Opini Tafakkur Terbaru

Berharap Buah Tangan dari Jamaah Haji

Oleh: Ali Abubakar Aman Nabila[*]

ALI-Abu-bAKARJAMAAH haji Aceh sudah mulai pulang. Kopiah hitam sudah berganti dengan songkok putih dan pakaian serba putih. Para jamaah berkumpul lagi dengan keluarga setelah berpisah sebulan lebih. Semua ujian dan tantangan selama berat di tanah suci sudah tidak terasa lagi, berganti dengan haru dan bahagia. Peluk cium dan isak tangis pertemuan hangat dengan sanak keluarga di tanah air seakan mengakhiri ritual haji setelah dibuka juga dengan tangisan saat berangkat dulu. Lalu, buah tangan atau oleh-oleh “jangka pendek” dibagikan: kurma Nabi, kismis,  cerek atau teko keemasan, sajadah Turki, tasbih (rosary), dan yang paling penting, air zamzam. Cerita suka duka di tanah suci pun mengalir dari mulut orang-orang yang sudah dianggap sudah mensucikan diri  ini.

Sosiolog Imam Suprayogo menyatakan, sambutan hangat sanak keluarga, tetangga, dan kenalan, itu semua sesungguhnya adalah ekspresi mereka untuk memuliakan orang-orang yang baru datang dari naik haji. Orang yang telah berhaji dipandang mulia dan sukses. Kemuliaan dan kesuksesan itu didasarkan atas keberhasilannya menunaikan rukun Islam kelima-limanya secara sempurna. Rasanya wajar, jika hal itu dianggap sebagai prestasi yang luar biasa. Sebab, tidak semua orang mampu meraihnya. Apalagi, sebagaimana dipahami selama ini, bahwa imbalan haji mabrur adalah surga Allah.

Karena itu, di Indonesia, salah satu hal yang didapat para haji adalah perubahan status sosial dalam masyarakatnya. Orang yang sudah naik haji dianggap sudah tersucikan, memiliki kelebihan pengetahuan agama, amalnya yang sudah banyak, dan dapat menjadi pembimbing spiritual masyarakat. Pendek kata, ia dianggap mendapat prestasi di bidang agama, sehingga berhak mendapat gelar Haji (H/Hj) di depan namanya.

Puncak prestasi sesungguhnya dari seorang jamaah haji adalah menggapai mabrur, yakni haji yang diterima oleh Allah, sehingga dijanjikan berhak mendapat surga. Setelah kembali ke Tanah Air, yang lebih penting adalah merawat kemabruran haji itu agar tetap terjaga, karena kemabruran haji itu bisa menurun bahkan luntur sama sekali kalau tidak dipelihara seperti halnya iman yang bisa naik-turun.

Menurut Rasulullah saw, setidaknya ada tiga ciri mabrur yaitu, pertama, thibbil kalam (tutur katanya menjadi enak, manis, menyenangkan, tidak menyakiti orang). Kedua, ifsaus salam (suka damai); tidak suka bertengkar, membenci permusuhan. Ketiga,  it`amuth tha’am (memberi makan); kepekaan sosialnya semakin tinggi, suka menolong orang lain, hilang pelit,  dan bakhilnya.  Ini adalah buah yang dihasilkan dari pakaian ihramnya yang menuntut persamaan manusia di mata Allah; hasil dari tawafnya yang mencerminkan bahwa segala pekerjaan yang dilakukan hendaknya selalu dilaksanakan dengan fokus pada Allah; tidak keluar dari lingkaran Syariat Allah.

Gelar haji mabrur sesungguhnya mencerminkan bahwa saʻi antara Shafa dan Marwah sudah bermakna tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah. Melempar jumrah sudah beralih kepada sikap menjauh dari segala sifat buruk dan tahalul  (dengan mencukur rambut) sudah menjadi syukur dan kepatuhan terhadap perintah Allah dengan mengorbankan sesuatu yang amat disayangi.

Jadi sesungguhnya yang diharap dari jamaah setelah naik haji adalah perubahan perilaku karena inilah yang salah satu tujuan haji yaitu membuat mereka berakhlak mulia. Imam Hasan al-Bashri berkata: “Haji yang mabrur adalah agar ia pulang dari ibadah haji menjadi orang yang zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta akhirat”. Zuhud bukan berarti hanya beribadah di masjid dan tidak mau bekerja mencari harta untuk nafkah anak dan isteri. Orang yang zuhud adalah orang yang tidak diperbudak oleh hartanya, aktifitasnya dalam kehidupan dunia tidak melalaikannya dari ingat kepada Allah, dan penghasilannya berasal dari yang halal.

Perubahan perilaku tidak hanya menjadi tanda haji mabrur. Semua ibadah di dalam Islam baru dianggap sempurna dilaksanakan seorang Muslim kalau sudah membentuk perilakunya. Ibadah yang tidak mengubah perilaku hanya bernilai sah saja, hanya seperti niaga balik modal tanpa laba sama sekali.  Dalam QS al-Ankabut 45 disebutkan: Dirikanlah shalat karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Jadi, ada pengaruh hubungan vertikal manusia dengan Allah ke horizontal: hubungan seorang  Muslim dengan dirinya, sesama, dan alam sekitarnya. Ali Syari’ati, pemikir asal Iran,  mengatakan, semua ritus haji bermakna agar orang-orang yang berhaji beralih dari sikap yang suka ‘melayani diri sendiri’ kepada sikap ‘melayani orang lain’ yang dilakukan semata demi Tuhan. Inilah makna mendasar kemabruran haji seseorang.

Jadi ukuran haji mabrur bukan pada saat pelaksanaan ibadah haji, tetapi justru pascahaji. Aplikasi keberhajian pun tak terbatas pada aspek individual. Haji yang mabrur adalah haji yang mampu memberikan kontribusi sosial. Ia membawa pencerahan dan suasana baru; membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Inilah oleh-oleh “jangka panjang” jamaah haji dari tanah suci.

Jika dirunut ke dalam sejarah, di antara pelopor kemerdekaan bangsa ini adalah para haji. Pada masa penjajahan, orang-orang yang kembali dari tanah suci menjadi orang-orang pribumi yang ditakuti imperialis Belanda. Ini karena setelah berhaji, kesadaran untuk merdeka dan membela tanah air semakin tinggi. Ibadah haji melahirkan kader-kader pejuang yang berani menentang penjajah Belanda. Kini yang dihadapi haji-haji zaman kemerdekaan adalah efek penjajahan: kemiskinan dan kemerosotan nilai: individualisme, hedonisme, korupsi, perzinaan, permusuhan, dan perebutan kekuasaan. Musuh yang dihadapi bukan penjajah, melainkan diri kita sendiri, orang-orang yang mengaku pejuang kebebasan pribadi, dan sebagian pemegang amanah rakyat yang bertindak tidak adil karena cenderung mementingkan diri sendiri atau kelompoknya.

Itulah oleh-oleh yang diharapkan masyarakat dari penambahan titel haji di depan nama kita. Harapan yang sedemikian mulia. Karena itu, meminjam kalimat Imam Suprayogo, tugas baru bagi siapapun yang pulang haji, adalah menghadapi ujian dari masyarakat itu. Ujian itu dilakukan melalui observasi atau pengamatan langsung terhadap bagaimana para haji itu berhasil melakukan transformasi diri. Apakah mereka benar-benar layak disebut sebagai penyandang haji mabrur. Jika mereka lulus, maka masyarakat akan menghormati, menghargai, dan  memuliakannya. Tetapi jika tidak, masyarakat akan menilai hajinya tidak berguna. Tidak jarang, masyarakat akan menyebutnya haji abidin (haji atas biaya negara), hajjan (haji jalan-jalan), teungku maji (maji: kondisi umbi ubi kayu atau ubi tanah yang tidak sempurna karena ada bagian yang keras atau terjadi pembusukan), atau haji mabur (haji terbang) karena tidak membawa oleh-oleh pencerahan untuk diri sendiri, apalagi untuk keluarga, teman dan masyarakatnya.

Bagaimana besarnya perubahan yang dibawa jamaah haji Aceh? Sebagai ilustrasi, jumlah penduduk Aceh adalah 4,67 juta jiwa (data BKKBN per April 2009), sedangkan jumlah haji Aceh tahun 2009 adalah 5.585 orang; tahun 2008, 3635 orang; dan tahun 2007, 4217 orang. Dengan kata lain, ada  rata-rata 4.479 orang Aceh yang menunaikan haji setiap tahun atau sekitar 0.1 persen penduduk Aceh. Kalau seorang haji dapat mentransfer perubahan perilaku bagi 5 orang anggota keluarganya ditambah 5 orang tetangga atau temannya, maka setiap tahun ada rata-rata 44.790 orang yang mengalami perubahan perilaku atau 1% penduduk. Dapat dibayangkan, dalam waktu 10 tahun sudah ada 10% orang Aceh yang mengalami transformasi diri melalui saudara-saudaranya dan itu sudah cukup untuk mempercepat perubahan peradaban Aceh ke arah lebih baik. Itu data lima tahun lalu, belum lagi kalau dihitung dengan pertambahan jumlah penduduk Aceh pada tahun 2014 ini.

Namun demikian, tentu tidak wajar sekiranya beban pencerahan perilaku masyarakat hanya dibebankan kepada para jamaah haji saja, karena tugas itu adalah tugas kita   semua.  Apalagi masih banyak jamaah haji kita berangkat haji pada umur yang relatif sudah tua atau sudah pensiun, bahkan ada yang berharap dapat meninggal di tanah suci. Tetapi, paling tidak, mereka membawa sedikit perubahan ke dalam masyarakat. Perubahan positif setiap hari pada setiap orang, walaupun kecil, akan berakibat pada perubahan besar, bahkan sebuah revolusi pencerahan dalam masyarakat dan bangsa. Itulah yang akan mengubah dunia! Wallahu a`lam.



[*]Dosen Fakultas Syariah  dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Comments

comments