Opini Sara Sagi Terbaru

Konyol..! Hukum Tak Sentuh Aktor Perusak Hutan Lindung Bener Meriah

AdosOleh: Idrus Saputra*

Perambahan hutan lindung di kawasan Nosar Baru, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah yang  heboh dan kini telah ditangani Polres Bener Meriah perlu mendapat perhatian dari aktivis lingkungan Nasional,  terutama WALHI hendaknya turut melakukan pengawalan kasus ini. Sebab kasus perambahan hutan lindung yang terjadi di Bener Meriah kali ini bukanlah yang pertama.

Berdasarkan catatan Lembaga Swadaya Masyarakat Jaringan Anti Korupsi Gayo (LSM Jang-Ko), saat Kabupaten ini berada dibawah pemerintahan bupati Ir.Tagore AB, 2006-2011 kasus-kasus serupa sudah sering diprosses di Polres setempat, namun aktor utama tidak tersentuh. Saat itu, tempat kejadian perkara (TKP) rata-rata berada jauh di daerah-daerah pedalaman, seperti hutan-hutan di Kecamatan Syiah Utama dan Mesidah yang di babat dan di daerah itu merupakan bagian dari hulu sungai Jambo Aye, Aceh Timur.

Hari ini perambahan hutan di Bener Meriah terjadi bukan lagi di pedalaman tapi dekat pemukiman masyarakat.  Lokasi perambahan berada dibelakang  Gunung Api Burnitelong tepatnya bagian pegunungan Gerdung, Bur Kul, dan kawasan tersebut saat ini merupakan daerah resapan air. Ribuan jiwa penduduk yang mendiami Pondok Baru, Wih Tenang Uken , Buntul Kemumu dan sekitarnya kebutuhan airnya tergantung kawasan ini.

Perambahan hutan lindung di Kecamatan Permata itu merupakan bukti betapa rendahnya pemahaman  terhadap kelestarian dan menjaga keseimbangan alam. Hanya mementingkan aspek ekonomi semata. Kasus ini pastinya masuk dalam ranah kejahatan di bidang kehutanan, tindak pidana bidang kehutanan UU No 18 Tahun 2013, dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara dan denda Rp.1 Miliar lebih.

LSM Jang-Ko yang sangat peduli dengan persoalan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi serta kejahatan lingkungan dan kehutanan, mendesak aparat penegak hukum yang menagani kasus ini agar benar-benar serius dan dapat menagkap aktor utama dibalik perambahan hutan lindung di Kecamatan Permata tersebut.

Bila tidak, maka tidak ada efek jera, dan malah kerusakan hutan yang telah terjadi di Bener Meriah ini dipastikan akan semakin mengila. Jangan hanya mampu sampai di para pekerja saja yang “ditangkapi”, tapi para pemilik modal dan pelaku utama justru tidak tersentuh dan ini konyol.

Bila dilihat dari awal, Bupati Ruslan Abdul Gani beserta Wakil Gubernur Aceh Muizakir Manaf setahun yang lalu pernah mencetuskan daerah Nosar Baru, Pantan Rebol sebagai zona investasi untuk tanaman kentang, hingga kemudian hari ini perambahan hutan lindung itu terjadi. Maka patut diduga dua kepemerintahan ini turut punya andil. Inisiasi mereka telah mengakibatkan munculnya motivasi pengelola dan investor tanpa kontrol yang jelas merusak hutan dan mencemari lingkungan.

Semua ini terjadi karena lemahnya pengawasan dan pembinaan kepada para petani kentang itu sendiri dan terkesan selama satu tahun berlangsung, pemerintah melakukan pembiaran kerusakan hutan lindung di Kecamatan Permata.

Ditambah lagi, hampir semua asset Dinas pertanian setempat juga dikerahkan ke zona tersebut termasuk alat berat. Apakah ini di sengaja atau tidak, direncanakan atau tidak, tapi kerusakan telah terjadi dan harus ada yang bertanggungjawab.

Apa yang diberitakan sebelumnya bahwa semua oknum para petinggi dan beberapa anggota DPRK Kabupaten Bener Meriah terlibat, termasuk sejumlah tokoh daerah itu disebut-sebut punya andil kuat sebagai pemilik modal dan perusak hutan.

*Koordinator LSM Jang-Ko

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *