Sastra Terbaru

Sang Akhwat

[Cerbung]
Bag. 2 Dari 5 Cerita

Irama Br Sinaga

Suasana Mushala kian hening, terik matahari meninggi dan suara kicauan burung terdengar dari sejumput sawah dekat sekolah. Sang ikhwan terkejut mendengarkan ungkapan Fanny, kemantapan atas pilihan orang tuanya pun semakin terbaca. Pria bersama Zulfikar adalah ikhwan yang dijodohkan dengan Fanny, orang tuanya ingin Fanny menjadi menantunya. Tak seperti biasanya Bunda menerima gadis berkerudung lebar itu. Dulu Bunda sangat anti dengan gadis-gadis yang berkerudung lebar dan melarang anaknya berteman dan bergaul dengan mereka.

Antara Ikhwan dan Fanny tidak pernah terbesit sedikitpun untuk bersama atau saling menyukai. Mereka hanya bersama dalam organisasi dan hubungan mereka hanya karena organisasi, tidak lebih. Namun takdir berkata lain, mereka harus menjalaninya.

“Apa permintaannya Fanny?”, Zulfikar juga kagum dengan ungkapan Fanny.

“Dia mengizinkan Fanny memberikan belanja untuk Ayah dan Umi, kelak bila Ayah dan Umi sudah tua mereka tinggal bersama Fanny, itu aja bang”.

Zulfikar dan ikhwan pun saling berpandangan, ikhwan menundukkan kepala tanda setuju.

“Boleh, dia menerima permintaan Fanny, tapi bisakah Fanny mencintainya?”, tanya Zulfikar

Kok secepat itu jawabannya bang, emangnya abang sudah menghubungi ikhwan itu?”, tanya Fanny heran.

“Ya, tadi dia bilang apapun permintaan Fanny dia terima, tar abang kasi tau dia”, jawab Zulfikar sedikit menghindar dari keadaan.

“Ooo, ok, kalau masalah cinta, kalau dia bisa mencintai ku, kenapa Fanny tidak..!!, kalau sudah satu rumah, satu makan, saling berinteraksi dan selalu bersama cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya dan katakan padanya cintai Fanny karena Allah”

Suara adzan pun terdengar di masjid besar jalan raya.

“Oh ya ya, tar abang sampaikan, kita siap-siap untuk salat dulu”, Zulfikar mengakhiri pembicaraannya dan seolah-olah sang ikhwan tidak bersamanya. Namun Fanny akhwat polos dan berbudi luhur ini belum tahu siapa yang diceritakan Zulfikar.

Pukul dua siang, anak-anak masuk aula. Kali ini materi tentang perang pemikiran. Pematerinya Dr. Reza pembina organisasi. Panitia Madrasah Ramadhan panik yang menjadi moderator belum ada. Semua panitia dan instruktur sudah memiliki kerja untuk mempersiapkan malam renungan dan penutupan.

Ketua panitia menghampiri Fanny yang sedang duduk di ruang Kestari.

“Assalamu’alaikum”.

“Wa’alaikumussalam, ada apa dik”.

“Kak, kakak bisa jadi moderator?”

Lo, kok kakak, memangnya yang lain kemana?”

“Semuanya punya kerja kak”

“Siapa pematerinya dik”

“Bang Reza, kak”

Lo, kan dia ikhwan, seharusnya moderatornya ikhwan juga dik?”

“Tapi kita gak da orang lagi kak?”, wajah sang panitia pun sudah lemas

“Oh, yaudah, kita kondisikan tempatnya”.

“Ok, kak”. ketua panitia beranjak pergi ke aula dan Fanny tanpa persiapan langsung menuju ketempat yang ditunjukkan.

Dr. Reza adalah pria tampan dan shaleh yang dijodohkan dengan Fanny. Reza dan Fanny pun berada dalam satu ruangan. Reza terkejut, kenapa Fanny yang menjadi moderatornya. Namun Reza bersikap seperti biasa. Hati Reza bergetar dan sedikti kurang percaya menyampaikan materi itu. Fanny yang tidak tahu apa-apa tentang perjodohan itu menganggap seperti biasa. Dia menganggap Reza seperti Reza empat tahun yang lalu.

Tiga hari bersama dalam Madrasah Ramadhan, Reza benar-benar sangat memperhatikan Fanny.

“Mungkinkah dia jodohku, bisakah aku hidup dengannya”, Reza bertanya pada keadaan. Fanny adik letting dan hal yang tak mungkin dan tak pernah dibayangkan. Reza anak terakhir dari dua bersaudara tidak mampu menolak permintaan Bunda-nya.

Ramadhan adalah bulan suci semua umat Islam diwajibkan berpuasa dan setelah Ramadhan umat Islam menyambut hari kemenangan yaitu Hari Raya Idul Fitri. Seperti biasanya program organisasi setelah lebaran adalah silaturahmi kerumah kader, baik pembina maupun pengurus.

Lebaran ketiga adalah giliran kerumah Reza. Semua kader ikut silaturahmi. Bunda Reza yang anti dengan kawan-kawan Reza kali ini Bunda sangat bahagia menyambutnya. Saat Fanny masuk rumah, Bunda Reza langsung mencium pipi kiri dan kanan Fanny.

“Silahkan duduk”. Bunda mempersilahkan duduk dan sambil pergi ke dapur mengambil air minum. Reza memandangi Fanny “Diakah tulang rusuk ku” perasaan galau masih menyebar dihatinya.

“Za, dimana kak Reva”. Tanya Yani. Reva adalah kakak Reza, mereka hanya dua bersaudara.

“Kakak lagi keluar tadi”.

Suasana hiruk pikuk seperti pasar, memang sudah menjadi lumrah bila sudah bertemu dan berkumpul seluruh kader. Banyak yang diceritakan dan program-program yang diungkapkan. Fanny gadis solehah dan senyumnya tetap merekah tidak kalah  saling dengan kader yang lain. Dia juga banyak cerita dan dia tidak tahu bahwa pangerannya sudah didepan mata.

Waktupun berlalu dengan sendirinya. Bunda ingin Reza cepat-cepat menikah menanyakan bagaimana keputusannya. —–Bersambung—— [SY]

[highlight]Sang Akhwat (bagian 1)[/highlight]

 

Comments

comments