Free songs
Home / Jurnalis Warga / Haji Kasdi ‘La Odeng’ tak henti berkarya di usia senja

Haji Kasdi ‘La Odeng’ tak henti berkarya di usia senja


Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*

KasdiBIES Pilar hanyalah sebuah kampung kecil  yang terletak di Kecamatan Bies Kabupaten Aceh Tengah, hanya beberapa kilometer dari Takengon sekilas tidak ada bedanya dengan desa-desa lain di Kabupaten Aceh Tengah, topografinya yang berbukit dan dikelilingi rimbunnya pohon-pohon kopi merupakan pemandangan biasa

Tapi ada yang menarik perhatian penulis saat menyambangi desa ini, ada sesosok lelaki tua yang sangat “mengagumkan”. Usianya tidak muda lagi, seluruah rambut dan jenggotnya telah memutih, namun dia masih tetap terlihat “energik” dan penuh semangat.

Itulah sosok Haji Kasdi, lelaki tua yang dilahirkan di desa ini 73 tahun yang lalu, meski usianya sudah tidak muda lagi tapi dia tidak nampak “renta”, raut wajahnya masih terlihat cerah, fisiknnya masih bugar, tangan-tangannya masih terlihat kekar dan sepasang kakinya masih terlihat kokoh menopang tubuhnya, hanya rambut dan jenggot putih yang menghiasi wajahnya itu saja yang menunjukkan “ketuaan”nya.

Tidak sulit untuk menjumpai pak Kasdi, semua penduduk di desa itu mengenalnya dengan baik, rumahnyapun terletak di pinggir jalan beraspal yang mudah dilalui kendaraan. Ditemani secangkir kopi Gayo yang ditemani “gemblong” penganan khas Jawa yang terbuat dari beras ketan yang ditumbuk halus seperti getuk, mulailah pak Kasdi menceritakan kisahnya..

Lelaki yang sejak mudanya sudah menekuni profesi sebagai petani itu, sama seperti kebanyakan petani di desa itu, membudidayakan kopi arabika sebagai komoditi pertanian utamanya. Sampai saat ini 2 hektare kebun k0pinya masih terawat dan berproduksi dengan baik. Meski dari kebun kopinya, dia sudah mampu membiayai keluarganya dengan layak bahkan telah mengantarkannya ke tanah suci beberapa tahun yang lalu, tapi pak Haji Kasdi merasa belum “puas”, ada sesuatu yang “mengelisahkan” hati dan fikirannya.

Kegelisahan” itu berawal pada tahun 2005 yang lalu, pak Haji yang rajin mengelilingi pelosok-pelosok Dataran Tinggi Gayo itu banyak melihat dan mendengar keluhan para petani Cabe di daerah itu. Budidaya cabe yang saat itu lagi “booming” di daerah ini, membuat latah banyak petani untuk menambah atau mengalihkan usaha taninya ke komoditi cabe.

Hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama, ratusan hektare hamparan mulsa tempat menanam cabe, menghiasi daerah berhawa dingin ini. Namun karena kebanyakan petani menanam cabe hanya karena “latah”, pada akhirnya beberapa bulan kemudian mulai timbul masalah dengan tanaman cabe mereka, masalah terberat yang dirasakan para petani adalah munculnya penyakit antraxness pada tanaman cabe mereka, begitu ganasnya dampak penyakit yang disebarkan oleh sejenis virus itu sehingga dalam tempo sekejap, ratusan hektare tanaman cabe mengalami keriting daun, batang yang mengerdil dan akhirnya mati.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengatasi kendala itu, baik secara biologi maumun secara kimia, tapi hasilnya tetap belum memuaskan para petani, penggunaan pestisida kimia untuk mencegah dan mengendalikan penyakit tanaman itu hanya dapat sedikit mengurangi serangan “mematikan” itu, bahkan membuat penyakit itu semakil “kebal”.

Keluhan para petani yang ditemuinya selama dia melakukan “touring” ke desa-desa, membuat pak Kasdi yang hanya sempat mengenyam Sekolah Rakyat itu perlu “memutar otak” untuk dapat memberi solusi kepada teman-teman petaninya. Setelah berbulan-bulan melakukan pengamatan di lapangan, dia berkesimpulan bahwa penyebab itu semua adalah akibat penggunaan benih yang sembarangan, para petani cabe kurang memperdulikan dari  mana asal usul benih cabe mereka. Dia pun mulai berfikir untuk “menciptakan” benih cabe yang “resistan” terhadap penyakit tanaman khususnya antraxness.

Sejak saat itu Pak Kasdi mulai “bergerilnya” mencari pohon-pohon cabe yang bebas dari serangan penyakit antraxness, dia pun meminta kepada pemilih pohon cabe untuk meng “karantina” pohon cabenya, caranya dengan membuat jaring pengaman yang dapat mengisolasi tanaman itu dari tanaman lainnya. Dari pohon-pohon “sehat” itu pak Kasdi mulai menyeleksi buah-buah cabe berkualitas untuk kemudian diatngkarkan di kebunnya. Mulailah pak Kasdi menggeluti “pekerjaan” barunya sebagai penangkar benih kecil-kecilan, benih-benih cabe pilihan itu kemudian dia semaikan dan dia tanam di “kebun percobaan”nya. Untuk menjaga agar kebun percobaannya benar-benar  “aman” dari pengaruh luar yang berpeluang terjadinya “infeksi” pada tanaman cabenya, pak Kasdi “memprotect” kebun percobaanya dengan sangat ketat, selain “mengurung” tanaman cabenya dengan jarring, dia juga tidak mengijinkan sembarang orang untuk memasuki “kawasan terlarang” itu.

Hasil uji coba pertamanya berhasil dengan baik, tidak satupun tanaman cabenya yang terkena serangan penyakit antraxness, bahkan tanaman cabe di kebun percobaaanya mampu berproduksi melebihi produktifitas rata-rata. Namun dia belum yakin dengan hasil percobaannya, dia pun mengulanginya pada musim tanam berikutnya dengan volume yang lebih besar, hasilnya semakin baik, begitu juga pada uji coba yang ketiga dan ke empat. Dia mulai yakin bahwa bahwa benih cabe hasil tangkarannya benar-benar tahan terhadap serangan penyakit. Tapi untuk me”launching” benih cabenya kepada masyarakat luas, dia masih ragu.

Akhirnya dia mencoba mencari “relawan-relawan” yang mau menguji coba benih cabe “ciptaan”nya di kebun-kebun mereka, nyaris tidak ada kesulitan untuk mendapatkan relawan-relawan itu, karena banyaknya teman-teman petani pak Kasdi. Beberapa bulan kemudian, para relawan mulai melaporkan hasil uji coba mereka, rata-rata mereka merasa puas dengan hasil uji coba yang mereka lakukan. Merekapun meminta pak Kasdi untuk memperbesar “produksi” benih cabenya, karena mereka ingin mengembangkan cabe pak Kasdi pada areal yang lebih luas.

Dukungan moril dan spirit dari para relawannya, membuat pak Kasdi semakin yakin bahwa benih cabe yang dia produksi benar-benar bebas dari penyakit antraxness, dia pun mulai memperesar volume produksi benih cabenya. Berita tentang “kesaktian” benih cabe pak Kasdi pun mulai menyebar ke saentero Tanoh Gayo, para petani dari berbagai desa mulai “menyerbu” benih cabe pak Kasdi, ini yang membuat pak Kasdi semakin bersemangat.

Lebih dari tiga tahun setelah uji coba pertamanya, ketika permintaan benih cabenya semakin meningkat, pak Kasdi pun mulai berfikir untuk memasarkan benih cabenya secara komersial, dia pun mencoba mengemas benih-benih cabenya dengan kemasan menarik dan mulai membuka jaringan pasar melalui para penjual sarana produksi (saprodi) di seputar kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Benih cabe yang kemudian dia beri label “La Odeng” itupun mulai beredar luass di pasaran, omsetnya pun lumayan besar. Agar tidak menyalahi aturan, dia pun mulai mengurus sertifikasi benih cabenya ke Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) XII di Banda Aceh, sementara menunggu diterbitkannya sertifikat benih, dengan rekomendasi dari instansi daerah terkait, pak Kasdi sudah diperbolehkan memasarkan benih hasil tangkarannya.

Untuk mengapresiasi kerja keras dan semangat pak Haji Kasdi, penulis pernah mengikutsertakan pak kasdi dalam Workshop Jejaring Usaha pertanian yang digelar oleh Kementerian Pertanian di Bandung pada bulan Juni 2013 yang lalu. Awalnya penulis agak meragukan kesehatan pak Kasdi, tapi ternyata dalam workshop tersebut pak Kasdi justru tampil fit, sama seperti  para peserta yang usianya jauh dibawahnya. Begitu juga ketika para peserta workshop di bawa panitia untuk “Field Trip” ke Pengalengan, pak Kasdi terlihat paling bersemangat berjalan kaki melintasi areal pertanian yang letaknya di perbukitan itu, sementara peserta yang jauh lebih muda malah terlihat “ngos-ngosan

Itulah sosok pak Haji Kasdi, lelaki tua yang terus “berkarya” di usia “senja”, hanya satu prinsip dalam hidupnya “memberi manfaat bagi sesama, selagi bisa”.

*Pemerhati pertanian dan perkebunan di Aceh Tengah

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top