Sara Sagi Terbaru

[Arsip] Mau tau gaya pacaran di Gayo? Begini tradisinya

“Murojok,” Tradisi Pacaran Unik Berbatas Dinding
Muhammad Syukri

Kendi1PACARAN adalah hubungan awal muda mudi sebelum melangkah ke jenjang mahligai rumah tangga. Tradisi pacaran, ternyata bukan hanya “paten” generasi muda saat ini, tetapi sudah dilakukan oleh muda-mudi tempo doeloe. Hubungan ini sengaja dibangun kaum muda mudi dengan beragam bentuk, sesuai dengan adat dan tradisi masing-masing.

Mustafa AK, budayawan dan Ketua Majelis Adat Negeri Gayo (Mango) Aceh Tengah, Senin mengungkapkan bahwa tradisi pacaran dalam kehidupan muda mudi Gayo di masa lalu dikenal dengan istilah “murojok.” Menurut Mustafa, wahana pertemuan muda mudi di masa lalu berlangsung pada saat panen padi, dalam acara “mujik” yaitu merontokkan bulir padi dengan menggunakan kaki.

Pada acara “mujik,” hubungan muda mudi itu hanya sebatas lirik melirik, karena posisi mereka bekerja dalam acara “mujik” itu tidak berdekatan, tetapi masih dalam jangkauan pandang. Si pemuda bertugas memijak bulir-bulir padi, sementara si pemudi memilah bulir padi yang sudah rontok dari jempung (jerami). Komunikasi yang berlangsung diantara mereka saat acara “mujik” itu hanya berbentuk isyarat dari bahasa tubuh.

Kemudian, komunikasi muda mudi itu berlanjut via orang lain yang biasa disebut inen keben (biasanya bibi si gadis yang berperan sebagai mak comblang). Berbeda dengan model pacaran mudi mudi zaman sekarang, dahulu, pasangan muda mudi tersebut tidak pernah bertemu secara fisik (berduaan) atau bertatap muka. Pesan mereka difasilitasi oleh inen keben, baik dari pihak pemudi maupun pesan balasan dari sang pemuda.

Pada saat tingkatan hubungan mereka sudah hampir sampai pada status jadi, dan kedua belah keluarga sudah mengetahui hubungan serius antara kedua remaja itu, maka tahap berikutnya adalah “murojok.” Dalam tahapan ini, si pemuda sudah dibolehkan berkunjung ke rumah si pemudi di malam hari (biasanya setelah magrib).

Supaya wakuncar (waktu kunjung pacar) itu lancar dan aman, sebelumnya si pemuda sudah menjalin komunikasi dengan abang atau kakak serta para pemuda di keluarga si pemudi. Dengan harapan, saat kedatangan si pemuda ke rumah si pemudi, abang atau kakaknya menjauh dari lokasi tempat mereka “murojok” agar komunikasi keduanya tidak terganggu.

Dimana posisi kedua muda mudi ini bertemu? Masa itu, masyarakat masih tinggal di Umah Pitu Ruang yaitu rumah panggung yang dihuni oleh sebuah keluarga inti dengan sejumlah keluarga batih. Si pemudi (biasanya didampingi oleh bibinya) tetap berada di kamarnya, sementara si pemuda berada di bawah rumah panggung.

Untuk memberitahu kedatangannya, si pemuda memasukkan lidi atau ranting kayu dari celah-celah lantai Umah Pitu Ruang tersebut. Memasukkan lidi ke celah lantai itu dalam bahasa Gayo disebut “murojok.” Aktivitas “murojok” akhirnya menjadi sebuah tradisi pacaran di masa itu, dan namanya melekat dengan istilah “murojok.”

Setelah saling mengetahui posisi masing-masing, mulailah mereka berkomunikasi dari celah-celah lantai rumah panggung itu. Dalam keadaan dipisahkan oleh lantai rumah (dinding rumah) mulailah mereka memadu asmara melalui kalimat indah, seperti pantun, tamsil dan kata-kata bijak. Sesekali, si pemudi yang didampingi bibinya tertawa cekikan dengan pekik ahoiii wiiiiiw, gembira atau merasa terhibur atas berlangsungnya komunikasi berbatas dinding itu.

Proses “murojok” itu terus berlangsung sampai mereka benar-benar siap untuk memasuki pernikahan. Hebatnya, selama masa pacaran dalam tradisi “murojok” itu, tak sekalipun mereka pernah bertatap pandang apalagi bersentuhan secara fisik. “Itulah kegunaan adat yaitu sebagai pagar agama, sebelum orang mendekati hal-hal yang dilarang agama, mereka sudah dibatasi oleh hukum adat,” tambah Mustafa AK mantan ceh didong Kala Laut itu.

Sekarang, setelah budaya luar merangsek tradisi dan adat istiadat serta kearifan lokal, hubungan muda mudi sangatlah bebas. Meskipun mereka masih dalam tahap pacaran, terkadang sudah seperti suami isteri. Anak-anak muda sekarang sudah sulit untuk untuk dilarang, apalagi para orang tua mereka seperti membiarkan hubungan yang tak terkendali. “Kalau kita tegor, salah-salah kita yang dipolisikan oleh pasangan itu,” kata Mustafa AK.[] kompasiana

Tulisan ini seperti ditulis Muhammad Syukri di media warga Kompasiana, dan dimuat KOMPAS pada Pebruari 2012

Comments

comments