Keber Ari Gayo Pendidikan Sosial Budaya Terbaru

Sendaya STAIN GP Takengon kelarkan lomba cipta dan baca puisi

baca-puisiTakengon-LintasGayo.co : Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni dan Budaya (Sendaya) STAIN Gajah Putih Takengon mengadakan Lomba Cipta dan Baca Puisi untuk mahasiswa/mahasiswi STAIN Gajah Putih Aceh Tengah.

Acara tersebut dilaksanakan Sabtu lalu, 08 November 2014 di kampus STAIN Gajah Putih Ujung Gergung Takengon. Para mahasiswa sangat antusias mengikuti perlombaan tersebut, dikarenakan acara seperti ini jarang diadakan untuk mahasiswa.

“Lomba cipta dan baca puisi ini bertujuan mengembangkan dan mencerdaskan generasi bangsa, membangun jiwa kemanusiaan untuk mengobati dunianya melalui kesenian yang dipaparkan dalam bentuk barisan sanjak yang pastinya mempunyai  makna dan tujuan dari penulisnya selaku mahasiswa yang memiliki ciri khas membawa perubahan. Dalam lomba ini peserta bebas mau menulis puisi yang seperti apa saja, temanya tidak ditentukan,” ungkap Ketua UKM Sendaya STAIN Gajah Putih Takengon, Suhaili, Minggu 9 November 2014.

Adapun yang menjadi juri dalam perlombaan ini adalah Joni, dosen STAIN Gajah Putih Takengon dan juga Suhaili sendiri.

Hari itu juga pengumuman lomba pemenang Cipta dan Baca Puisi tersebut langsung diumumkan dengan para pemenang, juara I Ramadani Fitri dengan judul puisi Pecundang Negeri, juara II Santi Yulia (Petani), dan juara III Sahuri Ramadana (Delah).

Berikut puisi masing-masing juara tersebut :

Pecundang Negeri

Degub Jantung Perlahan berhenti
Alir nadi tersendat diujung pena
Ubun-ubun meleleh dalam air bening
Jerit hati tercekat tak sampai
Tragis…..
Negeriku Diambang Jahannam

Mati tertinggal iman
Bukan tengkorak
Hanya bangkai tiku
Yang merayap diatas karpet merah
Liur menetes
Lidah menjilat nominal rupiah
Sungguh terhina

Pecundang
Kau jual kopiah
Demi mahkota haram
Duduk berpangku diatas singgah sanamu
Sedang kaumku kau biarkan berserak dalam selokan
Terkapar tanpa sandang
Kau injak dank au ludahi

Adakah mata batin yang masih terbuka dilubuk hatimu?
Adakah isi dari bundar yang kau letakan sebagai penyangga mahkotamu?
atau kau hanya kerak api

Yang menyalar di sepanjang semi kaumku
Sebagai pecundang negeri
Diakhir zaman

Petani

Dengan membaca basmalah
Kutanamkan niat dalam hati ini
Kucoba memberanikan diri
Melangkahkan kaki

Mencari tau apa yang ada dalam dunia ini
Kupijak bumi dengan percaya diri
Kuhasut hati menerjemahkan isi
Terlintas ku terhenti rasa ingin menghampiri

Kuresapi dikeheningan sunyi
Kukarang syair atas restu ilahi
Kudendangkan berbentuk puisi
Inilah curahan isi hati

Kupegang tinta hitam untuk mengisi
Kertas putih yang begitu suci
Keras hidup dunia yang kudapati
Kutelan untuk jati diri
Kuresapi kembali
Tentang apa yang telah terjadi
Kata caci dan maki
Terdengar diseruan peti
Bagaikan hidup tetapi terasa mati

Beronta-ronta jalan untuk mencari
Teriakan dshsyat yang selalu mengelilingi
Kerja hidup untuk mecari rejeki
Sungguh malang nasibmu petani

Kau cari dan kau selalu mencari
Tak akan pernah lelah dan peduli
Meski terkena terik matahari
Rintihan hujan yang sering kaudapati

Rasa lelah tak membuatmu berhenti
Meski ragamu tak kuat lagi
Jalan hidupmu selalu kau tempuhi
Hanya untuk keluarga dan si buah hati

Suratanmu tuhan atas takdir seorang petani
Mengasah hidup dengan mandiri
Bertahan hidup dengan bertanam padi
Hanya demi sesuap nasi
Petani…
Berusaha tersenyum walau terasa nyeri
Takdir hidup tak perlu ditangisi
Halalnya usaha tanpa korupsi
Pencarianmu di awali dengan Usalli

Sungguh mulia sanga petani
Tanpa kerja kerasnya petani
Sasuap nasi di meja tak tersaji
Sayur tak dapat keluar dari perut bumi

Delah

Kucak Komupetak
Mubasah Komuledak
Sitangkoh ku mucacak
Simejen mera Nos rusak
Ilang ko nge terang
Ikuduk nipon ko bertempat
Sunguh lemak ko bercerak
Tapi enti sawah munyintak

Wo Delah….
Ues mu enti sawah lepas
Keti enti sakit ate mulewas
Cerakmu gelah mupantas
Kati temas kemereng mu menge

Wo Delah….
Entap ni cerakmu Gelep mera terang
Pekekit mera tenang
Uyet mera tegang
Atu mera muterbang

Wo Delah…
Silebehe ko mera kurang
Sikurange ko mera mujadi-jadi
Ko le awal sengsarangku
Ko le tempat bahgieku

Buge sitangkoh ko bermamfaat
Kati telas so mampat  nirupe
Sitangkoh enti sawah musampat
Kati enti murampat so sakit ni luke

Entap ni delah
Kuren mera mupecah
Pingen mera mubelah
Sidekat mera mupisah
Sisemayang mere murubah

Wo Delah…
Ko le tangke harapen
Si ken penemah jelen iwan morepku

Buge sawah so angan kasad
Orom cerak belangimu

(SP | Kh)

Comments

comments