan”.

Berbaju putih dan peci hitam Taufiq Ismail mulai membacakan puisinya

Betapa kehormatan sangat besar bagi saya

Mendapat undangan dua kali puisi dibaca

Di Masjid Raya yang tujuh buah kubahnya

Seratus enam puluh delapan pucuk tiangnya

Tiga ratus sembilan puluh satu tahun umurnya

Pertama malam di depan rehal duduk bersila

Kedua selepas shalat Jum’at di atas mimbar di sana

Setelah bait pertama ini diucapkan penyair disusul dengan bait berikutnya. Penonton yang hadir nampak terpukau oleh gaya Taufiq yang khas. Nampak hadir Wapres H M. Jusuf Kala, Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah dan para tamu undangan dari berbagai negara donator.

Taufiq menutup baca puisinya dengan bait terakhir yang sungguh mengesankan,

Seusai baris terakhir, turun mimbar, berdatanganlah mereka

Mengerubungi, menyalami, merangkuli saya

Ada orang berlima yang terisak-isak susah berhentinya

Bergantian di bahu menyandarkan kepala

Dan meneteskan air mata

‘Tolong pak, tolong carikan anak saya…’

Setelah selesai Taufiq baca puisi terdengar suara tepuk tangan yang sangat riuh. Pertanda puisi yang dibacakan sampai kepada penonton dengan baik.

Giliran penyair L.K Ara baca puisi berlangsung pada malam harinya. Berbeda dengan Taufiq baca puisi hanya sendiri, L.K.Ara tampil dengan iringan musik tradisional grup rapai Bur’am pimp. Chairullah Akbar. Diawali lagu Wamule yang dinyanyikan Indra Helmi suasana menderas mengalir dari 13 rapai, gitar, bass, calarinet dan serune kalee. Kemudian suasana merendah sayup disusul dengan suara jeritan wanita dari kejauhan lalu terdengar suara L.K.Ara,

KAIN KAFAN

Masihkah sempat kain kafan

Yang kami kirimkan

Untuk membungkus tubuhmu saudaraku

Tubuhmu begitu cepat lunglai

Dan tak bernyawa lagi

Oleh badai tsunami

Masihkah sempat kain kafan

Yang kami kirimkan

Untuk membungkus tubuhmu saudaraku

Mengingat tempat kita

Kini berjauhan

Dipisahkan pulau

Dipisahkan lautan

Kain kafan yang kami kirimkan

Kain kafan putih

Bersih

Ingin membungkus tubuhmu

Penghabisan kali

Sebelum tubuhmu dibaringkan

Dirumahmu terakhir

Mengenakan pakaian serba putih dengan penutup kepala juga putih kelihatan LK.Ara menyatu dengan panggung yang luas yang diberi cahaya berkilau. Pada akhir pembacaan puisinya penyair yang dikenal dengan antologi puisinya Angin Perjalanan ini menggerakkan tubuh dan tangan lalu mengucapkan bait.

Bila kain kafan

Yang kami kirimkan

Belum juga sampai

Oleh banyak hal

Termasuk kesulitan pengangkutan

Dan pendeknya waktu

Sedang tubuhmu

Harus segera

Mendiami rumah baru

Kami telah mengirim

Alfatihah lebih dulu

Tenanglah tidurlah saudaraku

Nikmatilah pertemuanmu dengan Tuhanmu

“Ini kali kedua saya baca puisi Kain Kafan di panggung terbuka” kata L.K. Ara. “Sebelumnya di panggung terbuka di Pangkal Pinang, ibukota Bangka Belitung”. Lalu penyair yang baru saja berulang tahun ke 77 ini menceritakan puisi Kain Kafan ditulisnya tgl 28 Des 2004 di Pangkal Pinang. “Ketika itu saya berada di Bangka Belitung selama 2 tahun mengumpulkan sastra lisan Melayu,” ucap L.K.Ara.

Menurut sang penyair bila dulu tahun 2005 baca puisi di Pangkal Pinang untuk mencari dana untuk dikirim ke Aceh, kini baca puisi di Blang Padang tahun 2014 untuk memperingati 10 peristiwa tsunami. (Na)

Comments

comments