Opini Terbaru

Benteng Tsunami di Bawah Permukaan Laut

Oleh : Hartono Sanjaya

Sabang TsunamiSepuluh tahun sudah bencana gempa bumi dan disusul dengan gelombang tsunami melanda sebagian besar wilayah Aceh. Tanggal 26 Desember 2004 tidak akan pernah hilang dalam rekaman sejarah, tidak hanya bagi rakyat di Aceh tetapi juga bagi dunia internasional. Kehilangan yang begitu besar dari ribuan keluarga karena terdampak langsung bencana tersebut tidak akan tergantikan oleh apapun.

Kejadian gempa dan tsunami tersebut meninggalkan banyak sekali pelajaran baik yang tersurat maupun yang tersirat. Salah satu pelajaran yang kita dapatkan adalah adanya benteng tsunami di bawah permukaan laut. Apakah benteng tsunami yang dimaksud?

Kota Sabang terletak di tepi pantai Pulau Weh dan menghadap langsung kearah Barat. Untuk wilayah pantai kota Sabang dan sekitarnya, arah Barat adalah arah datangnya gelombang tsunami. Kita tahu bahwa gempa yang terjadi di dekat pulau Simeulue adalah yang terbesar dan men-trigger gempa-gempa lain setelahnya dalam waktu relatif singkat, terjadi memanjang ke arah kepulauan Nikobar. Jika ditarik garis lurus maka rangkaian gempa ini terjadi sepanjang 1000 Km. Akibatnya adalah gelombang tsunami terjadi berawal dari sepanjang “garis gempa” tadi.

Gelombang yang mengarah ke kota Sabang tentunya yang berasal dari arah kepulauan Nikobar, mengarah langsung ke kota tersebut. Jika kita meratakan kemungkinan yang terjadi maka tentunya kota Sabang akan hancur terlumat gelombang tsunami seperti kota Calang, Meulaboh, dan Banda Aceh.

Tetapi apa yang terjadi? Kota Sabang, Alhamdulillah, tidak mengalami hal buruk tersebut. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Mari kita lihat kondisi bawah laut sekitar pulau Weh. Pada gambar tiga dimensi yang dibuat berdasarkan titik-titik kedalaman laut yang telah dipetakan maka dapat kita lihat adanya cekungan (biasa disebut palung) yang sangat dalam di teluk Sabang. Apa hubungan antara tsunami dan palung ini?

Dalam ilmu oseanografi dijelaskan sebagai berikut. Saat gelombang memasuki perairan dangkal, kecepatannya menurun, bentuk dan tingginya berubah. Pada kedalaman setengah dari panjang gelombang, permukaan gelombang mulai terbentuk dan semakin tinggi. Dan saat kedalaman kurang dari 1,3 kali tinggi gelombang, maka gelombang akan pecah. Jadi, terhadap kedalaman dasar laut, perubahan bentuk permukaan gelombang terkait dengan panjang gelombang. Sedangkan pecahnya gelombang terkait dengan tinggi gelombang. (sumber antara lain: Seafriends)

Begitulah yang terjadi, dengan kedalaman laut yang sangat dalam (palung ini mempunyai kedalaman lebih dari 800 meter) itulah kota Sabang terselamatkan dari hantaman (pecahan) gelombang tsunami. Terbukti di sisi Barat kota semua selamat, yang terjadi hanyalah naiknya permukaan air, dan bukan hantaman pecahan ombak yang tinggi. Sedangkan di utara kota, yaitu di Pantai Kasih, pantainya relatif landai, sehingga hantaman pecahan ombak mengakibatkan hancurnya beberapa rumah di pantai. Daerah berpantai landai yang dihantam tsunami terjadi di Banda Aceh dan banyak tempat di pantai barat Aceh.

Demikianlah, Allah menciptakan benteng yang “tidak terlihat oleh mata”, karena memang di bawah permukaan laut, yang mampu meredam keganasan tsunami.

*Penulis adalah Staf di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta, Mahasiswa di Michigan State University USA.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *