Kopi Gayo Opini Sara Sagi Terbaru

Pusat/Balai Pelatihan Kopi Gayo, Perlukah?

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*

DATARAN Tinggi Gayo yang terdiri dari 2 kabupaten yaitu Aceh Tengah dan Bener Meriah, merupakan daerah penghasil kopi arabika dan memiliki luas areal perkebunan kopi terluas di Indonesia. Saat ini  luas areal perkebunan kopi arabika di Dataran Tinggi Gayo adalah 93.616 Ha, dengan rincian 48.300 Ha di Aceh Tengah dan 45.316 Ha di Bener Meriah (sumber : Aceh Tengah Dalam Angka dan Bener Meriah Dalam Angka, 2013).

Komoditi perkebunan yang telah dikembangkan sejak tahun 1908 yang lalu di dataran tinggi Gayo ini, sekarang telah berkembang menjadi primadona komoditi unggulan di daerah ini, hampir 90% dari penduduk di kedua kabupaten ini menggantungkan hidupnya dari usaha tani kopi khususnya varieatas arabika. Dengan kualitas dan aroma spesifik yang tidak dimiliki oleh kopi dari daerah lain, kopi arabika gayo melaju di barisan depan dengan produk specialtynya. Apalagi di daerah ini sekarang juga sudah dikembangkan berbagai varietas unggul baru kopi arabika yang telah disahkan oleh pemerintah seperti varietas Gayo 1, Gayo 2 dan P-88 (sumber: BPTP Aceh dan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Aceh Tengah)

Sejak diterbitkannya sertifikat Indikasi Geografis (IG) kopi arabika gayo melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 51 tahun 2007 yang lalu, kopi arabika gayo semakin dikenal oleh dunia luar. Konsumen kopi dari luar daerah maupun luar negeri yang selama ini hanya mengenal kopi arabika Mandailing Coffee dan Toraja Coffee, mulai melirik dan  beralih ke kopi arabika gayo. Gencarnya promosi kopi gayo melalui even nasional maupun internasional, membuat kopi gayo semakin dikenal dan diminati oleh konsumen di hampir semua daerah bahkan sampai ke manca negara.

Banyaknya pemberitaan tentang kopi Arabika gayo di media cetak maupun media online, telah memicu berbagai kalangan di beberapa daerah untuk belajar secara intens masalah kopi arabika gayo. Dari informasi yang penulis dapatkan dari instansi terkait dan beberapa NGO yang konsens terhadap kopi arabika gayo seperti IOM-SEGA dan CII, sudah banyak orang yang dating baik secara perorangan maupun kelompok datang ke Gayo khusus untuk belajar tentang kopi, mereka berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat dan sebagainya. Beberapa penyuluh yang ada di Kabupaten Aceh Tengah juga sudah sering diminta bantuannya untuk membimbing dan mendampingi mereka yang ingin belajar kopi gayo. Sayangnya minat dan antusiasme yang begitu besar dari orang-orang dari luar daerah tersebut belum terfasilitasi dengan baik, karena belum adanya pusat atau balai pelatihan kopi di daerah ini.

Kalau orang yang ingin belajar tentang hortikultura, sudah ada tempat dan fasilitasnya di Balai Pelatihan Pertanian di Lembang Bandung atau di Ketindan Malang Jawa Timur, bagi yang ingin belajar intens tentang ternak juga sudah ada Balai Besar Pelatihan Peternakan di Batu, Jawa Timur, Kupang Nusa Tenggara Timur dan Maros Sulawesi Selatan, bagi yang ingin mempelajari usaha tani karet dan kelapa sawit, sudah ada Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang, Kalimantan Selatan. Sementara bagi mereka yang ingin belajar tentang kopi, saat ini hanya ada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kopi dan Kakao di Jember Jawa Timur, namun karena institusi ini berbentuk lembaga penelitian, sehingga tidak menyelenggarakan pelatihan secara khusus.

Fakta-fakta itulah yang mendasari penulis untuk mengangkat wacana perlunya Gayo memiliki Pusat atau Balai Pelatihan Kopi Arabika, karena sampai dengan saat ini belum ada satupun balai pelatihan khusus untuk memfasilitasi pembelajaran kopi arabika. Wilayah Gayo sangat memungkinkan untuk didirikannya sebuah pusat atau balai pelatihan kopi arabika, mengingat banyaknya pakar dan praktisi kopi di daerah ini, selain itu Gayo juga memiliki ribuan hektare “laboratorium alam” berupa hamparan kebun kopi rakyat yang akan sangat mendukung keberadaan balai pelatihan ini nantinya, demikian juga dengan lahan untuk bangunan fisik balai juga bukan masalah yang terlalu berat karena masih banyak lahan-lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk lokasi pembangunan balai.

Dari hasil sharing penulis dengan beberapa rekan dari berbagai balai pelatihan yang berada dibawah pengelolaan Kementerian Pertanian, untuk mendirikan sebuah balai pelatihan bagi suatu daerah bukanlah hal yang terlalu sulit, karena peluang itu ada di pusat maupun di daerah masing-masing. Hanya saja untuk dapat mendirikan sebuah balai pelatihan memang diperlukan berberapa persyaratan baik teknis maupun administratif. Perencanaan yang matang disertai data yang valid, uji kelayakan dan analisis dampak serta kesiapan sumberdaya manusia dan anggaran  adalah sebuah keniscayaan.

Ada beberapa opsi yang coba penulis wacanakan untuk bisa mendirikan sebuah balai pelatihan yang kesemuanya bermuara kepada kesiapan pemerintah kabupaten dan jajarannya.

Opsi pertama, pemerintah kabupaten (Aceh Tengah dan Bener Meriah) melakukan pengkajian, pengujian, analisis dampak dan perencanaan bersama, kemudian mengajukan rencana penganggarannya melalui APBK khususnya dari Alokasi Dana Khusus (DAK). Dengan skenario ini, balai pelatihan yang didirikan akan berstatus Unit Pelaksana Teknis dari salah satu SKPK yang ada, atau bisa saja berbentuk Badan yang berdiri sendiri dibawah koordinasi kepala daerah.

Opsi kedua, pemerintah kabupaten membuat kajian dan perencanaan dan mengajukannya kepada pemerintah provinsi Aceh untuk dapat dialokasikan anggarannya melalui APBA atau dana OTSUS. Dengan opsi ini, nantinya balai pelatihan ini akan berstatus Unit Pelaksana Teknis dari sebuah SKPA sebagaimana keberadaan Balai Diklat Pertanian yang ada di Saree, Aceh Besar.

Opsi ketiga, pemerintah kabupaten memuat kajian, perencanaan dan proposal yang kemudian diajukan kepada Menteri Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumer Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP). Jika proposal tersebut dianggap layak, maka akan ditindaklanjuti dengan uji kelayakan dan analisis dampak, selanjutkan akan diajukan anggarannya melalui APBN pada Kementerian Pertanian. Dengan rancangan seperti itu, balai pelatihan ini akan berstatus sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian, sama seperti Balai Pelatihan Pertanian Lembang, Balai Pelatihan Peternakan Batu dalan balai-balai pelatihan lain yang berada dibawah Kementerian Pertanian.

Opsi keempat adalah memadukan ketiga scenario diatas yaitu adanya perencanaan dan sharing anggaran dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Dengan opsi ini status balai bisa saja sebagai unit pelaksana teknis kementerian pertanian, unit pelaksana teknis SKPA maupun Badan yang berada dibawah koordinasi kepala daerah. Selanjutnya untuk pengelolaan dan manajemen balai, bisa saja oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten.

Kalau saja “mimpi” penulis ini dapat terwujud, nantinya akan semakin banyak orang-orang dari seluruh Indonesia yang akan datang ke Gayo untuk memanfaatkan balai pelatihan ini sebagai wahana menimba pengetahuan dan keterampilan  tentang kopi arabika gayo. Dengan adanya fasilitas balai pelatihan, nantinya para peserta akan dapat mempelajari teknik budidaya, penanganan panen dan pasca panen serta pemasaran kopi arabika gayo secara komprehensif, terprogram dan memilki kurikulum yang jelas serta mendapat pengakuan (sertifikasi) secara formal berstandar nasional, karena keberadaan balai ini akan menjadi satu-satunya balai pelatihan kopi arabika di Indonesia.

Kedatangan orang-orang dari berbagai daerah yang ingin belajar tentang kopi arabika ke Gayo tentunya akan menimbulkan dampak positif ikutan pada bidang pariwisata, perdagangan dan jasa, karena selain untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang kopi arabika gayo, para peserta dapat dipastikan akan memanfaatkan momentum pelatihan untuk menikmati keindahan alam Gayo, dan ini dapat menjadi peluang bisnis bagi masyarakat Gayo. Disamping itu keberadaan balai ini juga akan mengakomodir para pakar dan praktisi kopi Gayo untuk direkrut menjadi nara sumber maupun widya iswara pada balai pelatihan ini.

Di akhir tulisan ini, penulis ingin menyampaikan “mimpi kecil” yang menyisakan pertanyaan “perlukah Gayo memiliki Pusat/Balai Pelatihan Kopi?”, sebuah pertanyaan yang terlalu dini untuk dijawab, karena masih membutuhkan kajian-kajian selanjutnya serta masukan dari semua kalangan.[]

*Penulis adalah Kasubbid. Pelatihan pada Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Aceh Tengah.

Comments

comments