Opini Sara Sagi Terbaru

Pilpres, Facebook, dan “Politik Bau Kentut”

Naurah dan Pua - Copy (2) (Custom)Oleh : Muhamad Hamka*

Pemilihan umum presiden (Pilpres) tanggal 9 Juli mendatang mewartakan banyak kisah. Pertarungan antara pasangan Prabowo Subianto Mangunkusumo-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-HM. Yusuf Kalla menawarkan aroma persaingan yang seru, penuh kompetetif dan unpredictable. Kenapa dikatakan unpredictable, karena pertarungan ini hanya dijalankan oleh dua paket capres-cawapres yang notabene punya popularitas dan elektabilitas yang saling berkejaran.

Pilpres yang dipastikan hanya berlangsung satu putaran membuat kedua capres/cawapres ini dan tim sukses/pemenangan memutar otak, mengatur strategi, hingga meramu taktik yang tepat dalam memenangkan pertarungan seru nan menegangkan ini. Berbeda dengan pilpres 2004 yang di ikuti oleh empat pasang capres-cawapres dan pemilu 2009 yang di ikuti oleh tiga pasang capres-cawapres, pilpres kali hanya diikuti oleh dua pasang capres/cawapres. Itu artinya, siapa yang paling banyak mendapatkan suara pada pilpres 9 Juli mendatang, maka ia akan keluar sebagai pemenang, sekalipun hanya dengan selisih satu suara.

Sehingga tak heran begitu selesai deklarasi, kedua paket ini langsung membentuk tim pemenangan/sukses nasional. Pasangan Joko Widodo-HM Yusuf Kalla mendapuk Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, SH sebagai Ketua Tim Sukses Nasional. Sementara pasangan Prabowo Subianto Mangunkusumo-Hatta Rajasa memercayakan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mohammad Mahfud MD sebagai Ketua Tim Pemenangan Nasional. Beberapa tokoh dan politikus nasional pun di dapuk dalam tim  sukses/pemenangan nasional ini.

Di kubu Jokowi-JK otomatis sudah ada Megawati, Surya Palloh, Muhaimin Iskandar dan Wiranto selaku Ketua Umum empat partai pengusung. Selain ke empat tokoh diatas, untuk menyebut beberapa nama di kubu ini ada Sidharto Danusubroto, Ketua MPR, KH. Hasyim Muzadi mantan Ketua Umum PBNU, Soetrisno Bachir mantan Ketua Umum PAN, Khofifah Indar Parawansa mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur dan As’ad Said Ali, Wakil Ketua Umum PBNU.

Di Tim Pemenangan Jokowi-JK ini juga di isi oleh beberapa Jenderal purnawirawan, sebutlah Jenderal TNI (Purn) AM. Hendropriyono, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan mantan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan GOLKAR yang membelot dari kebijakan partai yang mendukung Prabowo-Hatta, Jenderal TNI (Purn) Facrul Razi, Laksamana (Purn) Tedjo Edi, dan Letjen TNI (Purn) Farid Zainuddin. Di Tim Sukses Jokowi-JK ini juga di isi oleh beberapa tokoh Muhamadiyah, seperti intelektual Islam Abdul Munir Mulkhan dan Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Imam Addaraqutni (Sumber: tribunnews.com).

Sementara itu di kubu Prabowo-Hatta juga di isi oleh pelbagai tokoh dan politikus nasional terkemuka. Sebutlah, Ir. Akbar Tanjung mantan Ketua DPR RI, M. Amien Rais mantan Ketua MPR RI, KH. Maimun Zubair ketua Dewan Syuro PPP, Ustadz Hilmi Aminudin Ketua Majelis Syuro PKS, Menkokesra Agung Laksono, Ketua DPR Marzuki Alie, Hidayat Nur Wahid, Prof. Muladi serta tiga tokoh nasional asal Sulawesi; Prof. Ryaas Rasyid, Theo L Sambuaga dan Fadel Muhammad dan satu tokoh nasional Aceh, Azwar Abubakar.

Tak mau kalah dengan kubu Jokowi-JK yang memasang beberapa punawirawan Jenderal di timnya, Prabowo yang juga mantan Pangkostrad ini mendapuk beberapa orang purnawirawan Jenderal di Tim Pemenangannya. Sebutlah, Jenderal (Purn) Joko Santoso, Jenderal (Purn) Farouk Muhammad, Letjen (Purn) Yunus Yusfiah, Letjen (Purn) Syarwan Hamid, Jenderal (Purn) George Toisutta, Mayjen (Purn) Syamsir Siregar dan sebagainya. Di Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Hatta ini juga ada Sugiono, pria kelahiran Takengon yang di dapuk sebagai Direktur Strategi (Sumber: jaringnews.com).

Setelah di bentuk, tim sukses/pemenangan ini tentunya akan bekerja mengatur strategi dan meracik taktik guna ‘menaklukan’ hati pemilih. Maka, dunia (nyata) politik Indonesia pun di dominasi oleh isu tunggal, pilpres. Namun, isu pilpres tak kalah gaungnya di dunia ‘permayaan’ atau istilah kerenya dunia maya (dumay).

Kalau di dunia (nyata) perpolitikan Indonesia, tim sukses/pemenangan mulai bergerilya menebar isu dan wacana serta membangun, memperkuat, dan meluaskan jaringan, bahkan saling hujat dan fitnah pun sudah mulai dimainkan oleh tim. Maka di dunia maya tak kalah serunya bahkan lebih vulgar. Kampanye, baik yang positif maupun negative berseliweran tiada henti, khususnya di Facebook. Facebook menjadi panggung kampanye yang tak terkontrol.

Di Facebook, setiap orang bisa menulis status sesuka hati. Di momen Pilpres sekarang, status hampir mayoritas orang yang melek politik berkisar antara Jokowi dan Prabowo, di selingi oleh Hatta Rajasa dan Yusuf Kalla serta partai pendukung. Kampanye, baik yang positif maupun negatif silih berganti hadir ‘menguliti’ Prabowo Subianto dan Joko Widodo.

Ironisnya, status-status yang di dominasi (kampanye negatif/hitam) ini di buat oleh orang yang bukan tim sukses dari kedua capres, memang ada beberapa orang yang bisa di katakan sebagai tim sukses. Status yang dibuat tersebut menjadi ramai di kolom komentar karena para Facebookers saling berbalas komentar. Komentar-komentar yang muncul pun beragam, mulai dari komentar yang arif dan santun hingga yang ekstrim (hujatan dan caci-maki). Facebook yang sebelumnya dijadikan ruang untuk membangun silaturahim, di masa pemilu presiden (pilpres) berubah menjadi ajang saling menjatuhkan, menghujat dan memfitnah.

Bahkan ada kawan Saya di Facebook yang statusnya melulu membunuh karakter salah satu capres. Dalam amatan dan analisa Saya, sebagaian besar status yang di buat hanya berisi fitnah belaka. Padahal kawan ini setahu Saya bukan tim sukses. Hanya karena membenci sebuah partai yang bukan sebuah kebetulan mendukung salah seorang capres, capres tersebut ikut ia hajar dengan statusnya yang penuh fitnah. Akibat status-statusnya tersebut terjadi efek domino oleh karena munculnya komentar-komentar yang saling memfitnah, menghujat dan menjatuhkan.

Akibat dari status-status yang tak terkontrol di Facebook, ruang silahturahim pun menjadi terganggu. Bahkan, tak jarang akibat status dan saling berbalas komentar di Facebook banyak perkawanan menjadi renggang dan persaudaraan yang menjadi luntur. Sementara kedua capres-cawapres santai-santai saja di Jakarta sana. Inilah yang menurut hemat Saya di katakan sebagai ‘politik bau kentut.’

Politik bau kentut’ ala Facebook ini menyisakan keperihatinan yang mendalam. Pasalnya, para Facebookers yang boleh dikatakan hampir sebagian besar bukan tim sukses/pemenangan yang sudah pasti tak akan mendapatkan apa-apa kalau capres yang di dukungnya terpilih. Para Facebookers ini hampir mayoritas adalah masyarakat umum yang justru oleh para elite politik di Ibukota Negara sana dikategorikan sebagai rakyat jelata, akar rumput, wong cilik serta sebutan diskriminatif lainnya; justru saling ‘memangsa’ dengan ‘politik bau kentut.’ Sehingga jangan heran kalau ‘politik bau kentut’ ini bisa berujung pada keretakan sosial. Saling mengejek, menghujat hingga memfitnah hanya membuat ruang habbluminnas kita menjadi bopeng.

Untuk itu, dengan makin dekatnya bulan suci Ramadan mari kita saling memaafkan. Mari tetap rawat ruang silaturahim kita dengan tidak membuat status dan komentar yang menghujat, memfitnah, dan membunuh karakter capres-cawapres. Karena bagaimanapun, kedua capres-cawapres yang ada sekarang adalah putra terbaik bangsa. Siapapun yang terpilih, suka atau tidak suka ia akan menjadi pemimpin 270 juta lebih warga bangsa ini.

* Warga Takengen/Petani Kopi

Comments

comments