Opini Tafakkur Terbaru

Jangan Takut pada Akhirat:Meninggalkan Dunia

Drs Jamhuri (foto:tarina)
Drs Jamhuri (foto:tarina)

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA[*]

Fenomena berpikir manusia secara keselurah sudah terpola dan terprogram oleh alam atau lingkungan dimana ia berada, mereka selalu mempertentangkan antara idealis dan materialis, antara alam nyata dan alam tidak nyata. Antara kebaikan dan keburukan bahkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pemikiran seperti ini tidak hanya mempengaruhi masyarakat kebanyakan tetapi juga masyarakat berpendidikan dan mereka yang ahli dalam ilmu agama.

Tuhan menciptakan bahwa tujuan dari kehidupan manusia adalah kehidupan setelah kematian, kehidupan ini identik dengan hari pertanggungjawaban amal perbuatan ketika hidup di dunia sebelum kematian. Pada kehidupan setelah kematian Tuhan menciptakan dua tempat yang disebut dengan Surga sebagai balasan dari amal kebaikan dan neraka sebagai balasan dari kejahatan, keduanya merupakan balasan dari apa yang telah dilakukan. Namun pada intinya manusia itu diciptaka oleh Tuhan adalah sebagai hamba yang tidak boleh lupa untuk mengabdi, sebagaimana dituangkan dalam ungkapan-Nya dalam al-Qur’an “tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah”.

Alam kehidupan setelah kematian digolongkan kedalam alam ghaib dalam pandangan manusia, karena tidak ada manusia yang bisa menggambarkan bagaimana kenikmatan yang ada dalam surga secara sempurna. Demikian juga dengan kehidupan neraka yang juga tidak bisa digambarkan oleh manusia bagaimana sengsaranya. Namun Tuhan mengatakan bahwa kenikmatan yang ada di surga tidak ada yang mampu membayangkannya dan azab di neraka juga tudak ada yang sanggup membayangkan.

Sedangkan kehidupan di dunia merupakan masa bebas memilih antara melakukan yang baik dan melakukan yang buruk, bagi mereka yang memilih perbuatan yang baik maka Tuhan menjanjikan surga dan mereka yag memilih kejahatan Tuhan menjanjikan neraka. Sarana yang diciptakan Tuhan untuk menuju kehidupan setelah kematian ada dua yaitu yang bersifat ideal dan yang bersifat material, keduanya diciptakan secara berimbang. Demikian juga dengan manusia yang diciptakan juga secara berimbang antara rohani dan jasmani.

Ada isyarat atau petunjuk dalam al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk berserah diri kepada Tuhan secara total, yaitu secara materiil dan immateriil. Tuhan meminta manusia untuk menggunakan apa yang  pada diri mereka untuk dijadikan sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya, tidak mendatangi Tuhan hanya dengan materiil semata dan tidak juga mendatangi Tuhan dengan immateriil semata tetapi haruslah mendatangi-Nya dengan kedua-dua secara berimbang.  Tuhan melarang manusia memperkaya diri dengan harta, karena harta bisa membuat orang lupa beribadah kepada Tuhan, Tuhan juga tidak suka kepada mereka yang seolah tidak perlu kepada harta karena ibadah zakat dan haji hanya bisa dilaksanakan oleh mereka yang memiliki harta. Ditambah lagi dengan ibadah sadakah, infaq dan lain-lain.

Semua yang dimiliki oleh manusia dalam hidup didunia dituntut untuk dijadikan sebagai sarana dalam pengabdian, untuk itu pengetahuan secara berimbang antara ideal dan materiil sangat diperlukan, karena dengan pengetahuan yang berimbang manusia dapat mengabdi kepada Sang Khaliq secara sempurna. Pola pemikiran seperti ini masih sulit ditemukan di dalam masyarakat kita, karena kebanyakan orang masih berpikir bahwa kegagalan yang terjadi selama ini hanya sisebabkan oleh karena ketidak mampuan seseorang mengelola perbuatannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi atau karena kurangnya kedekatan dengan Tuhan dalam demensi spiritual.

Karena pola pikir yang belum tepat, banyak orang menganggap bahwa kedekatan dengan Tuhan memadai dengan satu demensi yaitu kedekatan ideal. Ia merasa cukup dengan beribadah (secara immateri) sepanjang masa tanpa perlu kepada materiil bahkan mereka berkeyakinan ketika berserah diri kepada Tuhan dengan melepaskan diri dengan dunia itulah serah diri yang total dan dikehendaki oleh Tuhan. Demikian juga dengan mereka yang mendekati Tuhan dengan materiil, mereka merasa ragu apakah mereka dapat mendekati Tuhan dengan materiil, lalu karena keraguannya mereka semakin jauh dari Tuhan.

Seharusnya sebagaimana telah disebutkan manusia selalu berupaya menjadikan ideal dan materiil secara berimbang sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang menjadikan keduanya dengan tanpa melebihkan satunya dari yang lain.


[*] Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments