Sara Sagi Sosok Terbaru

Aka Marmas, perempuan Gayo tangguh di Blangkejeren

Win Wan Nur & Khalisuddin

Kak Mas di ruang kerjanya. (LGco_Joe Samalanga)
Kak Mas di ruang kerjanya. (LGco_Joe Samalanga)

GERAKNYA dalam melayani para tamu di Hotel Green Marmas, Blangkejeren Gayo Lues sangat luwes. Begitu penilaian para wartawan, pemakalah dan peserta  seminar Asal Usul/Budaya Gayo yang diinapkan oleh panitia di hotel ini. Pengelolanya seorang perempuan separuh baya, selain luwes juga ramah dan selalu berupaya menyelesaikan kendala tamu walau diluar layanan usaha penginapan yang dikelolanya.

Beberapa hari menginap di hotel tersebut, nyaris tidak ada yang menyadari bahwa perempuan yang melayani mereka selama ini adalah Marmas sendiri, nama panggilan sang pemilik.

Kecerdasan dan luasnya wawasan perempuan ini baru terasa saat mulai berbincang dengannya diluar konteks penginapan. Awak LintasGayo yang berbincang dengan perempuan ini setiap pagi saat sarapan di Café Marmas yang ada di seberang hotel ini menyadari bahwa Marmas bukan perempuan biasa, ketika dia dengan lahap menyantap semua tema pembicaraan mulai dari soal ekonomi, politik sampai gender.

Belakangan diketahui, bahwa Marmas yang punya nama asli Dra. Nursidah M. Armas ni ternyata adalah seorang mantan Caleg dari Partai Aceh (PA) nomor urut 2 dari untuk DPRK Gayo Lues yang belum bertuah ke parlemen pada Pemilu 2014.

Dia dilahirkan 16 Juni  1969, istri dari Asril Mahya, SPd, dengan 5 orang anak yang masing-masing bernama Mahreza, Angga Murezeki, Anisa Blangi, Haikal Firdaus dan Peteri Saqila patut diacungi jempol. Sosok yang akrab disapa Kak Mas dijuluki Ratu Bisnis di Gayo Lues karena memang suka bisnis di semua sektor.

Kak Mas adalah sarjana bahasa dan sastra dari Abul Yatama Banda Aceh pada tahun 1993 menikah dan tahun 2000 sempat berkarir sebagai PNS menjadi guru di MAN Gayo Lues. Menjadi PNS adalah hadiah bagi korban Daerah Operasi Meliter (DOM) dari presiden RI, BJ. Habibi. Kak Mas sempat mengajar selama 13 tahun, satu tahun di Kemenag Gayo Lues dan selama 2 tahun di KUA Blangkejeren. Pada tahun 2013 dia mengajukan pensiun muda dengan tujuan ingin fokus di dunia bisnis serta mencoba karir politik.

Kegagalan Kak Mas lolos ke parlemen tidak melunturkan semangat perempuan ini. Sebagai kompensasi atas kegagalannya, Marmas semakin serius mengembangkan usaha hotel yang dia kelola selain usaha lain dibidang entertainment dan Event Organizer (EO).

Ketika bicara soal keadilan dalam perspektif gender, analisa Marmas sangat menarik untuk diikuti. Menurut Marmas, perempuan Gayo gagal berkembang karena cara pandang masyarakat Gayo, terutama di Gayo Lues yang sangat bias gender.

Kak Mas dan suaminya. (LGco_
Kak Mas dan suaminya. (LGco_Joe Samalanga)

Dalam pandangan Marmas, di Gayo Lues, perempuan yang aktif berorganisasi dan aktif dalam kehidupan sosial masih dipandang negatif oleh masyarakat Gayo Lues yang sangat berkarakter patriarkal, sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial, ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda.

Pada sebuah pertemuan dengan tokoh masyarakat Gayo Lues, Marmas menceritakan bahwa dia pernah mengatakan di depan forum. “Coba perhatikan semua perempuan di dalam forum ini, bukankah hampir semuanya janda?. Kalian tahu kenapa?. Itu karena masyarakat Gayo masih memandang rendah perempuan yang aktif dalam berorganisasi dan kegiatan sosial kemasyarakatan,” kata Kak Mas mengenang.

Menurut dia, perempuan Gayo akan hebat jika mendapat izin trayek dari kerabat laki-lakinya, ayah, abang serta suami jika sudah berkeluarga. Selain itu juga dukungan lingkungan sangat mempengaruhi kesuksesan perempuan Gayo berkiprah dalam banyak hal.

Marmas sendiri mengaku, kalau dia bisa aktif dalam politik, bisnis dan aktifitas sosial selama ini karena suaminya yang  bukan kebetulan tidak berasal dari Gayo, sangat mendukung semua aktivitasnya.

Selanjutnya, Marmas berharap agar media bisa membantu mengubah cara pandang masyarakat Gayo yang sangat bias gender ini. Supaya perempuan-perempuan Gayo yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk  memberikan karya terbaik untuk Gayo, tidak terpinggirkan dan bisa ikut membangun peradaban Gayo menjadi lebih baik.[]

Comments

comments