Sara Sagi Terbaru

Catatan Jauhari Samalanga: “Mayaisme”, komitmen dangdut dan lagu untuk Gayo

Joe Samalanga
Joe Samalanga

ADA rasa bangga dapat menyelenggarakan konser dangdut Gayo “Maya” yang dikemas  menjadi “Spirit of Gayo ” anak dan perempuan di Gayo. Ada persepsi kalau musik beraliran dangdut memang musik “hura-hura”, tapi di Gayo tidak, dangdut Gayo tetap mempunyai bahasa kemanusiaan, penyampai pesan yang mudah, dan bukan musik “munafik”.

Disebut munafik, lantaran lagu-lagu “Gayo” yang beredar sekarang adalah lagu-lagu lama yang kemudian “dirusak” dengan aransemen musik tanpa jenis, dangdut bukan pop juga bukan. Ruginya, lagu tradisional yang punya karakter khas “Gayo” itu kemudian berubah menjadi lagu dengan warna asal-asalan.

Seharusnya, konsisten saja pada alirannya, karena memahami seni di Gayo seperti memahami media, yakni penyampai kabar paling efektif. Artinya, sebuah lagu harus dikemas dengan baik, dan upayakan tidak berulang-ulang dari satu penyanyi ke penyanyi lainnya. sebuah lagu Gayo bisa menampilkan musik beraneka ragam pula.

Saya berprinsip, untuk mengangkat Gayo haruslah dengan karakter yang berkembang. Di era awal tahun 2000-an adalah masa dimana musik tradisional menjadi sasaran pemusik edukasi, yakni mengangkat lagu tradisi yang digabung dalam warna modern yang kemudian dikenal dengan sebutan “world music”, walau saya sendiri sangat menyanggahnya bahwa “world music” sebagai penggabungan moderen dan tradisi, karena saya yakin musik tradisionalah yang lebih berhak mendapat  gelar “world music” lantaran ada keabadian.

Namun salah satu personil Genesis Peter Gabriel menyebut istilah itu sebagai world music sehingga itu melanda dunia. Fakta paling sempurna untuk worlmusic ini adalah  Vicky Sianifar, yang menggabungkan musik batak, atau Rafly “Kande” yang memainkan percusi rapai dengan instrumen modern. Di Gayo ada Zoombiee dan Laskar Gayo. Hanya kedua Group ini perlu lebih mengkentalkan instrumen tradisi.

Begitu pula dengan lagu-lagu “Maya” yang memilih dangdut sebagai warna musiknya. Maya merupakan salah seorang penyanyi dangdut terbaik saat ini yang dimiliki Gayo, walau sebenarnya penyanyi Gayo banyak, namun tidak kental dangdut, atau dalam kata lain tidak memiliki konsistensi jenis musik yang dipilih.

Selain itu, Maya juga salah seorang perempuan yang mencipta lagu, nyanyiannya bertambah kuat, baik secara pesan maupun penghayatan. Itulah penyebab “dangdut” menjadi kuat  ketika penghayatan dan rasa lagu bertemu. Maya memahami apa yang dia tulis, baik tentang anak, ibu, Gayo, dan asmara.

Thema konser “cintai anak-anak” menjadi paling sesuai dalam perjalanan lagu yang ditulis penyanyi bersuara lembut itu. Bahkan konteks itu berhasil  mengajak para “ibu” hadir ke Gedung Olah seni (GOS) Takengon, sehingga pesannya lebih kuat.

Saya pribadi juga paling memilih penyanyi yang punya karakter untuk ditampilkan dalam Live musik. Banyak pihak yang mengkritik saya ikut  menangani konser “Maya”, dan malah sebagian besar sahabat menolak “dangdut” yang saya hadirkan, alasannya sederhana, Dangdut. Dan saya adalah orang pertama di Aceh berhasil menggelar konser Jazz di Blang Padang, Banda Aceh. jadi sungguh sangat bertolak belakang. Begitu sebagian komentar lagi.

Dan saya tidak mempersoalkannya, karena dalam konser ini saya beryakinan tidak salah memilih artis, karena memang berbeda dari artis  lainnya  di Gayo. Sama seperti acara-acara saya sebelumnya, setiap konser digelar pasti lantaran ada motivasi dalam karya-karya mereka. Semisal acara yang pernah saya gelar seperti Nostalgia cinta “Ujang Lakiki”, Panggung Akustika “Ivan Wy”, dan konser Kandar SA. ketiganya adalah penyanyi Gayo yang punya karakter spesifik. Begitupun Maya adalah penyanyi Dangdut Gayo yang punya kharakter khusus, dan tidak dimiliki penyanyi perempuan lain di Gayo.

Kini tinggal beberapa saja penyanyi saja di gayo yang pantas  diberi apresiasi, yakni Rahayusra (penyanyi Imaga), dan Group Band Reitem Teritit. Reitem adalah Band yang melahirkan lagu-lagu Gayo bergaya total pop.

Jadi cukup jelas apabila Konser Dangdut Gayo Maya–diberi apresiasi sebagai bentuk Inovasi musik di Gayo. Maya telah memberi kekuatan tersendiri dalam industri musik di Gayo, berarni dan konsisten. Dengan segala kecemasan pada hasil konser Spirit of Gayo yang serba minim, Maya telah berhasil menggugah cara “mencintai” Gayo adalah dengan berkarya dan tanpa pamrih. Maya memilih karya musik yang dibalut Dangdut, dan biasanya beginilah cara menanamkan “mayaisme” untuk generasi yang mendatang. Tentu semua dengan sikap konsisten pula.[]

Penulis adalah redaktur pelaksana LintasGayo.co

Comments

comments