Sastra Terbaru

Secangkir Kopi di Bawah Angin

*Oleh : Teuku Afifuddin

OLYMPUS DIGITAL CAMERAMendung sore ini aku lihat seekor burung kecil terbang dibawah awan hitam yang bergumul. Sayapnya meliuk bagai liukan penari seudati. Angin yang malu berhembus menambah gesitnya ia menari di antara langit dan bumi.

Cut Bang ini kopi nya diminum” suara istriku menghentikan tontonan.
Get, si Pocut mana dek ?”
“Ada didalam lagi menggambar dia” istriku menjawab sambil berlalu masuk kedalam rumah.

Di atas daratan negeri dibawah angin, keriuhan belum berhenti. Deru mesin kendaraan dan atmosfir para khalifah yang sedang bertasbih nikmat dunia menemaniku dalam hitungan waktu yang selalu sabar. Ya ! sang waktu selalu sabar menemaniku detik demi detik, tanpa pernah melangkahinya, hanya terkadang aku saja yang sering melompat dari detik ke tapal jam.

Nafsu dunia telah membuatku buta, tak mampu menikmati apa yang Tuhan telah titipkan kepadaku. Gunungapi Seulawah nan indah, Puncak Geurutee yang menggoda, Pantai Lam Pu’uk yang bertabur pasir putih, dan masih banyak lagi karya Tuhan yang aku tak mampu menikmatinya. Kecanduan terhadap dunia telah meluputkanku dari itu semua.

Kopi, itupun tak mampu aku nikmati sebagai salah satu hasil bumi negeri di bawah angin yang dipuja-puja orang dunia. Selama ini aku hanya menjadikannya penghapus dahaga, sampai ini sore. Burung kecil yang menari di bawah awan hitam itu mengajarkanku tentang nikmatnya secangkir kopi kala senja, sambil menantap puncak Gunung api Seulawah Agam.

“Ayah, buah apel ne tarok warna apa dia yah?” Pocut datang ke pangkuanku sambil menunjukkan buku gambarnya. Dia selalu mengajukan pertanyaan bila mendapat kesulitan dalam setiap aktivitasnya. Hal tersebut sudah dilakukannya semenjak berumur dua tahun. Sejak itu segala sesuatu yang tidak diketahui pasti langsung ditanyanya. Terkadang pertanyaannya itu membuat bundanya yang setiap waktu ada untuknya bingung.

Saat Pocut berumur dua tahun, aku sangat jarang bisa berada bersamanya. Kesibukanku mengurus usaha di kota, mengakibatkan ia harus tinggal bersama bunda dan kakek-neneknya di kaki gunung. Jum’at sore aku baru tiba, setelah menghabiskan Senin sampai Jum’at di kota. Pocut selalu berlari dan menantiku di depan pintu sambil berteriak “nda ayah pulang!”

Teriakan itu langsung meluruhkan keletihanku selama lima hari di kota. Kopi seduhan istriku yang selalu disuguhkannya saat aku pulang mencairkan rindu. Seperti sore ini, secangkir kopi buatannya menemaniku menikmati awan yang hitam dihiasi tarian burung kecil. Sepertinya, mereka sedang melakukan ritual turun hujan. Sudah hampir seminggu, setiap sore awan disini gelap. Tak pernah seharipun kulewati, walaupun terkadang sedikit terhenti oleh kreatifitas si Pocut.

“Kalau apel warnanya merah nak”
“yang ini?” Pocut menunjukan kelir berwana merah.
“Iya nak”  Aku membenarkannya.
“Oooo… kalau ini adek tau Yah, dah dulu ya”, dia kembali masuk untuk melanjutkan aktivitasnya. Tinggal aku bersama awan hitam di teras rumah menyaksikan burung kecil itu menari.

Sudah seminggu ini aku tidak ke kota. Semenjak usahaku bangkrut karena kepercayaan. Aku lebih sering duduk di teras rumah mertuaku kala sore tiba. Menatap burung kecil yang menari atau sekedar menyaksikan perjalanan matahari ke daratan seberang. Aku merasakan alam sedang mengucapkan duka cita padaku disetiap sore. Sedangkan burung-burung kecil itu berusaha menghiburku. Sepertinya mereka sangat mengerti dengan pengkhianatan yang kuterima.

Mendekati degradasi senja menuju malam, kesetian masih terlalu mahal bagi manusia. Kesendirian kerap menyelimuti hari demi hari. Ya! kesendirian yang tak sendiri. Masih ada burung kecil yang menari bersama angin, yang menikmati kesendiriannya yang tak sendiri. Mungkin juga sesekali melirik kebawah angin. Begitu sangat ia menikmati kesendiriannya yang tak sendiri.

“Aku iri padamu burung kecil, dalam sendirimu engkau menari, bernyanyi, dan menikmati degradasi ini. Sedangkan aku masih menghitung harga sebuah kesetiaan”

 *     *    *

Tubuh ini terasa hampa, berpeluh keringat yang mengering. Udara disini terasa dingin, menusuk hingga ke tulang rusukku. Ini sore aku duduk sendiri, bergelas-gelas kopi seduhan di teras rumah kontrakan menjadi saksi. Menantap langit yang berkabut, burung ayam-ayaman yang berlari-lari kecil pulang ke sarangnya. Ikan-ikan yang berdansa dalam kolam milik orang. Di antara pematang sawah, sudut kiri pandanganku tampak kerbau yang berkubang, beristirahat setelah seharian membantu tuannya. Seperti sore-sore yang lalu bila tanpa hujan. Aku duduk sendiri menantap langit negeri di atas kabut, tanpa ada yang menghidangkan kopi, atau pertanyaan yang memberi jeda pada tontonan soreku.

“Aku tak mampu merasakan Aceh Ketika kaki diseberang. Berimajinasi, namun pupus. Bergelas-gelas kopi terhabiskan. Manis juga pahit. Tidak seperti kaum urban. Menulis dan bicara Aceh. Sambil menikmati berbotol-botol anggur. Aku, seperti pencundan, memandang gelas kopi kosong.”

Sudah sebulan aku disini. Setiap sore aku menyempatkan diri untuk menikmati degradasi waktu negeri di atas kabut. Ini  bukan karena usaha yang bangkrut, tapi setiap sore selesai perkuliahan aku tak ingin melewati ini. Ritual ini membantuku mengingat tentang ceramah dosen di ruang kuliah, atau sekedar membasuh rinduku pada wanita yang ku tinggalkan di kaki gunung negeri dibawah angin.

“Sayang. Di ranah urang aku rindu secangkir kopi dari tangan lembutmu.”

Aku harus meninggalkan negeri di bawah angin demi cita. Bersama cinta aku menapakkan kaki ke negeri di atas kabut. Sebelum keberangkatan banyak orang yang heran atas keputusanku. Aku mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikanku yang sempat terhenti saat umur yang tidak remaja lagi. Apalagi aku sudah lengkap beban tangjung jawab seperti kata tengku “ Seorang lelaki bertanggung jawab atas empat orang wanita. Ibu, adik perempuan, istri dan anak perempuannya”, Tuhan memberikanku tenggung jawab yang lengkap.

Demi sebuah cita aku harus mampu meningkalkan mereka dan melangkah bersama cinta. Tinggalkan teman, musuh, pengkhianat dan warung kopi. Aku tidak dapat merasakan kopi dan suasana warung kopi seperti negeri di bawah angin disini. Warung kopi negeri di bawah angin itu punya suatu ciri khas bagiku.

“Disini
Setiap orang bebas bicara.
Boleh bercanda. Bergosip, atau berdiskusi
Disini
Sebait puisi tertulis, sebuah cerpen terselesaikan
Makalah rampung, bisnis deal, dan Negara di bangun
Disini
Riuh dan gemuruh detak jantung terkumpul
Terbius aroma, dari atas tungku
Menebar ke seluruh penjuru tertuang dalam segelas kopi
Teman membangun mimpi” Itu tidak akan bisa didapati di warung kopi negeri lain.
Seperti pertanyaan teman ku terhadap keputusan melanjutkan pendidikan yang kujawab dengan santai di warung kopi.
“Cita-citaku ingin menjadi Rektor, kalau nanti aku malah menjadi menteri pendidikan ya segitulah kemampuanku” sambil aku lanjutkan meneguk kopi dalam cangkir.

Bila tanpa warung kopi aku masih mampu menahannya. Aku dapat membawa bubuk kopi yang sama dari negeri di bawah angin. Tapi bila tanpa bidadari dan peri kecilku, itu yang membuatku berat.  Aku tidaklah sendiri, ada juga warga dari negeri di bawah angin disini. Kami sama-sama meninggalkan cinta dibawah angin. Meninggalkan kopi dan warungnya, walau tanpa kopi.

“Ber-Didong kami membunuh sepi
Ber-rapa’i menyulam rindu
Ber-Saman membungkam keluh”

Seurunee Kalee temani malam di ranah urang.” Itulah yang kami lakukan disini.

Sebentar lagi mentari negeri di atas kabut akan beranjak ke barat. Aku masih tertekun pada kenyataan alam. Pada burung ayam-ayaman yang pulang ke kandang, ikan yang bercengkrama bersama ahli baitnya. Kerbau yang memanjakan kulitnya dalam kubang. Menjelang azan maghrib berkumandang, teriak ku pecahkan kabut. “Aku rindu secangkir kopi, aku rindu Aceh!” [SY]

 Catatan :

Seudati (bahasa Aceh)                       : Tarian tradisi masyarakat Aceh
Cut Bang (bahasa Aceh)                   : Abang/Kanda
Get (bahasa Aceh)                              : Baik
Tengku (bahasa Aceh)                       : Ustad
Ranah urang (Bahasa Minang)       : Tanah Orang

afifuddinTeuku Afifuddin dikenal dengan Teuku Afeed. Lahir di langsa, 16 Juni 1982. Suami dari Juriawati, SH dan Ayah Cut Azalea Syadza. Pemilik KTP dengan pekerjaan Seniman. Editor Film Dokumenter diantaranya The tsunami song, silent after war, musik tanpa bunyi dan beberapa FTV. Film Dokumenter Karya editingnya “The Tsunami Song” menerima penghargaan terbaik Festival Film Dokumenter-Jogja 2005. Film dokumenter pendek pertamanya “Pujangga Tanpa Pikir (Adnan PM TOH)” menjadi film terbaik II Pekan Seni Mahasiswa-Lampung 2004.

Mulai menulis Puisi sejak menjadi mahasiswa FKIP Sendratasik jurusan musik Unsyiah 2000. Puisi yang di tulisnya ditempelkan di dinding kampus. Semasa kuliah di Unsyiah Aktif di UKM Teater NOL dan Teater MATA. Pemeran Khep pada naskah “JEEH!” Karya Almarhum Maskirbi. Pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Kesenian Aceh pada tahun 2007.

Tahun 2007 mendesign 10 sampul buku karya sastra terbitan Aliansi Sastrawan Aceh. TIM Pendiri Institut Seni dan Budaya Indonesia Termuda ini adalah pencinta tradisi, mampu menabuh rapa’i, dan lihai menepuk bantal didong. Mahasiswa Prodi Pengkajian Seni Pascasarjana ISI Padangpanjang. Selain itu kini menekuni pekerjaan sebagai Dramaturg Teater. Hp: 081360444743/082164740443. Twitter: @afeed. Fb           : www.facebook.com/afeed

Comments

comments